The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 54


__ADS_3

Valerie menuruni mobil Aiden dengan senyum manisnya. Setelah makan malam di restoran kesukaan Vale, mereka berdua pulang sesuai dengan janji mereka dengan Kakek.


Valerie tersenyum sambil melambai kecil di depan gerbangnya. Mobil Aiden melaju menjauh dari kawasan rumahnya. Valerie melangkah ke arah pagar, namun langkahnya terhenti saat terdengar suara mobil dari arah berlawanan.


Vale melirik sebentar dan menyadari bahwa mobil Sean akan masuk ke dalam rumah besarnya. Valerie terdiam sekejab hingga menatap mobil tersebut tenggelam di gerbang besarnya.


Apa Anna juga tinggal bersama Sean, sepertinya dirinya dulu? Valerie menggeleng mencoba memusnahkan pertanyaan itu dari pikirannya.


Lagipula mereka akan bertunangan, tinggal bersama tidak ada salahnya. Kalimat itu yang menjawab pertanyaan bodoh Valerie.


Vale membuka gerbangnya dan masuk ke dalam rumahnya.


***


Valerie melempar senyum manis setiap kali para karyawan menyapanya. Valerie memasuki lift yang hanya terdapat dirinya di dalam. Valerie menekan tombol lantai ruangannya dan perlahan-lahan lift mulai tertutup.


Valerie berdiri tegak sambil menunggu, namun Valerie mengernyit takut saat lift sama sekali tak berhenti di tiap lantai. Vale menekan tombol lantai lainnya dengan panik dan berharap lift berhenti.


Vale semakin ketakutan saat lift semakin naik ke atas bahkan melewati lantai ruangannya. Valerie menatap tanda di atas kepalanya. Kemana dia akan dibawa?


Valerie berdiri dengan takut. Dia hanya berdoa agar lift tidak putus dan terjatuh ke bawah. Valerie menekan tombol darurat untuk meminta bantuan.


Vale menegang saat dirinya sampai ke lantai 77. Lantai di mana Sean berada. Pintu lift terbuka sendirinya dan tampaklah sosok Sean berdiri menjulang dihadapannya.


Mata Vale membulat. Valerie menekan tombol penutup lift berkali-kali dan menghindari tatapan Sean padanya.


Sean hanya berdiri diam sambil menatapnya lekat. Tak ada suara yang pria itu keluarkan, dia hanya memandangi Valerie dengan wajah datar.

__ADS_1


Pintu tak mau tertutup dan Vale tak menyerah untuk terus menekan tombol apapun di sana.


Hingga Vale tersentak saat tubuhnya di dorong dengan begitu kuat, bersandar di dinginnya kotak besi tersebut. Vale menatap sosok Sean yang kini menghimpit tubuhnya di dalam kotak besi tersebut.


Pintu lift tertutup dengan sendirinya, namun tidak ada pergerakan apapun lift ini akan turun atau tidak.


Vale mendorong tubuh Sean kuat, memberontak dari kukungan pria itu.


"Lepas! Lepas Sir!" ujar Vale menolak menatap mata tajam Sean. Valerie menunduk sambil terus mendorong tubuh Sean.


Sean tak berkutik seakan tuli, lalu mencengkeram dagu Vale agar menatap ke arahnya.


Vale meringis sakit merasakan cengkraman tangan Sean di dagunya. Namun usaha Sean tak sia-sia, pria itu berhasil membuat Vale menatap matanya.


Sean dan Vale sama-sama diam tak membuka suara sambil saling menatap.


"Lepas Sean! Kita sudah berakhir. Kenapa kau melakukan ini?" ujar Vale marah. Mata Vale memerah menahan tangis, sedangkan Sean masih terdiam.


Sean geram, lalu mencengkeram dagu Vale semakin kuat, lalu mendarat bibirnya di atas bibir Vale. Memangut, membelai kelaparan. Menuangkan segala emosinya di atas bibir Valerie.


Vale menangis, mencoba mendorong tubuh Sean yang begitu mendominasi, menahan rasa sakit di dagunya, serta rasa sakit di hatinya.


Sean yang geram dengan dorongan-dorongan Vale, meraih kedua tangan Valerie dan menahannya di atas kepala dengan satu tangan, tangan melepas pangutannya.


Valerie menutup mulutnya rapat-rapat saat merasa lidah Sean memberontak masuk ke dalam. Sean tak kehabisan akal, menggigit bibir Vale agar gadis di depannya menyerah.


Valerie mencoba menahan sakit di bibirnya dan mempertahankan tekatnya. Namun Sean seperti orang kerasukan dan akhirnya menggigit bibir Vale hingga berdarah.

__ADS_1


Secepat itu pula Sean masuk menerobos menghancurkan tekatnya. Sean ******* kesetanan sambil berperang di dalam sana.


Air mata Vale pun dihiraukan oleh pria itu. Valerie terisak tertahan karena pangutan Sean.


Valerie sudah tak dapat lagi memberontak, tenaganya habis, bahkan berdiri pun ia ditopang oleh tangan Sean.


Hanya air mata yang dapat Valerie keluarkan. Pipinya basah hingga membasahi wajah Sean. Sean tentu saja sadar akan tangis Vale, namun ia diamkan.


Hingga pangutan Sean berubah lembut seakan menenangkannya. Membelai lembut dan mengecupnya dengan kecupan seringan bulu. Lalu melepas pangutannya dan menatap Vale lekat.


Suara tangis Vale terdengar setelah bibir Sean menjauh. Tangis menyesakkan yang gadis itu keluarkan. Sean melepas kedua tangan Vale, namun tangannya yang satu lagi masih memeluk pinggang Vale erat.


Sean mengusap pipi basah Vale dan mengusap bibirnya yang bengkak serta berdarah. Vale mengangkat tangannya menghempas tangan Sean di wajahnya, mendorong pria itu dan menamparnya kuat.


Sean terdiam menerima tamparan Vale, sedangkan Valerie berjongkok sambil menangis kalut.


"Maaf." satu kata itu terlontar dari mulut Sean.


Vale mendongak menatap Sean. Valerie bangkit berdiri, menekan tombol pembuka pintu dan berhasil.


"Keluar!" Vale menunjuk ke luar lift sambil menatap Sean tajam. Katakan Valerie tidak sopan pada atasannya, saat ini yang Vale pikirkan hanya pergi sejauh mungkin dan menghilang.


Sean menatap Vale sekejab dan akhirnya keluar dari dalam lift. Vale menekan tombol lift dan perlahan pintu lift tertutup menyisakan wajah sengsara Sean.


Bersambungg..


Sebenarnya masih mau lanjut ngetik cuman tiba-tiba petir menyerang. Jadinya. Aku up aja.

__ADS_1


Note. : Up next 24/5


Bye..😘


__ADS_2