
Flashback On.
"Berikan surat undangan pekerjaan kepada Valerie Vasylchenko yang Baru saja lulus di Oxford University." ujar Sean kepada CEO yang bekerja di Aliano's Corporation miliknya.
"Baik Tuan."
Satu Minggu Kemudian.
Valerie mulai bekerja di Aliano's Corp sebagai pekerja tetap dengan gaji tinggi. Valerie bahkan tidak menyangka ia akan diterima bekerja di perusahaan besar tersebut dan tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Valerie bekerja dengan giat sebagai anggota baru. Namun satu hal yang membuatnya kesulitan adalah, rumah yang ia dan Kakek-neneknya tinggali sangat jauh dari perusahaan.
Karena itu, Valerie sangat jarang sekali pulang menemui Kakek-Neneknya dan tinggal di apartemen dekat kantor. Valerie bekerja semakin giat mengumpulkan uang agar dapat membeli rumah yang dekat dengan kantor dan tinggal bersama Kakek dan Neneknya bersama-sama.
Satu Tahun kemudian.
Sean menatap ke arah sebuah rumah yang telah ia bangun dengan tatapan bangga.
Seorang pria mendekat dengan kepala menunduk. "Tuan, rumah yang anda minta sudah selesai, selanjutnya bagaimana?" tanya pria tersebut.
"Jual." jawab Sean santai.
Pria yang berada disamping Sean terdiam kaget. "Jual kepadanya." ujar Sean sembari menyerahkan selembar foto perempuan kepada pria disampingnya.
Pria tersebut menerima lembaran foto tersebut dan menatapnya dengan wajah bingung.
"Jual dengan harga murah dan buat dia mau tidak mau harus membeli rumah ini." ujar Sean.
Pria tersebut terdiam, lalu mengangguk paham. "Baik Tuan."
Tiga bulan kemudian.
Valerie membuka pintu rumah yang baru saja ia beli dengan wajah takjub. Kakek dan Neneknya yang berada dibelakang Valerie ikut tersenyum bangga.
"Selamat sayang, akhirnya cita-cita kamu terwujud." ujar Nenek bangga.
Proyek besar pertama yang Valerie pimpin berhasil dengan sangat luar biasa. Proyeknya bahkan diinvestasikan oleh banyak pendana karena sangat menakjubkan. Sejak saat itu, Valerie dipilih oleh pimpinan untuk penaikan jabatan.
Valerie mengangguk dan tersenyum begitu lebar. Hari itu, dimana dia merasa bangga pada dirinya sendiri karena sudah membuat Kakek dan Neneknya tersenyum bahagia melihatnya sukses.
Namun satu hal yang tidak Valerie sadari, ada seseorang dibelakang layar yang selalu memperhatikannya.
Tiga tahun kemudian.
Sean menatap sebuah rumah yang selalu ia pandang dari kejauhan. Hanya berdiri sambil terus menatap ke arah sebuah kamar dengan lampu yang masih menyala.
Sean melangkah ke dalam kamarnya, berjalan menuju meja komputernya dan membuka sebuah kamera pengintai yang ia pasang di kamar tersebut.
Sean menatap lekat seorang gadis yang selalu ia perhatikan sejak dulu sampai sekarang sedang menatap laptopnya dengan seksama. Valerie terlihat sangat fokus mengerjakan pekerjaannya.
Bertahun-tahun ia menunggu dan akhirnya ia dapat menunjukkan diri. Besok adalah hari dimana ia dan Valerie akhirnya akan bertatapan wajah. Sean mengambil alih pimpinan di perusahaannya sendiri yang selama ini sudah dipimpin oleh orang yang ia pekerjakan. Sean menatap layar komputernya yang menunjukkan sosok Valerie yang sedang bekerja.
__ADS_1
Hingga gadis itu selesai dan akhirnya tidur dengan tenang diatas ranjang karena kelelahan.
Sean tersenyum kecil, lalu beranjak keluar dari kamarnya, keluar dari rumahnya.
Melangkah menuju rumah Valerie. Membuka pagar dengan santai, membuka pintu rumah dengan begitu santai karena ia mengetahui seluruh kunci keamanan di rumah gadis itu.
Sean masuk ke dalam kamar gadis itu, berjalan tanpa suara di tengah keremangan kamar.
Berdiri menatap ke arah gadis yang kini tertidur lelap di bawah selimut.
Tanpa berlama-lama, Sean ikut berbaring di dalam selimut, memeluk tubuh Valerie dengan hati-hati. Mencium aroma Valerie yang ternyata begitu memabukkan.
Aroma harum dan menenangkan jiwa. Sean meraih tangan Vale dan menggenggamnya erat. Aroma yang begitu memabukkan membuatnya tak bisa menahan diri.
"You're Mine."
Tanpa sadar Sean malah mengecup kulit leher Valerie yang terekspos, hingga memunculkan ruam merah.
Sean menggeleng menyadarkan diri. Tidak, waktunya bukan sekarang. Sean buru-buru pergi dari sana agar dirinya tidak melakukan lebih dari itu.
Sejak hari itu kisah dua insan tersebut dimulai.
Flashback Off
***
Valerie menatap ke arah Sean dengan wajah melongo. Mendengar cerita masa lalunya dengan Sean yang benar-benar membuatnya tidak percaya. Valerie mengatubkan mulutnya yang terbuka.
"Jadi, kamu kakak laki-laki yang dulu aku bantu?" tanya Vale.
"Serius?" Sean tersenyum, lalu mencubit pelan pipi Vale.
"Serius sayang." jawab Sean penuh kelembutan.
Valerie menggeleng tidak menyangka. "Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal kita bertemu?" tanya Valerie.
"Karena aku tidak ingin memberitahumu." jawab Sean.
"Kenapa?" tanya Vale geregatan dengan jawaban Sean.
"Karena aku tidak ingin kamu melihatku seperti aku di masa lalu. Dulu aku pengecut, aku tidak ingin kamu melihat sisi itu untuk pertama kalinya." ujar Sean. Vale mengernyit.
"Aku ingin sukses dengan usahaku sendiri. Aku harus membuktikannya untuk bisa menarik hati Kakek. Aku ingin kamu melihatku yang sekarang."
"Benar, dan kamu malah menunjukkan sisi berengsekmu untuk pertama kalinya padaku." ucap Vale mengejek dan berhasil membuat Sean terkekeh.
"Jadi, selama ini kamu masuk ke dalam kamarku dengan mudah, karena memang kamu sudah mengenal Kakek?" tanya Vale lagi yang dibalas anggukan oleh Sean.
"Lalu, selama ini kamu yang membantuku?" tanya Vale.
"Kamu bekerja di perusahaanku, karena aku tau kemampuan hebatmu." ujar Sean yang berhasil membuat Vale tersipu malu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan rumah, dan lain-lainnya?" tanya Vale lagi.
"Aku hanya ingin memberikanmu hadiah rumah tersebut karena keberhasilan besar proyek pertamamu." jawab Sean.
Vale terdiam dengan pandangan mata melembut. Vale menatap Sean dengan wajah berbinar. Valerie dengan cepat melempar diri ke dekapan Sean dan Sean dengan sigap menangkap tubuh Valerie.
Sea mengusap punggung Vale naik turun dengan begitu lembut. Valerie memeluk erat tubuh Sean seakan Sean akan pergi jauh. Vale menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Sean.
"Don't leave me." ujar Vale putus asa. Sean tersenyum.
"Aku tidak akan pergi, kamu satu-satunya tujuanku." jawab Sean yang berhasil membuat Vale semakin jatuh sangat dalam pada Sean.
Hingga dadanya terasa sakit hanya dengan memikirkan ketika Sean pergi menjauh dari hidupnya.
"I Love you." desis Vale.
"I Love you too." jawab Sean sambil mengecup pelipis Vale.
Valerie tersenyum lebar dibalik pelukannya, begitupula Sean. Sean berharap waktu bisa berhenti saat itu, dimana hanya ada dia dan Valerie dan tidak ada orang-orang yang berusaha memisahkan mereka.
***
Sean melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan senyuman tipis. Setelah pergi dari Apartemen Valerie, Sean datang ke kantornya.
Sean membuka pintunya dan terpampanglah kedua pria yang begitu ia kenal.
"Long time no see Brother."
Terlihat dua orang pria duduk di sofa ruangan Sean dengan santai. Ben dan Gilbert, sahabat Sean sejak mereka merintis karir bersama saat kuliah. Sean melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan santai.
"Bagaimana dengan gadismu itu?" tanya Ben menggoda Sean.
"Aku dengar kau bertunangan dengan Annastasia Petrova dan akan segera menikah dengannya." tambah Gilbert.
"Maaf kami tidak bisa hadir diacara pertunanganmu karena masalah pekerjaan. Tetapi dihari pernikahanmu nanti, kami pastikan akan hadir."
Sean menggeleng. "Aku juga tidak berharap kalian datang di acara sampah itu." ujar Sean kesal.
Gilbert dan Ben mengernyit heran. "Apa kalian dijodohkan?" tanya Ben.
Sean mengangguk. "Aku harus bisa merebut Romanov jika ingin hidup bebas tanpa tekanan Ayah dan Kakek." ujar Sean.
"Apa karena gadis itu?" tanya Ben lagi yang dibalas anggukan singkat okeh Sean.
"Kau yakin? Ingat, Kakekmu sangat cerdik! Gadis itu bisa saja dalam bahaya." tambah Gilbert mengingatkan.
Sean terdiam. Tentu saja dia tau bagaimana Kakek dan Ayahnya selalu mengarahkan hidupnya seusai yang mereka inginkan. Sean bukan Boneka dan alat pewaris kekayaan. Sean tidak butuh marga itu jika ia hanya dijadikan sebagai alat.
Jika Kakeknya memiliki rencana B, tentu saja Sean memiliki rencana C dan D. Dia begitu mengenal Kakeknya dan cara orang tua itu bekerja.
Kali ini Sean tidak ingin lagi diperalat dengan sukarela. Waktunya Sean melepaskan diri dan bebas.
__ADS_1
"Aku butuh bantuan kalian."
Bersambung....