
Sean Update.
Like dan Vote.
Join my grup chat.
***
Valerie menatap jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Valerie siap dengan gaun sebetis berwarna merahnya. Valerie tidak tau ini akan menjadi makan malam formal atau tidak, sehingga ia memutuskan memakai gaun yang dapat digunakan saya formal dan tidak.
Valerie meraih hells cream dengan hak tak terlalu tinggi, lalu meraih clutch bag cream senada dengan hellsnya. Vale menggerai rambutnya indahnya dan mengcurly rambutnya dengan natural. Ditambah polesan make-up naturalnya dengan lipstik peach.
Suara ketukan pintu menginterupsi menyadarkan Vale. "Nona, seorang pria bernama Aiden menunggu Nona di bawah." ujar Bibi dari luar.
"Iya bi." balas Vale sambil berteriak sedang.
Valerie memastikan penampilannya sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menemui Aiden di ruang tamu.
Tampak Aiden dengan pakaian formalnya, duduk di sofa bersama Jovan dan Kakek.
Aiden menatap ke arah Vale saat menyadari kedatangan gadis itu. Aiden tampak tersenyum menatap Valerie yang begitu cantik malam ini.
Valerie dapat melihat senyum Aiden dan ikut tersenyum padanya. Valerie melangkah mendekati ketiga pria di sana.
"Kamu mau makan malam Vale?" tanya Kakek.
"Iya Kek." jawab Valerie.
"Kakek sudah mengatakan jam berapa kamu harus sudah sampai ke rumah padanya." ujar kakek sambil melirik Aiden. Aiden tersenyum pada Vale yang ikut menatapnya.
"Yaudah Vale pergi dulu ya." ujar Vale. Vale ingin cepat-cepat pergi karena ia tahu Kakeknya sangat overprotektif tentang dirinya.
Valerie menarik Aiden dari sana. "Kami permisi Kek." ujar Aiden menatap kakek Vale sambil tersenyum, lalu tersenyum pada Jovan yang sejak tadi menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Bye Kek, bye kak." teriak Vale sambil melangkah beriringan dengan Aiden.
Aiden membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Valerie masuk. Setelah Vale masuk, Aiden segera masuk ke dalam kursi pengemudi.
Aiden menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Valerie melirik ke arah Aiden gugup.
"Eum... Kita akan makan di mana?" tanya Vale sambil menggigit bibirnya.
__ADS_1
Aiden melirik ke arah Vale sebentar, lalu tersenyum dan kembali menatap jalan.
"Kamu akan tau nanti." ucap Aiden. Vale mengangguk paham, lalu terdiam. Hening. Tak ada yang membuka suara hingga mereka sampai ke tujuan.
Aiden turun lebih dulu dan membukakan pintu Valerie. Vale tersenyum singkat, lalu turun dari mobil. Aiden menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas Valet, lalu menggandeng Vale ke dalam sebuah Restoran mewah.
Tampak seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan nama pada Aiden. Aiden menjawab, lalu pelayan tersebut menuntun kami ke ruang VVIP yang sudah dipesan oleh Aiden.
Hanya terdapat satu meja dan sepasang kursi di sana dengan dekorasi mewah dan balkon dengan pemandangan bulan penuhnya.
Aiden menarik kursi untuk diduduki oleh Vale. Hanya mereka berdua di sana dan Vale tidak terlalu suka yang seperti ini. Vale lebih menikmati makan bersama dengan orang-orang lainnya. Valerie dapat melihat karakteristik setiap orang yang ia lihat.
"Kamu suka?" tanya Aiden. Valerie tersenyum kaku dan menganggukkan kepalanya.
"Suka." jawab Vale dengan senyum manisnya. Walau sejujurnya ia berbohong, dia tidak ingin Aiden merasa sakit hati. Aiden tampak tersenyum senang mendengar jawaban Valerie.
Hingga pintu ruangan mereka dibuka dan menunjukkan sosok pria paruh baya dengan wajah takut dan berkerut khawatir.
Pria paruh baya tersebut melangkah ke arah Aiden dan Vale dengan wajah ragu.
"Permisi Mr. Zachary. Saya adalah Will pemilik Restoran." ujar Pria tersebut.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Anda memesan ruang VVIP pada manager restoran, namun ruang VVIP sudah dipesan lebih dulu." ujar Will dengan keringat bercucuran di keningnya.
"Apa maksud anda? Saya memesannya sejak pagi dan pihak Manager mengatakan bahwa VVIP kosong malam ini." ucap Aiden tak suka. Vale dapat melihat wajah Aiden menahan amarah.
"Maaf Mr. Zachary. Ini salah pihak kami dan telah terjadi miss komunikasi. Seseorang memesannya malam ini melewati saya." ujar Will dengan kepala menunduk bersalah.
"Aku tidak ingin tau masalah kalian, ini adalah kesalahan kalian dan aku tidak ingin pergi dari sini. Aku bisa menuntutmu Mr. Will." ujar Aiden marah. Urat-urat tangan Aiden keluar saat pria itu mengepalkan tangannya.
"Maaf Mr. Zachary tapi..." ucapan Will dipotong oleh bunyi pintu yang terbuka.
Aiden dan Vale menatap ke arah pintu dan terkejut melihat sosok yang muncul dari balik sana.
Berdiri sosok Sean dan tunangannya Anna yang memeluk lengan Sean mesra. Valerie baru sadar dunia sesempit ini. Atau jangan-jangan Sean memang sengaja melakukan ini pada mereka.
"Ada apa ini Mr. Will?" tanya Sean dengan raut wajah heran.
"Maaf Mr. Romanov saya sedang mengurus hal ini." ujar Will sambil membungkuk hormat pada Sean.
Vale mengerti sekarang. Sean adalah sosok serakah dan egois. Apapun yang dia inginkan harus ada digenggamannya. Tentu saja Will akan tunduk pada Sean. Vale tidak tau jika Sean akan sampai seburuk ini.
__ADS_1
"Jadi anda yang memesannya Mr. Romanov?" tanya Aiden dengan tatapan tak suka. Sean dan Anna melangkah mendekati mereka dan akhirnya sampai dihadapannya.
"Aku sudah memesan VVIP hari ini pada Mr. Will." ujar Sean dingin. Valerie tak ingin menatap pria itu. Dia tak ingin menatap sosok yang begitu ia benci.
"Ada apa Sean?" tanya Anna heran.
"Maaf Ms. Petrova, terjadi kesalahpahaman di sini." ujar Will takut.
Anna mencoba memahami kejadian di depannya dan dengan cepat menyadarinya.
"Kalau begitu, kita bisa bergabung di sini saja. Double date, terdengar bagus, benar kan Sean?" ucap Anna sambil tersenyum singkat pada Aiden dan melirik Sean dengan senyum menawannya.
"Kalau tidak ada yang ingin mengalah, apa boleh buat." jawab Sean dengan nada sombongnya.
Valerie mengepalkan tangannya di bawah meja, dia tidak tahan berlama-lama di sini apalagi berhadapan dengan dua orang yang sangat tidak ingin ia temui.
"Terimakasih Ms. Petrova." ujar Will lega sambil menunduk hormat.
Vale bangkit berdiri sambil meraih clutch bagnya, lalu menggenggam tangan Aiden erat. Rahang Sean mengeras melihat tindakan tiba-tiba Valerie.
"Aiden, kita bisa makan di restoran kesukaanku. Bukankah malam ini seharusnya hanya kita berdua saja? Lagipula, Mr. Romanov dan Ms. Petrova pasti akan lebih nyaman berdua. Kita mengalah saja." ujar Vale sambil tersenyum lembut pada Aiden yang masih menahan amarah.
Valerie mengelus tangan Aiden yang masih terkepal untuk menenangkan pria itu. Aiden menatap Valerie lekat dan tatapannya kian melembut melihat binar mata Valerie.
Aiden mendesah pasrah, lalu ikut bangkit berdiri. "Aku tidak tau sistem Restoranmu seburuk ini." ejek Aiden kesal pada Will.
"Maaf Mr. Zachary saya akan mengganti kerugian anda." ucap Will.
"Sudah Aiden kita pergi saja." ucap Valerie lembut. Aiden menatap Valerie dengan tatapan lembutnya, lalu mengangguk.
"Anda bisa menggunakan ruangan ini sepuasnya Mr. Romanov, Ms. Petrova. Kami permisi." Sean terdiam tak menjawab. Valerie menunduk tanpa melihat mereka dan melangkah melewati kedua pasangan tersebut dalam diam.
Melewati Sean seakan tidak pernah mengenal pria itu dalam hidupnya.
Bersambung...
kalian puas melihat Sean menderita??? Ayok kita buat dia lebih menderita lagiπΌ
Next : next up 21/5
bye...π
__ADS_1