The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 64


__ADS_3

Valerie pindah ke rumah Jovan. Tentu saja tidak bersama Aiden. Pria itu memilih tinggal di rumah orang tuanya, ditambah dia juga merindukan keluarganya.


Sudah tiga hari dia di Rusia. Tinggal dua hari lagi, dia harus kembali ke New York. Vale memutuskan berjalan santai di area tempat tinggalnya dulu. Vale menatap sebuah toko roti yang berdiri di depannya. Toko ini, toko roti keluarganya dulu. Tempat di mana Vale menemani Papa dan Mamanya setiap hari.


Sekarang tempat ini sudah dimiliki oleh orang lain. Kakek dan Nenek menjualnya untuk uang bersekolah dan kebutuhan lainnya. Toko ini masih toko roti, walau bentuknya sudah sedikit berubah. Vale merindukannya.


Aroma roti yang selalu ia hirup setiap hari. Mamanya yang memanggang roti dan Papanya yang sibuk membuat adonan. Vale merindukannya.


Vale memutuskan masuk ke dalam. Terdengar suara bel, setelah Vale membuka pintu tersebut. Toko ini lebih luas dan lebih bagus. Namun yang membuat Vale tercengang adalah, semua dekorasi masih terlihat sama seperti dulu. Meja serta kursi dan beberapa pajangan di toko bahkan masih sama seperti dulu. Toko ini dirawat dengan baik.


"Приветствовать." (Selamat datang.) Vale mengangguk sambil ikut melempar senyum hangat.


Vale melirik ke seluruh roti yang terpajang rapi dan tampak menggiurkan. Valerie duduk di salah satu meja di sana. Meja yang selalu ia duduki bersama Papa dan Mamanya. Vale mengusap meja tersebut dengan senyum tipis.


Vale memesan teh hijau serta beberapa roti untuk pagi harinya yang cerah. Mengenang masa lalu dan menyimpannya dengan baik di kepalanya.


Valerie menikmati tehnya sambil menatap jalanan yang terlihat dari kaca transparan di sampingnya. Melihat orang-orang yang tampak berlalu-lalang dengan kesibukan mereka sendiri.


Ponsel Vale berdering. Vale meraihnya dan mengangkatnya. "Halo."


"Vale, kamu di mana? Aku datang ke Mansion Jovan dan tidak menemukanmu." ujar Aiden di seberang sana.


"Aku sedang jalan-jalan, menikmati hari yang sebentar lagi akan habis." ujar Vale.


"Kamu di mana?" tanya Aiden lagi.


"Aku ada di toko rotiku dulu." jawab Vale. Aiden langsung mematikan telepon begitu saja, membuat Vale mengernyit heran.


"Dasar." rutuk Vale kesal.


Vale kembali menikmati memandangi jalan. Hingga beberapa menit kemudian, muncul sosok Aiden yang masuk ke dalam toko. Pria itu entah bagaimana bisa mengetahui dimana ia berada sekarang.


"Kamu tau tempat ini?" tanya Vale heran. Aiden mengangguk. "Tentu saja." Aiden duduk dihadapan Vale.


"Kalau mau, pesan sendiri ya." ujar Vale sambil tersenyum menggoda. Aiden ikut tersenyum geli melihat tingkah Vale.


"Cepat selesaikan makanmu! Kita lanjut jalan-jalannya." ujar Aiden.


"Ini toko rotiku dulu. Aku, Papa dan Mama setiap harinya sibuk di toko ini. Papa akan sibuk mengulen adonan dan Mama akan sibuk memanggang. Aku sibuk meminum susu dan berjalan-jalan kesana kemari." ujar Vale sambil terkekeh mengingat kenangannya dulu.


"Aku akan pergi bermain siang hari dan pulang sore hari. Tidak penting itu bersalju atau tidak." ujar Vale geli.


"Papa selalu mengatakan suaraku menggemparkan dunia kalau aku berteriak." ujar Vale lagi sambil terkekeh.


Aiden tersenyum mendengarnya. "Memang." batin Aiden membalas perkataan Vale.

__ADS_1


Vale mengaduk tehnya dalam diam. "Semoga Papa dan Mama melihatku sambil tersenyum di atas sana." ujar Vale lagi sambil menatap Aiden lekat. Aiden mengangguk cepat. "Mereka pasti tersenyum." ujar Aiden.


Vale mengangguk sambil ikut tersenyum. Vale bangkit berdiri dan membayar pesanannya.


"Ayo pergi!" ujar Vale pada Aiden.


Aiden mengangguk dan melangkah beriringan dengan Vale. Kedua insan itu berjalan pelan di samping jalan. Melewati tiap bangunan sambil bernostalgia.


Vale melihat sebuah gang sepi di sebelah kirinya, lalu berhenti melangkah. Menatap gang tersebut lekat.


"Ada apa?" tanya Aiden bingung.


"Dulu aku pernah menyelamatkan seorang gelandangan laki-laki yang dihajar oleh beberapa orang yang lebih besar darinya di gang ini." ujar Vale. Aiden memucat mendengarnya. Ternyata Valerie ingat kejadian itu.


"Aku membawanya ke tokoku dan mengobatinya. Sejak saat itu, kakak laki-laki itu selalu datang ke toko roti untuk bertemu denganku. Aku akan pergi membantunya mendapat uang sejak saat itu. Namun, dia tidak pernah memberitahuku namanya. Sekarang, apa yang terjadi padanya? Apa dia masih hidup susah seperti dulu?" ujar Vale panjang lebar sambil menatap lekat gang tersebut.


"Apa kamu juga mengingatku?" tanya Aiden tiba-tiba.


Vale mengernyit, lalu menoleh menatap Aiden bingung. "Maksudnya?" tanya Vale tidak tau apa-apa.


Aiden meraih tangan Vale, menuntunnya ke suatu tempat. Vale hanya diam mengikuti arah tarikan Aiden. Hingga mereka sampai di sebuah taman bermain anak-anak dengan sebuah pohon rindang dengan ayunan.


Vale menatap taman bermain tersebut dalam diam. "Kamu mengingatnya?" tanya Aiden.


"Aku punya teman bernama Will dan kami sering bermain di sini." ujar Vale pada Aiden. Aiden mengangguk.


"Aku Will." ujar Aiden yang berhasil membuat mulut Vale terbuka lebar karena terkejut.


"Kamu Will? Jangan bercanda, nggak lucu, Hahaha." tanya Vale tidak percaya sambil tertawa dan memukul lengan Aiden. Aiden menatap Vale dengan raut tidak terganti. Membuat Vale langsung menghentikan tawanya.


"Beneran?" tanya Vale lagi. Aiden mengangguk santai.


"Aku Aiden William Zachary. Aku dipanggil Will sejak kecil oleh orang tuaku. Aku mulai dipanggil Aiden sejak aku menjadi artis." ujar Aiden. Vale menutup mulutnya tidak menyangka.


Teman masa kecilnya dulu, sekarang menjadi artis top dunia.


Flashback.


Vale kecil melangkah sambil melompat-lompat kecil dengan permen di tangannya.


"Dasar anak cupu."


"Kami tidak bermain dengan anak cupu."


Vale kecil menatap ke sumber suara. Di taman bermain tersebut, seorang anak laki-laki dirundung oleh tiga teman lainnya.

__ADS_1


Vale kecil menatapnya lekat, hingga akhirnya ketiga laki-laki tersebut mulai mendorong-dorong anak laki-laki satu lagi hingga jatuh ke tanah.


Vale kecil tidak bisa tinggal diam. Dia langsung melangkah cepat dengan kaki kecilnya dan berteriak marah.


"DASAR KALIAN NAKAL. JANGAN DORONG-DORONG LAGI!" teriak gadis kecil tersebut dengan wajah marah.


"Kamu gadis kecil bisa apa?" tanya mereka remeh sambil tertawa mengejek.


"VALE TELEPON POLISI YA, BIAR KALIAN DITANGKAP. KALIAN JAHAT UDAH DORONG DIA SAMPAI JATUH." teriak Vale lagi.


"Cih... Ayo pergi! Biarkan dia bersama si cupu." ujar salah satu dari mereka dan akhirnya mereka pergi dari sana.


Vale melangkah mendekati laki-laki yang duduk bersimpuh di tanah. "Kakak, kok nggak ngelawan sih?" tanya Vale kesal mengingat kejadian tadi. Vale membantu anak laki-laki tersebut untuk berdiri.


"Terimakasih." ujar anak laki-laki tersebut.


"Sama-sama." ujar Vale kecil sambil tersenyum manis. Anak laki-laki tersebut ikut tersenyum melihat senyum hangat dan manis milik gadis kecil di depannya itu.


Vale dan bocah laki-laki tersebut duduk di bawah pohon rindang itu bersampingan.


"Kakak mau permen?" tanya Vale sambil mengulurkan sebuah permen tangkai yang baru ia ambil dari tas yang selalu ia bawa kemana-mana.


Bocah laki-laki itu mengangguk dan menerima permen tersebut.


"Nama kakak siapa?" tanya Vale lagi.


"Will." jawabnya singkat, padat dan jelas.


Aiden kecil jelas sangat kaku berbicara dengan orang lain. Teman-temannya selalu merundungnya karena dia tidak banyak bicara dan hanya bisa bergaul dengan buku di sekolah. Karena itu Aiden kecil menjawab Vale dengan sedikit was-was, karena dia belum pernah berteman sebelumnya.


"Kak Will kalau dijahatin balas aja mereka." ujar Vale kesal.


Aiden kecil hanya bisa mengangguk karena tidak tau harus menjawab apa.


"Nama aku Valerie Kak." ujar Vale kecil. Kalau Aiden pendiam dan kaku dengan orang, maka Vale berbanding terbalik dengan Aiden. Gadis kecil itu bahkan memberitahu namanya tanpa ditanya. Dia bahkan merasa langsung akrab dengan orang baru.


"Kalau Kakak mau, Vale bisa jadi teman kakak." ujar Vale kecil sambil melempar senyum lebar pada Aiden kecil.


Kata-kata itulah yang membuat Aiden kecil melihat ada bintang-bintang di sekitar Valerie. Untuk pertama kalinya, dia merasa gembira dan ikut tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, dia memiliki seorang teman di sisinya.


Flashback Off.


Bersambung....


Aku kembali. Akhirnya lega selesai ujian, semoga hasilnya memuaskan juga ya.

__ADS_1


Next Up : dua hari lagi. (28/7)


__ADS_2