
"Kita dimana?" tanya Valerie pada Sean.
"Kita di pulau pribadiku." jawab Sean. Vale mengernyit terkejut.
"Ini pulau milikmu? Kamu punya pulau pribadi?" tanya Vale tak percaya.
Sean mengangguk singkat sambil tersenyum melihat ekspresi menggemaskan Valerie.
"Lalu, siapa mereka?" tanya Vale melirik Ben dan Gilbert dengan wajah bingung.
"Mereka sahabatku. Dia Gilbert dan yang itu Ben." ujar Sean memperkenalkan sahabatnya secara singkat, padat dan jelas.
"Aku Valerie." ujar Valerie memperkenalkan diri dengan sopan.
"Kenapa kita disini?" tanya Vale lagi pada Sean.
Sean mengamit tangan Valerie dan menggenggamnya erat. Sean terdiam beberapa saat, membuat Vale menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Aku akan pergi." Vale terdiam.
Valerie menatap Sean lekat dengan mata yang perlahan memerah menahan tangis. Vale langsung memeluk Sean kembali dan menenggelamkan wajahnya di leher pria itu.
Sean membalas memeluk pinggang Vale dan mengelus punggungnya naik turun. Dia sudah membahas hal ini dengan Valerie, dan hari ini hal itu terjadi.
Vale menahan suaranya untuk tidak terisak di dalam pelukan Sean. Tangannya memeluk erat tubuh Sean seakan tidak ingin melepas pergi pria itu.
"Sebentar lagi Kakek, Nenek dan Bibi akan sampai kesini." ujar Sean lagi.
"Jaga diri baik-baik okey." Vale mengangguk singkat tanpa suara.
"Mereka berdua akan tinggal disini bersamamu sampai aku kembali. Mereka akan menjagamu." ujar Sean.
"Bagaimana jika aku merindukanmu? Apa aku bisa menghubungimu?" tanya Valerie.
"Tentu saja." jawab Sean.
Valerie menjauhkan tubuhnya dari Sean untuk menatap pria itu lekat. Sean menatap mata Vale yang memerah menahan tangis.
Sean mengelus pipi Valerie dengan begitu lembut.
"Sebaiknya kalian bermesraan di kamar. Kami tidak suka menonton kemesraan sepasang kekasih saat ini." tembak Gabriel tiba-tiba.
Sean menatap Gabriel tajam, sedangkan yang ditatap mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Sean langsung menggendong Valerie dan membawanya menuju kamar mereka. Sesampainya disana, Sean langsung membaringkan tubuh Valerie lagi.
Sean ikut berbaring disamping Vale. Valerie langsung mencium bibir Sean dengan penuh rasa sedih.
Sean membalas sambil menekan tengkuk Valerie. Valerie meremas baju yang Sean kenakan dengan erat. Lama-lama tangan Vale turun untuk mengelus perut kotak-kotak Sean. Tangan Valerie merambat masuk ke dalam kaos yang Sean gunakan.
Hingga akhirnya berlanjut menuntaskan hasrat mereka yang tiba-tiba meninggi dan membutuhkan satu sama lain.
***
__ADS_1
Valerie berdiri menatap ke arah helikopter yang terparkir di landasan helipad atas rumah ini. Valerie terdiam sambil terus memeluk lengan Sean dengan erat. Disana ada mereka berdua dan Gilbert serta Ben yang mengantar kepergian Sean.
Sean menatap Valerie, lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya. Vale menenggelamkan wajahnya di dada Sean sambil membalas pelukan Sean erat.
"Ingat pesanku, mengerti?" Vale mengangguk.
Sean melepas pelukannya, laku mencium kening Vale lama. "Jaga anak kita selagi aku pergi." ujar Sean sambil mengelus perut buncit Vale.
Vale lagi-lagi mengangguk tanpa suara. "Bagaimana jika aku mengidam nantinya?" tanya Vale tiba-tiba angkat suara.
"Ada Gilbert dan Ben yang akan menurutinya." ujar Sean. Vale menutup mulut tak ingin merungut lagi.
"Seenaknya menyuruh kami." timpal Ben mencibir.
Sean menatap Ben tajam.
"Jika kamu lama kembali, aku akan mencari ayah baru untuk anakku nantinya." ujar Vale menatap Sean tajam.
Sean terkekeh sambil mengacak rambut Vale gemas. "Baiklah, aku tidak akan lama." ujar Sean.
Vale langsung memeluk Sean lagi, melingkarkan tangannya di leher pria itu. Beberapa menit setia dalam posisi tersebut, Vale akhirnya melepaskan pelukannya.
"Aku bisa pergi sekarang Nyonya?" tanya Sean menangkup pipi Valerie dengan satu tangannya.
Vale mengangguk. "Iya." jawabnya singkat dan setengah hati.
Sean mengecup singkat kening Vale, turun ke hidung, lalu ke kedua matanya, ke kedua pipinya, dan terakhir di atas bibir ranum Valerie.
"Jaga istriku baik-baik!" ujar Sean pada Gilbert dan Ben.
"Dia istriku, disini ada darah dagingku." ujar Sean sinis sambil menunjuk perut buncit Vale.
"Belum tentu. Jika kau lama kembali, aku akan merebut posisimu dan anak ini akan memanggilku Papa." ujar Gilbert.
"Aku tidak mau anakku memanggilmu Papa. Aku akan mencari pria lain untuk dijadikan ayahnya, dan tentu itu bukan kamu." timpal Vale cemberut.
Ben tertawa lepas, sedangkan Gilbert memasang wajah datar sambil menenangkan dirinya.
"Aku Papanya, tidak ada pria lain." ujar Sean kesal.
"Iya, kau Papanya. Puas?" ujar Vale yang dibalas anggukan penuh senyum oleh Sean.
"Kalau begitu, aku pergi." ujar Sean, lalu mulai melangkah menjauh ke arah helikopter yang menghembuskan angin yang sangat kencang.
Sean melambai pada Valerie, Gilbert dan Ben. Valerie ikut melambai pada Sean dengan wajah sedih. Sean masuk ke dalam helikopter dan duduk di kursinya dengan nyaman. Setelah duduk, Sean menatap kembali ke arah Vale yang masih senantiasa berdiri hingga helikopter terbang menjauh.
Sean melambai singkat dari dalam helikopter kepada Valerie. Sean melihat Vale mengusap matanya yang memerah menahan tangis sambil melambai padanya.
"Jangan menangis lagi sayang." batin Sean berteriak.
Perlahan-lahan helikopter yang Sean naiki mulai lepas landas dan terbang menjauh. Sean menatap ke arah Vale yang lama-kelamaan semakin mengecil karena ia yang semakin jauh.
"Aku akan kembali secepat mungkin." batin Sean lagi dengan penuh tekat.
__ADS_1
Vale menghapus buliran air matanya, lalu menatap ke arah Ben dan Gilbert yang menatapnya dengan wajah datar.
"Apa?" tanya Vale heran mendapati pandangan itu.
"Ayo turun dari sini." ujar Vale singkat sambil melangkah keluar dari rooftop.
***
Sean membuka pintu besar dihadapannya dengan santai. Gaya berpakaiannya yang formal, membuat Sean berkali-kali lipat lebih tampan dan berwibawa.
Pintu terbuka dan tampaklah sosok Kakek, ayahnya dan beberapa kolega pemegang saham berkumpul rapat.
"Sean." ujar Gregory kaget melihat kedatangan Sean yang tiba-tiba.
"Sean, kami sedang rapat." ujar Pavlo—ayah Sean.
Sean melangkah dengan santai ke dalam ruangan tersebut. "Aku tau. Aku adalah pewaris Romanov Corporation, sudah sewajarnya aku ikut dalam rapat pemegang saham ini." ujar Sean dengan senyum miringnya.
Sean duduk di kursi tengah, jauh berhadapan dengan Gregory—kakeknya yang memimpin rapat. Pavlo tampak duduk di sebelah kanan Gregory.
"Perkenalkan aku Sean Matthew Romanov. Aku pemilik dan pembentuk perusahaan Aliano Inc. Mulai hari ini, aku juga akan berusaha terjun ke dalam Romanov Corp dan memajukannya." ujar Sean memperkenalkan dirinya dengan singkat.
Pemegang saham yang berasal dari berbagai negara menatap ke arah Sean kagum.
Mereka mendengar bagaimana Sean membentuk Aliano Inc dari awal hingga sesukses sekarang. Sean adalah salah satu pengusaha muda yang sukses di dunia.
Namun desas-desus ditengah masyarakat selalu berhembus dan menerpa. Tersebar cerita bahwa Sean adalah anak haram. Sean terlahir dari ketidaksengajaan Ayahnya saat muda. Sean tidak menyangkal. Hal itu memang benar.
"Kenapa anda memutuskan untuk ikut campur dalam Romanov Corp sekarang?" tanya salah satu pemegang saham.
"Kakek dan Ayahku sudah tidak muda lagi. Kakekku sudah seharusnya berbaring dengan nyaman diatas kasurnya dan tidak lagi bekerja. Ia tetap bekerja karena ketidaksanggupan ayahku dalam memegang kendali perusahaan. Kakekku tidak mempercayainya. Jadi, sebagai cucu yang baik, aku disini untuk meringankan beban mereka." ujar Sean menatap ke arah Kakek dan Ayahnya dengan wajah penuh kemenangan.
"Benar. Tuan besar Romanov, anda sudah seharusnya beristirahat." ujar salah satu pemegang saham.
Gregory tersenyum. "Tentu saja. Aku akan menyerahkan seluruh warisanku pada Cucuku setelah ia menikah dengan tunangannya—Annastasia." jawab Gregory.
"Aku sudah sangat tua, sebelum aku mati, aku ingin menimang cicitku." ujar Gregory.
"Tenang saja Kakek, sebentar lagi kau juga akan segera menimang cicitmu." jawab Sean tersenyum manis.
"Disini aku ingin kita semua rapat mengenai pengalihan kepemimpinan." ujar Sean.
"Tidak bisa." timpal Pavlo tiba-tiba.
"Ada apa Ayah?" tanya Sean menatap Pavlo tajam.
"Ayah, seharusnya akulah pemegang pimpinan perusahaan, lalu setelah itu cucumu." ujar Pavlo pada Gregory.
"Ayah, apa kau pantas?" tanya Sean menusuk. Pavlo menatap Sean tajam dengan penuh permusuhan.
"Berhenti!"
Sean menatap ke arah Gregory yang angkat suara. "Keputusanku sudah bulat. Kau harus menikah terlebih dahulu, baru kau dapat memimpin perusahaan." ujar Gregory tak terbantah.
__ADS_1
Sean tersenyum miring. "Menikah? Tentu saja aku akan menikah. Kakek tunggu saja." ujar Sean dengan senyumnya yang terlihat mengerikan.
Bersambung...