
Valerie duduk manis di atas sofa ruangan Sean sambil memakan anggur di atas meja. Valerie dengan seksama mendengar setiap penjelasan Sean mengenai obat yang disuntikkan pada tubuh Ibunya.
"Kamu sudah punya rencana untuk membawa Ibumu ke negara ini?" tanya Valerie setelah Sean selesai menjelaskan.
Sean menggeleng. "Sulit. Rusia adalah negara kekuasaan Kakek dan Ayah." ujar Sean.
"Bukankah sekarang kamu Romanov?" tanya Valerie menatap Sean heran.
"Aku memang Romanov, tetapi semua aset mereka belum jatuh ke tanganku." ujar Sean.
Valerie mengangguk paham. Sean tidak bisa bertindak gegabah sebelum semua aset Romanov jatuh padanya.
Valerie terdiam mencoba memutar otak untuk memikirkan sesuatu. Hingga sebuah bola lampu terang muncul di atas kepalanya.
"Nikolay." ucap Vale tiba-tiba yang membuat Sean mengernyit bingung.
Valerie duduk tegak dengan wajah tercengang karena ide yang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Kenapa dengan Nikolay?" tanya Sean.
"Kita gunakan hubungan antara Nikolay dan Anna." ujar Valerie menatap Sean lekat.
Sean terdiam masih tidak mengerti. "Foto Anna dan Nikolay di Mall hari itu, kita bisa membuat mereka berdua memihakmu dan berbicara dengan Kakek dan Ayahmu. Jika kamu berbicara langsung dengan Kakek dan Ayahmu, mungkin mereka akan langsung menolak mentah-mentah, tetapi jika Anna ikut bekerja sama denganmu, alur ceritanya mungkin akan berbeda."
Sean menatap Valerie tajam dengan wajah menyimak, lalu menarik nafas paham.
"Tetapi, foto itu belum cukup untuk membuat mereka bekerja sama." ujar Sean.
"Kita buat mereka mau tidak mau harus bekerja sama." ujar Valerie sambil tersenyum miring.
Sean menatap Valerie takjub. "Sebelum itu, kamu bisa mencari tau, apa Nikolay benar-benar sudah pulang ke Rusia?" tanya Vale pada Sean yang dibalas anggukan.
Dan akhirnya, rencana yang disusun oleh Valerie akan segera dimulai. Pertandingan pertama mereka melawan Kakek dan Ayah Sean.
***
Sean melangkah masuk ke dalam sebuah hotel bintang lima dengan pakaian kantornya. Sean dengan santai masuk ke dalam lift, berhenti dilantai 25, keluar dari kotak besi tersebut dan berdiri di sebuah pintu kamar hotel VVIP room, Presidential suite.
Pintu terbuka dan muncullah sosok Nikolay yang menyambut Sean dengan senyum lebar penuh keakraban.
"Sean, lama tidak bertemu." ujar Nikolay memeluk Sean singkat.
Sean ikut tersenyum. "Benar. Anna mengundangmu di acara pertunangan kami dan kau tidak bisa menghadirinya, aku pikir kita bisa bertemu kembali di pesta pertunanganku." ujar Sean. Nikolay tertawa sumbang sambil masuk bersama Sean ke dalam ruangannya.
"Maaf, aku sedang menghadiri rapat kerja sama di Mumbai hari itu." ujar Nikolay.
"Anna memberitahuku." ujar Sean.
"Kenapa kau tidak menghubungiku jika kau ternyata berada di New York sekarang?" tanya Sean menatap Nikolay sambil duduk di sofa yang tersedia.
Nikolay terdiam kaku, mencoba tersenyum, namun terlihat sangat canggung.
"Maaf aku lupa." ujar Nikolay berusaha bersikap seperti biasa, namun terlihat butiran keringat mulai muncul di pelipisnya.
Sean tersenyum memahami. "Anna juga berada di New York dan tinggal di rumahku." ujar Sean basa-basi.
"Oh... Benarkah?" tanya Nikolay memasang wajah kagetnya.
"Kau tidak tau?" tanya Sean mencoba memancing percakapan.
"Tidak. Aku pikir Anna berada di Rusia. Aku datang ke New York untuk berbisnis." ujar Nikolay.
Sean mengangguk-angguk. "Bagaimana jika kita bertiga makan malam bersama?" tanya Sean.
"Malam ini?" tanya Nikolay.
"Terserah, kapanpun kau ada waktu." jawab Sean bergidik bahu.
"Baiklah, aku akan mengabarimu jika ada waktu." ucap Nikolay.
__ADS_1
Nikolay bangkit berdiri dari atas sofa, mata Sean bergerak mengikuti setiap pergerakan Nikolay.
"Aku akan mengambilkan minum." ujar Nikolay yang dibalas anggukan singkat okeh Sean.
Nikolay beranjak pergi dan saat Nikolay tidak terlihat, Sean bangkit dengan berdiri dengan begitu santai.
Sean melangkah menyusuri ruangan tersebut, menuju sebuah lemari besar dengan televisi di tengahnya, serta rak buku di samping kanan dan kirinya.
Sean menempelkan sebuah kamera pengintai kecil di rak tersebut. Melanjutkan langkah ke arah sudut ruangan yang terletak lampu yang berdiri menjulang dan meletakkan kembali kamera di sana.
Sean memutar tubuh dan melangkah kembali ke sofa dan tepat waktu dengan Nikolay yang datang dengan membawa minum.
Nikolay menatap Sean yang tengah berdiri dengan wajah bertanya. Sean yang menyadari raut wajah Nikolaypun dengan cepat memutar otaknya.
"Toilet dimana?" tanya Sean langsung.
Nikolay menunjuk ke arah dalam. "Disana."
Sean mengangguk dan melangkah ke arah toilet tanpa suara dengan wajah santai. Nikolay duduk di sofa sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Sean melangkah menyusuri setiap pintu yang ia cari. Sean menatap sebuah pintu mewah dan dengan penuh keyakinan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sean tersenyum tipis setelah melihat bahwa ini adalah kamar utama. Sean masuk ke dalam kamar tersebut dan tanpa basa-basi meletakkan beberapa kamera tersembunyi di sudut kamar tersebut.
Setelah selesai, dengan begitu lihai dan terampil, Sean meninggalkan tempat kejadian dan berlaku seakan tidak terjadi apapun.
Sean duduk kembali di atas sofa dengan Nikolay dihadapannya.
"Aku harus kembali ke kantor." ujar Sean setelah ia duduk.
"Oh benarkah?" tanya Nikolay basa-basi.
"Sebentar lagi rapat proyek terbaru kami dimulai." jawab Sean.
Nikolay tersenyum mengerti. "Baiklah. Kapan-kapan kita bertiga harus berkumpul sebelum aku kembali ke Rusia." ujar Nikolay.
Nikolay mengangguk. Sean bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Nikolay mengantar sampai pintu dengan sopan.
Sean masuk ke dalam lift dengan senyum kemenangan.
***
Sean masuk ke dalam rumahnya yang cukup lama tidak ia datangi semenjak Anna tinggal di sana.
Anna yang melihat kedatangan Sean dengan semangat menyambut Sean di depan pintu masuk.
"Sean." panggil Anna dengan senyum lebarnya yang penuh kegembiraan.
Sean melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya dan menghiraukan Anna yang berdiri menyambutnya.
"Sean tunggu aku." Anna melangkah mensejajarkan diri dengan Sean yang melangkah ke arah kamar pria itu.
Anna masih memasang wajah tersenyum, lalu mengamit lengan Sean dengan manja.
"Aku merindukanmu. Akhirnya kamu kembali ke rumah juga." ujar Anna.
Sean masih diam melanjutkan langkahnya dan membiarkan Anna bergelayut di lengannya.
Sean berdiri di depan pintu kamarnya dan mengeluarkan kunci kartu kamarnya yang ia simpan dan menggeseknya agar pintu tersebut terbuka.
Semenjak Anna tinggal di sana, beberapa ruangan pribadi di ruamhnya Sean kunci agar aman.
Sean melepas kaitan tangan Anna dan masuk ke dalam kamarnya. Saat Sean ingin menutup pintu kamarnya, dengan sigap Anna menahan.
"Kamu akan bermalam di sini?" tanya Anna kegirangan.
"Ya." Sean menjawab malas dan langsung menutup pintu kamarnya.
Anna berdiri di depan pintu kamar Sean yang terkunci dengan senyum tertahan. Anna meloncat kegirangan sambil menahan diri untuk tidak bersorak.
__ADS_1
"Aku akan menyiapkan makan malam." ujar Anna gembira dan melangkah menyiapkan makan malam untuk Sean.
***
Sean berdiri di balkon kamarnya dengan rambut basah, yang menandakan ia habis mandi.
Sean menatap ke arah rumah Valerie yang tampak gelap tak berpenghuni. Dulu, rumah itu selalu menjadi santapan mata Sean di saat waktu luang dan ia merindukan gadis itu.
Bunyi ketukan pintu terdengar.
"Sean, makan malam sudah siap. Ayo makan bersama." ujar Anna dari luar sana.
Sean tidak menoleh dan masih terdiam beberapa saat. Lalu akhirnya beranjak keluar dari kamarnya.
Sean membuka pintu dan mendapati Anna berdiri dengan wajah penuh harap. Wajah Anna langsung sumringah saat Sean membuka pintunya
"Aku menyiapkan makan malam." ujar Anna.
Sean melangkah tanpa bicara melewati Anna dan melangkah ke arah ruang makan. Anna melangkah mengikuti Sean sampai ke meja makan.
Sean dan Anna duduk dan memakan makan malam mereka dengan penuh keheningan, hanya ada bunyi dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring.
Setelah makan malam selesai, Anna menyediakan sebotol Wine untuk mereka minum. Anna menuang wine ke gelas mereka masing-masing.
Sean tidak bergeming di tempat duduknya. Ia tidak meninggalkan meja makan dan menerima gelas berisi Wine yang diberikan oleh Anna.
Sean menatap ke sekitar dan menemukan ponsel Anna tergeletak di samping wanita itu.
"Aku senang kamu akhirnya pulang." ujar Anna membuka pembicaraan.
"Kau tau Nikolay ada di negara ini?" tanya Sean tiba-tiba yang membuat Anna tersentak.
Anna tersenyum. "Kamu tau Nikolay ada di sini?" tanya Anna balik.
"Aku menghubungi Nikolay dan bertemu dengannya di hotelnya." jawab Sean.
"Oh.. Nikolay menghubungiku dan mengatakan dia datang ke New York." ujar Anna. Sean terdiam dengan wajah datar.
Otak Sean berputar memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan ponsel Anna.
"Kita bertiga harus makan malam bersama sebelum Nikolay kembali." ujar Anna berpura-pura nostalgia.
Sean tersenyum singkat. "Benar." jawabnya.
Sean meneguk Wine yang diberikan Anna sedikit, lalu memasang wajah tidak suka. Sean menatap botol Wine yang berada di atas meja.
"Kenapa Sean? Kamu tidak suka Winenya?" tanya Anna yang yang menyadari perubahan raut Sean.
"Rasanya mengerikan."
"Benarkah? Maaf aku tidak tau Wine apa yang kamu sukai." ucap Anna memasang wajah menyesal.
Sean terdiam sejenak. "Ada Wine khusus di kamarku." ujar Sean.
Mata Anna mencerah. "Aku akan mengambilkannya." ujar Anna semangat, lalu beranjak pergi begitu saja.
Sean tersenyum miring, lalu berdiri dan meraih ponsel Anna. Dengan begitu mudah ia memasukkan password wanita itu dan membuka obrolan Anna dengan Nikolay.
Sean meneliti dengan cermat dan akhirnya menemukan bahwa Anna dan Nikolay akan bertemu kembali esok hari untuk makan malam.
Sean tersenyum kemenangan, lalu meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempat awal dengan begitu rapi.
Anna menuruni tangga dengan botol Wine di tangannya dan raut girangnya. Sedangkan Sean langsung bangkit berdiri dengan wajah datar.Anna yang sampai meja makan menatap heran Sean yang bangkit dari tempat duduknya.
"Aku sudah membawa Winenya." ujar Anna berdiri di depan Sean.
"Aku harus tidur, besok rapat di pagi hari, aku tidak bisa meminum alkohol malam ini." ujar Sean, lalu pergi begitu saja meninggalkan Anna yang berdiri diam dengan wajah lesu.
Bersambung....
__ADS_1