The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 32


__ADS_3

Akhirnya Sean Update.


Tekan tombol likenya dulu dong.


Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.


~Selamat membaca~


***


Melanie melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lobi. Matanya mengedar mencari sosok pria yang telah menunggunya. Di sana, berdiri seorang pria tampan dengan tampilan casualnya.


Melanie melangkah mendekatinya dengan senyum manis di bibirnya.


"Kak Jovan." Jovan menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan mendapati Melan yang berjalan ke arahnya dengan tersenyum.


Melanie berhenti tepat di hadapan Jovan. "Di mana Valerie?" tanya Jovan.


"Vale di ruangannya." jawab Melanie yang di balas anggukan paham oleh Jovan.


"Yasudah, tolong antarkan aku ke ruangan bos kalian!" ucap Jovan yang du balas anggukan antusias Melan.


Melan menuntun Jovan ke sebuah lift dan menaikinya. Hingga sampai ke lantai 77, di mana ruangan Presdir berada.


Ting...


Lift berdenting yang artinya mereka sudah sampai. Melan melangkah lebih dulu dan berhenti tepat di meja Brenda sang Sekretaris.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Brenda sinis.


"Seseorang ingin bertemu dengan Mr. Aliano." jawab Melan santai.


"Mr. Aliano bukanlah orang yang mudah di temui apalagi orang sembarangan seperti kalian." ucap Brenda dengan tampang merendah.

__ADS_1


"Memangnya kalian sudah membuat janji dengan Mr. Aliano?" tanya Brenda lagi.


"Katakan saja Jovan Andriant Bennedict ingin menemuinya." ucap Jovan tiba-tiba.


Melanie menoleh heran menatap Jovan. Brenda tersenyum sinis, namun menatap Jovan dengan pandangan nakalnya.


"Tunggu sebentar!" ucap Brenda.


Brenda melangkah ke arah pintu mewah yang berada di sana. Mengetuknya beberapa kali, hingga akhirnya ia masuk tertelan pintu.


Tak sampai lima menit, Brenda ke luar dari sana dengan wajah hormatnya.


"Silahkan masuk Mr. Bennedict!" ucap Brenda sopan.


Jovan dengan wajah datarnya melangkah meninggalkan Brenda setelah berpamitan dengan Melanie.


Melanie menatap Brenda kesal saat melihat Brenda masih memperhatikan Jovan dengan wajah nakalnya.


"Dasar jalang." desis Melanie yang masih terdengar oleh Brenda.


***


Jovan masuk ke dalam ruangan tersebut dan di sambut oleh tampang kelelahan Sean. Sean tampak duduk di atas sofa dengan wajah tertekuk.


Jovan mengambil duduk berhadapan dengan pria itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Sean tiba-tiba. Jovan yang seakan mengerti hanya diam sejenak.


"Dia terlihat sama sepertimu saat ini." jawab Jovan. Sean mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk dan menatap ke arah Jovan.


"Di mana dia sekarang? Apa di ruangannya?" tanya Sean lagi.


"Ya." jawab Jovan lagi.

__ADS_1


Sean membuang nafasnya lelah. Wajahnya tampak kusut dan pundaknya tampak lemah. Jovan menatap pria itu lekat dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Jovan tiba-tiba. Sean mengangguk menatap pria di depannya.


"Kupikir kau tidak serius dengan ucapanmu saat terakhir kali kita bertemu." ucap Jovan lagi. Sean terkekeh.


"Kau bisa melihatnya sekarang. Betapa frustasinya aku di karenakan dia." ucap Sean dengan kekehan kecil dari mulutnya.


"Aku bisa melihatnya. Perjuanganmu selama ini, setelah orang tuanya meninggal." ucap Jovan lagi.


"Kau bahkan menunggu selama ini untuk bertemu dengannya di waktu yang tepat." tambah Jovan lagi.


"Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dari dia? Bukankah mengatakan semuanya akan memperlancar dan menyelesaikan semua ini." ucap Jovan lagi dengan wajah menuntut.


Sean menunduk lesu. "Tidak semudah yang kau pikirkan Jo. Aku menyembunyikan ini semua hanya untuknya. Agar dia tetap baik-baik saja." jawab Sean dengan wajah sedihnya.


"Tetapi dia berhak tau Sean. Dengan begitu kalian bisa berjuang bersama-sama." tambah Jovan geram.


"Aku tidak ingin mereka menyakitinya. Dua satu-satunya alasan aku hidup." jawab Sean lagi sambil menatap Jovan lekat.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Jovan.


Sean terdiam dan kembali menundukkan kepalanya.


"Aku akan mengikuti permainan mereka, hingga akhirnya aku membalas semuanya." ucap Sean dengan mata tajamnya. Jovan menatap Sean tak setuju namun ia tak bisa melakukan apapun. Akhirnya Jovan mendesah pasrah.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Valerie akan melakukan apa yang ingin dia lakukan." ucap Jovan dingin sambil bangkit berdiri.


"Jangan sampai kehilangannya hanya karena rencana bodohmu ini." Tambah Jovan lagi hingga akhirnya melangkah ke luar dari ruangan Sean dengan santai.


Bersambung....


Level penasaran kalian udah sampai mana?

__ADS_1


Vote dan like ya.


Bye.... 😘💕


__ADS_2