The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 77


__ADS_3

Sean menggenggam tangan Vale erat, masuk ke dalam sebuah gedung besar. Sean dan Vale melangkah beriringan ke dalam gedung tersebut.


"Selamat datang Mr. Romanov." Sean mengangguk ke arah seorang wanita yang menghampirinya dengan sopan.


"Silahkan ikuti saya." tambah wanita tersebut melangkah membimbing Sean dan Valerie ke ruangan Laboratorium mereka.


Pintu bening tersebut terbuka, menunjukkan sebuah ruangan Laboratorium luas dan besar dengan penuh alat-alat canggih dan lengkap.


"Selamat datang Mr. Romanov." Sapa seorang pria yang kelihatan masih muda dengan balutan jas putihnya.


"Perkenalkan saya Thomas." ujar pria bernama Thomas tersebut sambil mengulurkan tangan.


Sean membalas uluran tangan pria itu sambil tersenyum sopan. "Sean Romanov."


"Valerie Vasylchenko." ujar Vale ikut berjabat tangan dengan Thomas.


Thomas tersenyum, lalu mengayunkan tangan menyiratkan agar Vale dan Sean mengikutinya.


"Mr. Revano sudah memberitahu saya akan kedatangan anda. Saya yang akan bertanggung jawab dengan penelitian ini." ujar Thomas pada Sean.


Sean mengulurkan kotak yang Valerie bawa pada Thomas. "Mohon bantuan anda dengan cairan ini. Saya tidak tau obat apa ini, tetapi ini disuntikkan oleh seseorang kepada Ibu saya yang koma selama 14 Tahun." ujar Sean.


Thomas membuka kotak tersebut dan menatap sebuah tabung panjang dengan sebuah cairan di dalamnya.



"Baiklah Mr. Romanov. Saya akan mengerjakannya secepat yang saya bisa." ujar Thomas sambil menatap Sean dengan tersenyum hormat.


Sean mengangguk dan Valerie ikut membalas dengan senyuman tipis. "Oh iya, apa di sini ada alat USG?" Thomas mengernyit mendengar pertanyaan Sean.


"Aku harus mengecek kandungan istriku dengan aman." ujar Sean yang sadar dengan tatapan Thomas.


Thomas menganggu paham. "Ada. Dia akan mengantar anda ke ruangan tersebut." ujar Thomas menunjuk wanita yang tadi menunjukkan arah pada mereka saat mereka sampai.


Sean dan Valerie mengangguk dan mengikuti wanita yang ini menuntun mereka masuk lebih dalam ke bangunan tersebut.


Wanita tersebut berhenti di sebuah pintu, membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Sean dan Vale untuk masuk.

__ADS_1


Terlihat seorang wanita duduk di meja kerjanya sambil fokus pada berkas-berkas di depannya. Wanita tersebut yang menyadari kedatangan tamu yang diberitahu Thomas padanya lewat telepon, menyapa kedua pasangan tersebut dengan senyum keakraban.


"Silahkan Mr. Romanov, Mrs. Romanov." sapanya. Vale yang mendengar sapaan Mrs. Romanov padanya memerah malu tak biasa.


"Saya dr. Alina. Kalau begitu, Mrs. Romanov boleh berbaring." ujar dokter tersebut dengan senyum manis.


Valerie berbaring di atas ranjang dengan senyaman mungkin. Dokter tersebut membantu Vale untuk mengangkat baju Vale dan memperlihatkan perut wanita itu.


Dokter tersebut mengoleskan sebuah cairan bening dingin ke atas permukaan perut Vale. Sebuah alat menyentuh perut Vale dan bergerak memutar tak beraturan.


"Bisa dilihat yang seperti gumpalan ini adalah buah hati kalian. Usia kandungan menginjak tiga minggu, kondisi hamil muda sangat rentan keguguran. Setelah dua puluh minggu, kandungan sudah mulai kuat. Sebaiknya anda menjaga pola makan, kesehatan dan pikiran anda." ujar Dokter tersebut. Vale mengangguk sambil tersenyum menatap ke arah layar USG.


Sean menggenggam erat tangan Vale ikut tersenyum gembira. "Semoga lancar hingga proses kelahiran." ujar dokter tersebut tersenyum manis dengan sorot mata hangat.


"Terimakasih Dokter." ujar Valerie.


***


Vale menatap sebuah kertas di tangannya dengan senyum cerah yang tidak luntur sejak tadi dari bibirnya. Sean yang sedang mengendarai mobil, ikut tersenyum sesekali menatap ke arah Vale yang duduk di sebelahnya.


Kertas tersebut adalah foto tes USG kandungannya. Valerie sejak tadi menatap foto tersebut dan mengelusnya dengan jari telunjuknya lembut.


"Uhmm... Dia imut sekali." ujar Vale tersenyum semakin lebar menatap foto tersebut.


Sean tersenyum lucu mendengar jawab Valerie. "Kamu bahkan menghiraukanku sejak tadi, aku cemburu." kata Sean memasang wajah ngambek.


Vale akhirnya menoleh menatap Sean yang fokus pada jalanan dengan wajah ngambek. Sean terlihat sangat lucu memasang wajah seperti itu.


"Kamu cemburu dengan anakmu sendiri yang bahkan belum lahir?" ujar Valerie heran.


"Umm, aku cemburu, apalagi saat dia lahir nanti, dia akan merebut seluruh perhatianmu." ujar Sean.


Valerie terkekeh geli mendengarnya. "Lalu kenapa membuatku hamil kalau begitu?" tanya Vale tak habis pikir.


"Cara terakhir agar kamu tidak bisa lepas dariku." jawab Sean sungguh-sungguh.


Valerie akhirnya tau tujuan Sean malam itu. Pria itu frustasi dan ini adalah jalan terakhirnya.

__ADS_1


"Aku takut kehilanganmu. Aku takut kau terlalu membenciku hingga tak ingin bertemu denganku." ucap Sean dan suasana kini mulai melow.


Valerie terdiam mendengar ungkapan hati Sean. Vale menatap wajah bagian kiri Sean dengan lekat. Valerie merasakan mobil yang mereka kendarai perlahan berhenti di bahu jalan.


Sean menoleh menatap Vale lekat, lalu menggenggam kedua tangan wanitanya tersebut. "Bisakah kita memulai semuanya kembali dari awal?" tanya Sean menatap lembut menusuk ke mata Vale.


Vale terdiam sejenak, saling melempar tatapan dengan Sean sampai ia puas. Valerie mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Sean. "Ayo kita mulai dari awal." ujar Vale sambil tersenyum hangat pada Sean.


Sean ikut tersenyum, lalu meraih kepala Vale mendekat padanya. Menempelkan bibirnya pada bibir ranum Vale yang begitu ia rindukan.


Saling menempel, menyalurkan rasa rindu yang menyengsarakan kedua anak manusia tersebut. Sean melepas cumbuannya dan menatap lembut tepat di mata Vale dengan kening bersentuhan.


Sean tersenyum dibalas senyuman malu oleh Valerie. Sean menjauhkan kepalanya, namun kemudian mendekat kembali mengecup kening Valerie penuh cinta.


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan sebelum mereka menyadarinya." ujar Sean melepas kecupannya, lalu bergerak memajukan persneling.


Valerie mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Sean. Sean melakukan kembali mobilnya di tengah jalanan kota yang tampak sedikit lenggang.


"Aku harus mengatakan ini untuk kelanjutan hubungan kita. Semua kebenaran yang kusimpan, aku harus memberitahu ini padamu." ujar Sean. Valerie menoleh ke arah Sean yang fokus menyetir.


"Aku sudah tidak bisa bergerak bebas lagi. Kakek dan Ayahku pasti meletakkan orang-orangnya dimana-mana untuk mengawasiku. Mereka menjodohkan ku dengan Anna untuk kepentingan bisnis kedua belah pihak keluarga. Kakek dan Ayah sudah mengetahui tentang dirimu dan itu sebabnya aku menerima permintaan mereka untuk bertunangan dengan Anna agar mereka tidak menyentuhmu."


"Selain itu aku sudah memikirkan jalan terbaik. Merebut Romanov jatuh ke dalam tanganku dan mereka tidak bisa lagi berbuat apa-apa dan mengaturku." kata Sean panjang lebar.


"Apa aku harus ikut berperan di depan semua orang bahwa kita tidak pernah mengenal satu sama lain?" tanya Valerie.


"Iya, apa kamu bisa melakukannya?" tanya Sean menatap ke arah Vale singkat, lalu kembali fokus ke jalan.


"Bisa." jawab Vale sambil tersenyum yakin. Sean ikut tersenyum senang mendengar jawaban Valerie.


"Tetapi Anna sudah mengetahui hubungan kita." ujar Valerie mengingat kejadian di hari pesta pertunangan Anna dan Sean. Hari dimana Anna menamparnya.


"Aku tau dan itu karena aku tidak bisa menahan diri." ucap Sean.


"Biar Anna aku yang mengurus." usul Vale menatap Sean yakin.


Sean menoleh sejenak dengan wajah kaget, namun akhirnya tersenyum bangga mendengarnya.

__ADS_1


"Baiklah." jawab Sean mempercayakannya pada Vale.


Bersambung.....


__ADS_2