The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 46


__ADS_3

**Sean Up


Like dan Vote**.


***


Valerie membuka matanya lelah. Dengan tak bersemangat, dia melangkah bangun dari tempat tidurnya dan mandi dengan tak bergairah.


Setelah menghabiskan waktu yang tidak lama, Vale sudah selesai berpakaian dan sekarang sedang mematut dirinya di depan cermin.


Valerie menganga kaget melihat wajahnya yang begitu mengerikan. Lingkaran hitam yang begitu jelas dan mata bengkak sembabnya.


"Aku tidak akan bekerja hari ini." ujarnya cepat setelah melihat kondisinya yang begitu menyedihkan.


"Bisa-bisa orang-orang melihatku dan bergosip betapa menyedihkannya aku di buang olehnya." ucapnya kesal dan marah.


Karena pria itu, Valerie susah tidur dan lelah menangis sepanjang malam.


"Namun jika aku tidak masuk bekerja, orang-orang akan berpikir aku tidak masuk karena terpuruk." tambahnya lagi.


"Cih, aku ini memang bukan artis, model, anak bangsawan atau apalah itu. Namun, sejak kecil aku tidak suka di pandang  remeh." Vale memantapkan hatinya untuk datang ke kantor dan bekerja.

__ADS_1


Valerie melangkah ke luar dari kamarnya menuju ruang makan dan sarapan bersama kakek-neneknya dan Jovan.


Valerie mencoba menutupi wajahnya dengan sentuhan make-up fresh dan dengan lapisan blush peach di sekitar pipinya untuk wajahnya yang pucat. Bibirnya juga ia poles dengan lipstik peach yang tampak segar dan sehat.


Valerie berbincang ringan dengan Kakek-nenek dengan senyum lebar, seakan tidak terjadi apapun. Seakan Vale baik-baik saja.


Namun Jovan mengetahui hal itu dan hanya dapat tersenyum tipis melihat tingkah Vale yang tidak ingin membuat kakek-neneknya khawatir.


Kakek-neneknya mungkin tidak mengetahui hal gosip mengenainya di luar sana, karena mereka bukan orang yang suka menonton televisi. Walau wajah Vale sudah banyak terpampang di televisi akibat ulah Sean dan Aiden yang membawanya ke pesta, namun sekarang semuanya sudah selesai.


Sean sudah memberikan keterangan tidak ada hubungan apapun di antara mereka. Maka mereka sudah selesai. Tugas Vale sekarang hanyalah Move on dan mencoba untuk tak mengenal Sean.


Selesai sarapan, Vale berpamitan pergi bekerja pada kakek-neneknya dan Jovan. Vale berangkat dengan mobil kesayangannya.


Vale memasuki kantornya dengan wajah santai. Vale menyapa beberapa karyawan dan tersenyum seperti biasa. Semuanya berjalan lancar sama seperti saat ia belum mengenal Sean.


"Vale." Vale menoleh dan mendapati Melanie dengan Americano di tangannya. Vale melempar senyum pada sahabatnya itu.


Melanie merangkul lengan Vale dengan senyum lebar, sambil melanjutkan langkah mereka. "Make-upmu lumayan berguna." bisik Melan. Vale tersenyum kecut. Melanie benar-benar tidak bisa ditipu.


"Just Move on Vale, kau cantik. Oh iya masih ada Aiden bukan?" ujar Melanie heboh. Valerie dan Melanie masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berhubungan dengan orang-orang yang sering bermunculan di televisi lagi." ucap Vale setelah pintu kotak besi tersebut tertutup.


Hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. "Mengapa? Aiden tampan dan dia menyukaimu." ujar Melanie.


Vale mendesah dan tak menjawab pertanyaan Melanie. Melanie mendengus kesal karena ucapannya tak di balas oleh Valerie. Mereka berdua saling terdiam sejenak hingga akhirnya Melanie membuka suara setelah membuang nafasnya.


"Calon tunangan pria itu, hari ini sampai ke negara ini dari Rusia." ujar Melanie pelan. Vale terdiam dan tak mengatakan apapun. Melanie menoleh ke arah Vale yang tak membuka suara sama sekali.


Vale terdiam dengan wajah lesu. "Ck, seharusnya aku tidak membahas pria itu lagi." decak Melan mengutukki dirinya sendiri. Vale menoleh menatap Melan dan tersenyum tipis.


"He made his choice. He already chose her. You don't have to feel guilty just because of me." ujar Vale. (Dia sudah membuat pilihannya. Dia sudah memilih wanita itu. Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena aku.)


Melanie terdiam lalu tersenyum. "He's a fool to dump a girl like you Vale." ujar Melan. (Dia bodoh membuang wanita seperti dirimu Vale.)


Vale tersenyum membalas ucapan Melan. Hingga, pintu lift terbuka di lantai ruangan Melanie. Melanie ke laut dari lift setelah melambai pada Vale.


"Aku akan ke tempatmu dan kita ke kantin bersama." ujar Melan sebelum pintu lift tertutup. Vale mengangguk dan akhirnya pintu lift tersebut tertutup.


Bersamaan dengan pintu yang tertutup senyum Vale kembali luntur dan tangannya terangkat mencengkeram baju bagian dadanya.


"Aku tidak pernah tau ternyata sebesar ini efek dirimu padaku." ucap Vale lemah dengan tawa sumbang. Terlalu sakit hingga rasanya ia akan hancur.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2