The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 26


__ADS_3

**Akhirnya Sean Update.


Tekan tombol likenya dulu dong.


Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi. 😊


~Selamat membaca**~


***


Valerie POV


Aku melangkah keluar dari gerbang besar rumah Sean. Ku balikkan tubuhku menatap ke arah gerbang tersebut dengan wajah sendu. Kutundukkan kepalaku dan kembali meluruskannya.


Aku melangkah menyeberangi jalan untuk sampai ke rumahku. Kutatap gerbang rumahku dan membukanya sendiri.


"Nona." panggil bibi Rain yang tiba-tiba keluar dari rumah karena menyadari suara gerbang yang terbuka.


"Hai Bi." aku melambai ke arah bibi Rain dengan senyum tipis.


"Bukankah Nona pulang tiga hari lagi?" tanya bibi Rain.


"Seharusnya memang begitu. Tetapi semuanya berjalan sangat lancar dan cepat di Paris, sehingga hanya membutuhkan dua hari saja." jawabku.


"Baguslah Nona. Kakek dan Nenek anda sudah sangat merindukan Nona." ucap bibi dengan senyum lebar.


Aku mengangguk. "Tetapi, di mana koper anda Nona? "Tanya bibi yang membuatku berjengit gugup.


"Ehh... Kan Vale nggak bawa koper Bi. Valerie perginya aja tiba-tiba sampai nggak pamit. Semuanya Valerie beli di sana." Ucap Valerie dengan senyum gugupnya. Berusaha semaksimal mungkin untuk kelihatan jujur dan tak tampak seperti akting.


"Ahh.. Iya Bibi lupa." ucap Bibi Rain sambil menepuk keningnya pelan.


Aku membalas dengan kekehan lugu, lalu memasuki rumah sambil menghela nafas lega.


"Nenek-Kakek, Vale pulang." Vale berteriak ke penjuru rumah dan menemukan kakek-neneknya sedang bersantai di atas sofa pijat.


Aku menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan penuh rasa rindu. Namun tersisip rasa sedih di dalam lubuk hatiku yang paling dalam.


Setelah berbincang-bincang ringan dengan kakek dan nenek, aku melangkah  menaiki tangga, menuju ke kamarku.


Kucampakkan tubuhku ke atas ranjang sambil mendesah nafas lelah.


"Huhhh.. "Desahku lelah.

__ADS_1


Kutatap langit-langit kamarku dalam diam. Hingga akhirnya mataku memberat dengan sendirinya dan kegelapan menghampiriku.


***


Tok... Tok... Tok


Keningku berkerut mendengar ketukan pintu yang menganggu tidur siangku. Kulirik jam di dinding yang menunjukkan pukul lima sore.


Aku tertidur sampai se-sore ini?


aku menuruni ranjang dengan keadaan setengah sadar. Aku melangkah pelan dan membuka pintu kamarku.


"Valerie."


Mataku menyipit menyesuaikan pandanganku dan mendapati Melanie yang berdiri di depan kamarku dengan wajah cemberut.


"Melanie."


Melanie memasuki kamarku dengan raut kesal dan duduk di atas ranjangku.


"Kenapa kamu berbohong Vale?" aku mengernyit tak paham mendengar pertanyaannya.


"Bohong apa?" tanyaku heran, lalu ikut duduk di atas ranjang dengan mata sedikit mengantuk.


"Kemana kamu? Presdir Sean juga tidak muncul di kantor selama berhari-hari. Apa yang kau lakukan Vale? "Tanya Melan dengan tatapan tajam menyelidik.


"A... Aku berlibur." jawabku gagap.


"Kemana?" tanyanya kesal.


"Ke Paris."


"VALERIE! BERHENTI MEMBUAT KEBOHONGAN!" aku terjengit kaget mendengar suara teriakan lantangnya. Kuusap dadaku naik turun saking kagetnya.


"Mel, kau membuat gendang telingaku hampir pecah." ucapku kesal dan kini mengusap telingaku yang berdengung.


"Kalau begitu, katakan yang sejujurnya!" ucapnya.


"Huhhh.... Aku di rumah Sean." jawabku setelah membuang nafas pasrah.


"Apa? Sean? Pak bos Sean?" tanya Melan dengan tampang kaget.


"Iya." jawabku malas.

__ADS_1


"Kamu gila ya? Bukannya aku udah bilang jangan bermain api Vale!" ucap Melan dengan wajah marahnya. Aku mendesah kesal.


"Aku tidak bermain api Mel." ucapku frustasi.


"Dia sudah memiliki kekasih Vale. Angela."


"Angela bukan kekasihnya Melan. Dia hanya salah satu jalangnya." ucap Vale kesal. Dia merasa frustasi setiap kali Melan membahas untuk menjauhi Sean.


"Kalau begitu kau juga salah satu jalangnya?" tanya Melan dengan pandangan sengit.


Aku menatap Mel kecewa. Bagaimana dia bisa menuduhku begitu?


"MEL—"


"Dia sudah sering menciummu, dia juga pasti sudah melecehkanmu dengan sentuhan tangannya. Apa kalian juga sudah tidur bersama? Bercinta? Apa dia benar-benar melakukannya karena Cinta? Atau hanya karena nafsu." aku menatap Melan dengan pandangan tak percaya. Sedih, kecewa, juga tertekan sekarang memenuhi diriku.


Benar yang di katakan Melan. Sean memang sudah menciumku dan melecehkanku. Namun pria itu belum meniduriku.


"Sampai kapan kamu akan diam dan tak menolaknya Vale? Sampai dia bosan dan mencampakkanmu begitu?" aku merenggut rambutku frustasi. Dadaku sesak dan nafasku tersengal. Air mataku perlahan turun entah karena apa.


"Ternyata begitu, kau sudah mencintainya. "Ucap Melanie pelan.


Dadaku semakin sakit setelah mendengar ucapan Melan. Bibirku tak bisa mengeluarkan kalimat sangkalan apapun. Apa benar aku sudah mencintai Sean?


Air mataku turun semakin deras. Apa mencintai seseorang sesakit ini? Kuremas dadaku yang semakin sakit.


Melan menatapku sedih dan perlahan menarikku ke dalam pelukannya.


"Dasar bodoh! Sudah kukatakan jauhi pria itu!" ucap Melan sambil mengusap pundakku.


Kepalaku terputar memikirkan setiap kejadian indah dan lucu yang terlewati bersama Sean. Dia Overprotektif dan tak ingin di bantah. Namun sikap manisnya yang membuatku merasa di cintai, telah menjatuhkanku ke dalam pesonanya.


"Tetapi, dia mengatakan dia mencintaiku Mel." ucapku mengingat kata-kata cintanya di pesta waktu itu.


"Jika dia mencintaimu, mengapa dia harus menyembunyikan hubungan kalian? Mengapa dia belum memutuskan hubungannya dengan Angela?"


Aku mendongak melepas diri dari pelukan Melan. Kutatap wajah Melan dengan wajah penuh air mata.


"Lupakan dia Vale! Jauhi dia mulai sekarang! "


Bersambung...


Follow ig @violet_slavny

__ADS_1


Like, share komen dan vote ya😊


__ADS_2