
"Tunggu sebentar. Apa maksudnya ini?" tanya Vale yang tiba-tiba angkat suara tidak mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang.
Sean dan Kakeknya menatap ke arah Valerie dengan wajah datar. Valerie menangkup kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah memaksa meminta penjelasan.
"Aku butuh penjelasan disini!" ujar Vale kesal.
"Kakek mengenal Sean? Lamaran apa? Kenapa aku tidak tau?" tanya Vale beruntun dan tak sabar.
"Nenek juga tau?" tanya Vale menatap Neneknya dengan wajah menuntut.
"Biar Kakek yang menceritakannya." ujar Kakeknya sambil menghela nafas bersiap untuk berbicara panjang lebar.
"Sewaktu kamu masuk sekolah menengah atas, tiba-tiba seseorang yang tidak Kakek dan Nenek kenal datang ke rumah lama kita dan dia adalah pria ini."
Flashback On.
Bunyi ketukan pintu membuat seorang wanita tua dengan perlahan berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
"Siapa?" pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki tampan beranjak dewasa yang berdiri di depan rumah mereka.
Nenek Valerie terlihat menatap laki-laki tersebut dengan wajah bingung. "Permisi Nek, perkenalkan nama saya Sean." ujar laki-laki tersebut sambil memasang senyum sopan.
Nenek hanya dapat mengangguk singkat masih dengan wajah penuh tanda tanya. "Kamu siapa?" tanya Nenek.
Sean tersenyum. "Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Nenek dan Kakek, apa saya boleh masuk?" tanya Sean.
Nenek memasang wajah semakin bingung, lalu mengangguk singkat dan membuka pintu semakin lebar, mengisyaratkan agar Sean masuk ke dalam.
Sean masuk ke dalam sambil tersenyum hangat. Duduk di sofa yang tersedia di rumah minimalis tersebut. Nenek pergi untuk memanggil Kakek, meninggalkan Sean yang mengedarkan pandangan untuk melihat seluruh pelosok rumah yang ditinggali oleh Valerie.
Rumah tersebut tidak besar. Perabotannya pun terlihat sudah tua. Terdapat foto-foto Valerie sejak kecil hingga besar yang terpajang di dinding.
"Kamu siapa?" Sean menoleh ke sumber suara dan mendapati Kakek Valerie datang menghampirinya dengan wajah tidak suka.
"Saya Sean kek, teman kecil Valerie." ujar Sean memperkenalkan diri dengan sopan. Kakek dan Nenek Valerie duduk di sofa untuk berbincang dengan Sean.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini? Valerie masih sekolah, dia belum pulang." ujar Kakek dingin.
"Iya saya tau, saya sengaja datang disaat dia tidak ada. Mungkin jika dia melihat saya, dia tidak akan mengenali saya saat ini." ujar Sean.
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kakek tidak ingin berbasa-basi.
"Saya ingin melamar cucu Kakek satu-satunya." ujar Sean to the point tanpa rasa takut.
Kakek Vale tampak marah, lalu memukul sofa dengan emosi. "Apa kamu bilang? Kamu sudah gila? Cucu saya masih sekolah." ujar Kakek Vale dengan penuh amarah.
"Saya tau kek, saya hanya ingin meminta restu dari Kakek dan Nenek. Nanti saat Valerie sudah lulus kuliah dan bekerja, saya yang akan menghampirinya. Untuk saat ini, saya hanya akan mengawasi Valerie dari jauh. Saya akan segera sukses dan menikahi cucu Kakek setelahnya." ujar Sean sungguh-sungguh dengan penuh tekat.
Kakek Vale tentu saja tidak akan semudah itu untuk mengatakan ya. Kakek Valerie bangkit berdiri masih dengan wajah marah. "Pergi dari sini! Jangan datang lagi!" ujar Kakek Vale dingin.
Kakek Vale melangkah pelan meninggalkan ruang tamu. Sean dengan cepat bangkit berdiri dan menatap punggung Kakek Vale lekat.
"Saya tidak akan menyerah." ujar Sean yang berhasil membuat langkah kaki Kakek Valerie terhenti sebentar, namun setelah kembali melangkah pergi.
Sean menunduk sopan pada Nenek Valerie, berpamitan, lalu pergi dari sana.
Namun Sean tidak menyerah semudah itu. Pria itu akan duduk di depan kursi yang tersedia di teras rumah, lalu berbicara sendiri.
"Saya benar-benar mencintai cucu Kakek. Dia menolong saya saat kecil. Saya hampir kehilangan nyawa saat itu jika Valerie tidak datang dan menyelamatkan saya."
Sean berbicara mengenai bagaimana masa kecilnya dengan Valerie dulu. Sean yakin walaupun ia berbicara dari luar rumah, Kakek dan Nenek Valerie pasti mendengarkannya.
Lalu Sean akan pergi dari sana jika jam sudah menunjukkan pukul dimana Valerie akan pulang sekolah.
Berhari-hari Sean datang hanya untuk menceritakan mengalami perasaan tulusnya pada Valerie dari luar rumah. Hingga, satu Minggu berlalu dan Sean kembali lagi datang ke rumah.
Sean duduk di kursi luar yang sering ia duduki, lalu menatap ke arah pekarangan yang selalu ia lihat ketika ia duduk di sana.
Sean tersenyum hangat. Ini hari terakhir ia di New York, besok Sean sudah harus berangkat kembali ke Rusia.
"Hari ini, hari terakhir saya di New York dan hari terakhir saya datang kemari. Besok saya harus berangkat kembali ke Rusia. Saya senang walau hanya satu Minggu berada di negara ini, karena gadis yang saya cintai berada disini. Jujur saya tidak ingin pergi secepat ini, satu Minggu terlaku singkat, namun saya harus segera pergi demi keselamatan Valerie."
__ADS_1
"Walau tidak rela, karena Kakek dan Nenek belum memberikan saya restu, tatapi saya tidak akan menyerah."
Hening. Tidak ada suara. Sean menatap lekat pekarangan dalam diam. Namun beberapa menit kemudian, terdengar gagang pintu berbunyi dan akhirnya pintu terbuka.
Sean menoleh dengan wajah tidak menyangka.
"Masuk!" Kakek Valerie berdiri dengan wajah datar dan menyuruh Sean masuk dengan nada dingin.
Sean tersenyum senang, lalu masuk ke dalam rumah dengan hati gembira.
Kakek, Nenek dan Sean duduk di sofa ruang tamu. Sean duduk sambil meminum teh yang disediakan oleh nenek Valerie.
"Siapa nama lengkap kamu?"
"Sean Matthew Aliano."
"Saya tidak suka kamu selalu datang ke rumah saya dan membuat keributan setiap hari." ujar Kakek yang membuat Sean terdiam.
"Namun saya bisa melihat ketulusan di mata kamu. Saya juga bisa melihat tekad dari apa yang kamu lakukan setiap hari. Saya bisa melihat kamu benar-benar mencintai Valerie, namun saya tidak akan memberikan restu." Sean terdiam.
"Saya mengijinkan kamu mendekati cucu saya, namun pilihan sepenuhnya ada pada Valerie. Kamu bisa mengatakan kamu mencintainya sekarang, belum tentu 10 tahun kemudian. Kamu masih ada banyak untuk membuktikan usaha kamu pada saya." Sean tersenyum senang mendengarnya, laku mengangguk yakin.
"Saya akan tunjukkan pada Kakek dan Nenek."
Flashback Off.
Valerie terdiam mendengar cerita masa lalu yang diceritakan oleh Kakeknya. Dia tercengang tidak menyangka, lalu menatap Sean lekat.
"Kita sudah mengenal sejak kecil?" tanya Valerie tidak menyangka. Sean mengangguk singkat.
Vale menggeleng. "Siapa? Sejak kecil aku berteman dengan banyak orang, tetapi aku yakin tidak punya teman bernama Sean." ujar Valerie yakin.
"Aku akan menceritakannya nanti." ujar Sean menatap Vale lekat.
bersambung......
__ADS_1