
Aku duduk dengan wajah bertumpu di kedua tanganku yang berada di atas meja. Aku duduk di kursi kantin dengan malas dan wajah frustasi dengan semua cobaan hidupku yang mulai berdatangan. Dulu, bisa dikatakan hidupku berjalan sangat lancar dan teratur.
Saat sekolah SD, SMP, SMA, sampai kuliah aku selalu mendapatkan beasiswa. Ditambah aku selalu masuk ke dalam sekolah-sekolah yang aku inginkan. Dulu aku tidak kaya, aku dirawat oleh kakek dan nenekku dengan semampunya. Namun, kami tak pernah merasakan kelaparan, bahkan kekurangan pakaian atau apapun itu.
Hingga aku juga langsung ditarik dan diundang oleh perusahaan yang benar-benar aku idamkan ini, sampai jadi aku yang sekarang. Namun masalah itu datang saat ini, sampai aku pusing dibuatnya.
"Vale." Melanie kembali berteriak heboh dan duduk di depanku.
"Berita eksklusif." ucapnya semangat sambil menggoyang bahuku.
"Apa?" tanyaku datar.
"Presdir kita ternyata sudah memiliki kekasih. Angela Dortmund, Artis cantik papan atas yang sangat terkenal itu."
"APA?" tanpa sadarbaku berteriak kesal sambil menatap Melanie. Hingga akhirnya aku sadar saat semua mata kini tertuju padaku.
Jadi dia sudah memiliki kekasih, lalu kenapa dia memelukku bahkan menciumku seenak jidatnya? Jika seperti ini, di sini akulah yang menjadi pihak ketiga hubungan mereka. Akulah pelakornya! Damn!
"Kamu marah dengan berita itu?" tanya Melanie menatapku.
"Tentu saja. Dia sudah memiliki kekasih, kenapa masih menciumku sesukanya?" jawabku kesal sambil membayangkan wajahnya yang seketika membuatku emosi.
"Huh... Aku benar-benar penasaran dengan sosok Presdir yang asli." ucap Melan. Kubaringkan kepalaku ke atas meja dengan wajah meratapi nasib kesialanku. Rasanya aku ingin menangis karena kesal dan marah.
"Ahhh... Sudahlah aku tak ingin membahasnya." ucapku malas dan mencoba menghilangkannya dari pikiranku.
"Vale, untuk menghilangkan stress mu, bagaimana jika malam ini kita ke bar?" Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Melanie dengan wajah datarku.
"Setuju." aku tertawa senang dan Melanie ikut tertawa bersamaku. Huh... Malam ini aku akan membuat pikiranku benar-benar hilang ingatan dengan masalah yang ada.
Hilangkan Sean! Hilangkan masalah seseorang masuk ke dalam kamarku! Bagaimanapun juga, aku benar-benar butuh refreshing dari semua ini.
Jangan salah sangka denganku, ini adalah kedua kalinya aku ke bar. Pertama kali saat aku kuliah dan diundang perayaan ultah temanku yang diadakan di bar. Kakek dan nenek sangat protektif jika aku datang ke tempat seperti itu. Mereka selalu melarangku dan aku selalu berfikir, hey, this is Manhattan, who the hell doesn't go to the bar?
Aku tau, mereka mungkin khawatir jika aku mengkonsumsi alkohol lalu mabuk tak karuan dan yang lebih parah dibawa oleh pria hidung belang. Namun sekarang aku akan memuaskan diriku sendiri tanpa sepengetahuan mereka berdua.
***
Setelah pulang bekerja, aku mampir kesebuah butik untuk membeli sepotong mini dress 10 cm di atas lutut, dengan model sabrina. Dress dengan punggung terekspos berwarna hitam dengan tali yang berada di depan dada membuatku terlihat seksi walau tidak terlalu ketat di badan, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhku yang ramping.
__ADS_1
Aku mampir ke Apartemen Melan untuk mandi dan bersiap di sana. Setelah selesai dengan penampilan kami yang seksi, aku dan Melan dengan gembira langsung melaju menuju bar.
Melewati jalanan yang ramai dengan berbagai lampu yang menunjukkan kehidupan kota di malam hari. Menghabiskan 20 menit untuk sampai ke bar yang kami tuju.
"Hey Tom." sapa Melan pada bartender tampan di depan kami. Pria bernama Tom itu tersenyum dan kembali menyapa Melan.
"Kenalin ini Valerie–sahabatku, dan Vale ini Tommy–temanku di sini." ucap Melan memperkenalkan kami.
Tommy mengulurkan tangannya sambil tersenyum, "Hai, Tommy, call me whatever you want!"
"Valerie, just call me Vale." ucapku sambil membalas uluran tangannya.
Aku dan Melan duduk di kursi sambil memesan beberapa racik minuman yang Tom buat. Hingga 15 menit setelah kami duduk, Melanie beranjak dari tempatnya dan berjoget ria di atas dance floor.
Sedangkan aku dan Tom, asik mengobrol sambil tertawa bersama. Namun aku benar-benar tak sadar jika dua gelas benar-benar sudah membuatku mabuk.
Rasa panas di tenggorokan dan di perutku, benar-benar membuatku tak nyaman. Ya, karna aku memang tidak terbiasa dengan alkohol.
Hingga di tengah kesadaranku kurasakan seseorang duduk di sampingku dan mengelus pahaku dengan kurang ajar. Aku menepis tangan pria tersebut dan menatapnya tajam.
"Mau kutemani cantik?"
Namun dengan tubuh sempoyongan aku mencoba terus melangkah dan akhirnya sampai di dance floor. Entah kenapa kakiku membawaku ke sini. Huh... Mabuk memang benar-benar mengerikan.
Brak.
Kudengar bar tiba-tiba berisik dan ribut. Aku yang memang benar-benar setengah sadar karena mabuk, dengan pandangan kurang jelas menatap beberapa pria dengan pakaian hitam menerobos bar dengan kasar.
Hingga muncullah seorang pria yang kelihatan tampan, berjalan ke arahku.
Semakin mendekat dan akhirnya meremang saat melihat Sean berdiri di depanku dengan wajah mengerikannya.
"Kau gadis bodoh." aku mendengar ucapan mengumpatnya, lalu kurasakan tubuhku terangkat di atas pundaknya.
Tubuhku bergelantungan terbalik menghadap punggungnya dan ini berhasil membuatku semakin pusing. Aku hanya pasrah tak dapat melakukan apapun di gendongannya. Hingga akhirnya dia membawaku masuk ke dalam mobilnya.
"Sean."
"Sean."
Author POV
__ADS_1
"Sean."
"Sean."
Setelah Vale mengigau memanggil nama Sean dua kali. Sean menatap gadis di sampingnya dengan wajah lembut. Kepala Vale berbaring nyaman di bahunya dan tangannya membelai rambut Vale dengan halus.
"Sean."
"Apa sayang?" tanya Sean menjawab panggilan Vale yang ke tiga kalinya.
"Pergi dari pikiranku!" Sean terdiam menatap gadis dipelukannya.
"Tidak! Aku mau kamu selalu memikirkanku." ucap Sean menatap Vale lembut. Tangannya tak berhenti mengelus rambut Vale dengan penuh perhatian.
"Mual, aku mual." dan sekarang Valerie merengek semakin menggelayut pada pelukan Sean. Beberapa kali Vale membuka mulutnya seakan ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya, namun tidak ada yang keluar. Sean mencoba mengusap perut Vale naik turun untuk meringankan gejolak di perutnya.
"Sebentar lagi kita sampai." ucap Sean.
Alhasil Vale tenang merasakan elusan lembut itu di perutnya dan semakin memepetkan diri di dekapan Sean.
Sean menggendong tubuh Vale ke dalam kamar gadis tersebut, lalu membaringkannya dengan hati-hati. Ia menutup pintu kamar Vale, lalu berjalan mengambil piyama gadis tersebut.
Menggantinya dengan santai, menghapus riasan wajah Vale dengan lembut. Setelah selesai, Sean membuka bajunya sendiri, sehingga dirinya topless, lalu ikut berbaring di bawah selimut bersama Vale. Ditariknya tubuh Vale ke dalam dekapannya, lalu mengecup kening gadis itu lama.
"Sleep tight honey." ucap Sean setelah mengecup kening Vale dan mencium singkat bibirnya, lalu ikut tidur bersamanya.
Bersambung.....
Hay.. 😆😆
Ketemu lagi samakyu 😘
Gimana part yang ini, udah mulai-mulai ngeh sama semuanya? atau belum? Pasti kalian bertanya-tanya kok si sean bisa masuk kekamarnya si vale gampang banget sih? ☺️
pantengin terus cerita ini sampai semua rahasianya terbongkar. Kalian juga bisa komen menurut kalian apa sih yang terjadi 🤔, jika kalian melihat dari sisi aku sebagai penulis cerita ini. Nanti aku lihat ada yang mendekati nggak tebakan kalian.
jangan lupa share, like, dan komen, jangan kupa tambahkan dalam favorit kalian.
bye.. 😘💕
__ADS_1