
"Lancang sekali kau mengatakan hal itu di acara pertunanganku. Sean adalah milikku. Dia milikku." ujar Anna dengan tampang marah. Vale menatap Anna dengan wajah sedih.
Aiden berdiri di depan Vale untuk melindungi wanita itu. Anna menatap Aiden dengan raut kesal.
"Maaf Ms. Petrova, ini hanya kesalahpahaman." ujar Aiden mencoba menenangkan Anna sebisa mungkin.
"Dia merebut tunanganku. Dia dengan terang-terangan mengatakan hal memalukan itu di pestaku." ujar Anna sambil menunjuk Vale yang berdiri di belakang Aiden dengan wajah marah.
"Kami minta maaf." ujar Aiden dengan raut bersalah. Vale hanya terdiam menunduk tidak tau harus melakukan apa.
"Kurasa kalian harus pergi." ujar Anna dengan raut malas dan tidak suka. Aiden mengangguk dan meraih tangan Valerie.
"Kami pergi." ujar Aiden, lalu pergi dari sana sambil menarik tangan Vale menjauh.
Aiden membawa Vale pergi dari sana, keluar dari hotel besar tersebut. Aiden membawa Vale masuk ke dalam mobilnya. Namun sebelum masuk, Vale memutus kaitan tangan Aiden dan menolak untuk masuk.
"Aku pulang bersama kak Jovan." ujar Vale menolak menatap Aiden. Vale membuka tas tangannya, mencari ponselnya di sana.
"Aku akan mengantarmu ke tempat Jovan." ujar Aiden menatap Vale dengan tatapan mata jengah.
Vale menggeleng tidak setuju. Mencari nama Jovan di kontaknya dan menelpon orang tersebut.
Tidak terjawab. Beberapa kali Vale menelepon kak Jovan dengan penuh harap, namun tidak ada balasan sama sekali. Aiden hanya berdiri diam di tempatnya, menatap Vale dengan sabar.
"Dia mungkin masih di dalam." ujar Aiden. Vale mengusap matanya lelah, lalu menatap Aiden dengan raut sedih.
"Maaf, aku bersikap kekanakan." ujar Vale merasa bersalah.
__ADS_1
"It's okay." jawab Aiden sambil melempar senyum terbaiknya.
Aiden membuka pintu mobilnya, menuntun Vale agar masuk. Vale masuk ke dalam dengan pasrah, lalu diikuti Aiden.
***
Vale membuka matanya perlahan, merasakan cahaya matahari masuk melalui celah gorden yang berterbangan. Vale menatap ke sekelilingnya dan menyadari ia berada di kamar hotelnya.
Vale duduk di atas ranjang, merasakan betapa pegal tubuhnya yang terbalut baju tidur. Mata Vale rasanya bengkak dan sulit terbuka lebar. Vale bangkit dari ranjang, melangkah ke dalam kamar mandi. Vale menatap wajah bengkaknya dalam diam. Vale malu keluar dengan wajah memalukan seperti ini. Di luar sana pasti ada Aiden yang sudah bangun lebih dulu. Vale mengusap wajahnya kesal. Karena kebanyakan menangis, wajah Vale menjadi bengkak dengan mata merahnya.
Vale menarik nafas dalam, memberanikan dirinya untuk keluar dari kamar. Vale mendengar suara sautan alat masak, yang pastinya Aiden sedang memasak sarapan sekarang. Vale melangkah ke arah dapur, menemukan punggung kokoh Aiden yang tampak cocok dengan dapur. Memang benar, pria yang pintar di dapur, tingkat Ketampanannya naik 100 level.
Vale berdiri diam melihat badan belakang Aiden dengan lekat. Aiden masih sibuk dan tidak menyadari keberadaan Vale di sana. Hingga Aiden tiba-tiba menoleh ke belakang dan terkejut melihat keberadaan Vale di sana.
"Sejak kapan?" tanya Aiden sambil mengusap dadanya naik turun.
Aiden melangkah ke arah kulkas yang memang berdekatan dengan tempat Vale berdiri. Aiden membuka pintu kulkas, mengambil sebuah jar dari dalam sana. Vale melangkah mendekati Aiden saat pria itu membawanya tanpa kata.
"Kamu hebat di dapur." ujar Vale menatap Aiden dengan wajah memuji. Aiden hanya membalas dengan senyum manisnya sambil fokus dengan masakannya.
"Sarapan apa?" tanya Vale penasaran.
"Masakan Rusia. Blini dan Bubur Semolina." ujar Aiden sambil meletakkan beberapa potongan Strawberry dan Blueberry di atas bubur tersebut.
Vale menatap bubur tersebut dengan mata memicing, lalu tersenyum lembut. "Dulu Mama selalu memberiku sarapan ini." ujar Vale menatap bubur putih tersebut lekat. Kenangan manis dan indah itu merasuk seketika, membuat dia tersenyum lembut bahagia.
__ADS_1
Aiden terdiam, lalu menatap wajah Vale yang masih asik menatap bubur tersebut.
"Mama selalu bangun lebih awal daripada aku dan Papa. Mama akan memasak sarapan sehat setiap paginya. Aku sampai bosan karena selalu memakan itu. Kalau Mama sibuk memasak, aku akan mengambil permen cokelat diam-diam dan menyimpannya di dalam kamarku, karena Mama hanya mengijinkanku makan cokelat satu kali sehari." ujar Vale panjang lebar masih dengan senyum tipisnya.
"Mereka pergi sangat cepat. Aku bahkan tidak pernah merasakan diantar orang tuaku ke sekolah. Tidak ada orang tua yang datang melihat aku tampil dan juara di sekolah. Bahkan melihatku menikah nantinya. Aku tidak bisa melihat senyum mereka lebih lama dan membanggakan mereka." senyum Vale perlahan memudar dan digantikan raut wajah menahan tangis.
Seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang, harus melewati masa kecilnya dengan tegar. Kakek-Neneknya juga sudah tua dan hanya berharap pada gaji pensiun saja.
Aiden dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya pada wajah Vale, namun tangannya tiba-tiba berhenti di udara entah karena apa. Menggenggam jemarinya erat dengan wajah geram, lalu mengalihkan tangannya pada kepala Vale.
Mengelus kepala gadis itu naik turun dengan lembut. "Mereka melihatmu tumbuh dengan baik di atas sana, pasti mereka bangga mempunyai putri sepertimu." ujar Aiden mengibur Vale. Vale menatap Aiden dan ikut tersenyum, walau matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih." ujar Vale sambil mengusap matanya.
Aiden mengambil botol berisi Kaviar merah dan meletakkannya di atas Blini. Blini adalah panekuk khas Rusia dengan bentuk tipis atau ceper.
Aiden membawa makanan-makanan tersebut ke meja makan. Sedangkan, Vale menyiapkan perasan jeruk untuk diminum.
Vale dan Aiden memakan sarapan mereka sambil berbincang ringan. Tersenyum bahagia, walau hanya melakukan satu hal kecil.
Bersambung...
Aku nggak bermaksud gantungin kalian. Aku sibuk belajar, biar aku bisa fokus sama satu hal. Setidaknya setelah ujian, aku bisa lanjutin cerita tanpa tekanan. Ujian udah mulai dekat, semoga aja aku lulus karena aku juga bukan dari kalangan orang berduit yang bisa masuk universitas swasta. Aku harus berjuang masuk di univ negeri.
Terimakasih.
__ADS_1