The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 67


__ADS_3

Valerie berdiri diam di depan pintu besar yang tak asing baginya. Vale menarik nafas sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


Tiga kali ketukan, hingga terdengar suara yang begitu ia kenal menyuruhnya untuk masuk. Vale membuka pintu tersebut dan masuk dengan menundukkan kepala.


"Sir memanggil saya?" tanya Vale dengan sikap profesional, layaknya bos dan bawahan.


"Iya." jawab Sean seadanya. Namun jawaban singkat itu malah membuat hatinya semakin tidak tenang. Nada yang dingin itu seakan ingin membuatnya membeku.


Vale meneguk ludah gugup. "Ada apa Sir?" tanya Vale lagi.


"Ms. Vasylchenko, anda tidak merasa bersalah sama sekali?" tanya Sean yang kini menatap Valerie dengan tajam menusuk.


Vale menggigit bibir bingung. Dia berbuat kesalahan apa? "Saya salah apa Sir?" tanya Vale merasa tidak bersalah.


"Anda tidak masuk selama hampir dua minggu tanpa keterangan apapun." Vale menganga terkejut. Diakan sudah keluar dari perusahaan, oleh karena itu dia tidak datang bekerja.


Vale menutup mulut sambil mencibir kesal. Jelas-jelas pria di depannya itu mengetahui dengan jelas alasan ia keluar. Vale rasanya ingin mencekik Sean sekarang juga.


"Anda tau dengan jelas mengapa saya tidak masuk Sir." ujar Vale berusaha menahan emosi dan bersikap sesopan mungkin.


"Surat pengunduran anda bahkan belum saya setujui, bagaimana bisa anda dengan seenaknya keluar begitu saja." ujar Sean duduk dengan tenang di kursinya sambil memasang wajah menantang.


Vale membuang nafas kesal. Memangnya dia butuh persetujuan pria itu untuk keluar dari kantor? Jelas-jelas HRD sudah menyetujui.


"Setau saya, saya tidak membutuhkan persetujuan Presiden Direktur untuk surat pengunduran diri saya." ujar Valerie memasang senyum manis, walau tak seiring dengan kata-kata tajamnya.


Sean sekilas tampak tersenyum miring melihat tingkah lucu Vale, namun sayang Vale tidak menyadarinya.


"Saya baru mengetahui sifat asli anda yang satu ini." ujar Sean yang berhasil membuat Vale mendengus pelan.


Pria ini bermain sandiwara di depannya. "Jago juga aktingnya." batin Vale kesal.


"Sifat apa yang baru Mr. Romanov ketahui dari saya?" pancing Vale dengan nada mengejek.


Sean menatap Vale lekat, sedangkan Vale yang dipandangi, berdiri risih menerima tatapan pria itu yang seakan menelanjanginya.

__ADS_1


"Saya baru menyadari ternyata anda semenggemaskan ini." ujar Sean yang berhasil membuat pipi Vale memerah seketika.


Vale berdiri kikuk, tak tau harus mengatakan apa. Rasanya banyak kupu-kupu kini berterbangan di perutnya. Vale menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam permainan pria di depannya ini.


"A...anda mengalihkan topik pembicaraan kita." ujar Vale dengan wajah gugup yang begitu kentara.


Sean dapat melihat jelas semburat merah di pipi Vale yang menandakan, Valerie malu.


"Anda yang bertanya lebih dulu kepada saya, saya hanya menjawab pertanyaan anda." ujar Sean singkat.


Vale menatap Sean yang kini memasang wajah puas karena berhasil mempermainkannya. Vale menggeram kesal. Pasti akan dia balas.


"Jadi anda ingin saya bagaimana?" tanya Vale kesal, tak tahan harus berada di ruangan ini dengan Sean lebih lama lagi.


"Saya harus memberikan anda hukuman." ujar Sean. Vale lagi-lagi mendengus.


"Hukuman apa?" tanya Vale. Ia ingin segera keluar dari sini.


"Lembur selama satu minggu tanpa tambahan gaji." ujar Sean yang berhasil membuat Vale semakin kesal padanya.


"Baiklah. Saya permisi." ujar Vale, lalu keluar dari Sena dengan raut wajah geram, kesal, marah, bercampur aduk menjadi satu.


Sean tersenyum lebar melihat pintu ruangannya yang ditutup kasar oleh Valerie. Wanita itu, hampir saja membuat Sean tidak bisa menahan diri untuk berdiri dan langsung memeluknya.


Melihatnya saja dengan jarak sedekat ini, rasanya tidak cukup untuk Sean. Satu-satunya cara, dia harus menyelesaikan ini semua dengan cepat.


Tiba-tiba ponsel milik Sean berdering, menunjukkan nama Zein, dokter pribadi yang mengurus Ibunya. Sean menerima panggilan tersebut, lalu meletakkannya tepat di telinganya.


"Hallo Zein, ada kabar apa?" tanya Sean langsung to the point.


"Sean, sepertinya selama ini kecurigaanku benar."


"Kecurigaan apa?" tanya Sean langsung merasa ada yang tidak beres dengan Ibunya.


"Ini tentang Ibumu. Semalam, aku mengunjungi bangsal sebelum aku pulang, untuk mengecek keadaan Ibumu seperti biasanya. Semuanya normal dan aku akhirnya pulang ke apartemen. Ternyata ponselku tertinggal di bangsal Ibumu dan akhirnya aku putar balik. Sampai di sana, aku melihat seseorang dengan pakaian perawat keluar dari ruangan Ibumu. Aku mengejarnya, tetapi aku kalah cepat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lift."

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ibuku?" tanya Sean khawatir.


"Sepertinya dia memasukkan sebuah cairan ke dalam selang infus. Aku langsung menggantinya dengan yg baru." ujar Zein.


"Baguslah. Tetapi bagaimana cara dia masuk ke dalam ruangan itu?" tanya Sean bingung. Ruang rawat Ibunya dilengkapi dengan alat keamanan canggih. Hanya orang-orang yang sudah ditentukan saja yang bisa masuk ke dalam. Dan satu-satunya cara untuk masuk ke dalam adalah kartu khusus ruangan tersebut.


"Aku juga tidak tau." ujat Zein yang ikut kebingungan.


"Kau melihat wajahnya?" tanya Sean.


"Tidak, dia memakai masker." jawab Zein.


"Rekaman CCTV?" tanya Sean lagi.


"CCTV tidak merekam peristiwa itu. Dan lagi, saat aku meminta rekaman beberapa minggu sebelumnya, penjaga itu tidak ingin memberitahuku." ujar Zein.


Rumah sakit itu adalah milik Romanov. Rumah sakit terbesar di Rusia itu adalah milik Kakeknya. Yang bisa melakukan ini semua, hanya dia. Kakek dan Ayahnya dalang dibalik ini semua. Sean yakin itu.


"Kau bisa mencari tau cairan apa itu?" tanya Sean pada Zein.


"Aku akan mencari tau, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya di rumah sakit ini. Sejujurnya, aku merasa ada yang aneh di rumah sakit ini." ujar Zein. Sean tau itu. Memang ada yang aneh di sana. Semuanya berada dibawah kekuasaan kakeknya.


"Baiklah, kirim sampel cairan tersebut ke New York. Aku akan menelitinya di sini." ujar Sean.


"Baiklah." jawab Zein.


"Tolong jaga Ibuku."


"Tenang saja." ujar Zein dari seberang sana dan akhirnya panggilan telepon tersebut berakhir.


Sean meletakkan ponselnya, lalu melipat tangan di depan wajahnya dengan mata tajam. Apa yang sudah diperbuat oleh Kakek dan Ayahnya, ternyata melebihi ekspektasinya. Kakek dan Ayahnya sudah merencanakan ini semua sejak lama dan mungkin masih banyak hal yang belum Sean tau apa yang sudah mereka rencanakan.


Bersambung...


Maaf aku telat up, jadinya hari ini aku Up dua Chapter sekaligus ya😊😊

__ADS_1


__ADS_2