
Aku terbangun di pagi hari yang cerah, karena cahaya yang merambat masuk lewat jendela dan menerpa wajahku.
Kurenggangkan tubuhku sambil menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Hari yang indah, semoga hari ini berjalan dengan lancar.
Kutolehkan kepalaku ke arah nakas dan menemukan ponselku yang kemarin malam aku mainkan terletak rapi di atas meja nakas.
Mataku mengernyit dan tubuhku menegang. Aku jelas mengingat memainkan ponselku ini hingga tertidur bersamanya. Aku memang selalu memiliki kebiasaan buruk memainkan ponsel sampai tertidur. Namun aku sama sekali tak meletakkannya di nakas dan membiarkan ponsel itu ikut tidur di sampingku.
Bibi? Kakek? Nenek? Tidak, mereka tidak akan bisa masuk ke dalam kamarku setelah aku masuk ke sini untuk tidur. Karena aku selalu mengunci kamarku dari dalam. Lagipula, mereka hampir sama sekali tidak pernah masuk ke kamarku saat aku tertidur, karena mereka juga pasti tidur.
Sial, apa jangan-jangan seseorang masuk ke kamarku. Tapi siapa? Dan rumahku ini adalah kawasan elit dengan penjagaan ketat dan sistem rumah yang canggih.
Aku merinding. Apa jangan-jangan ada yang mengawasiku? Kamera tersembunyi? Kepalaku berputar menyusuri kamarku dan mencoba mencari kamera tersembunyi di sana.
Namun 20 menit aku mencari dan tak berhasil menemukan apapun. Aku memutuskan buru-buru mandi dan berangkat ke kantor. Aku tak akan menceritakan ini pada kakek dan nenek. Mereka akan khawatir nantinya. Aku akan menceritakan ini pada Melanie. Ya, hanya dia yang aku punya saat ini.
Setelah sampai di kantor aku buru-buru melangkah menuju ruangan kerja bagian Melanie. Kutatap sosok Melanie yang duduk di kursi kubikelnya sambil sibuk merapikan penampilannya. Aku melangkah cepat ke arahnya, lalu menarik tangannya menuju ruanganku yang lebih tertutup.
"Kamu kenapa sih Vale?" tanyanya dengan raut cemberutnya.
"Udah ikut aku dulu." ucapku sampai akhirnya kami sampai di ruanganku, lalu menutup pintuku dengan rapat.
"Mel, kukira aku tau apa yang terjadi selama ini." ucapku menatapnya dengan mata melebar.
"Apa?" tanyanya excited.
"Sepertinya seseorang memasuki kamarku saat aku tidur." ucapku. Aku kembali meremang mengingat dan mengaitkan apa yang terjadi padaku beberapa hari ini.
"What? Kamu gila ya? Mana mungkin." ucap Melanie tak setuju dengan raut tak percaya.
"Aku juga berpikir begitu. Namun kemarin, jelas-jelas aku tak meletakkan ponselku di nakas dan paginya ponsel itu berada di atas nakas dengan rapi. Kamu tau sendiri aku selalu memainkan ponsel sampai tertidur. Sebelumnya bibirku robek, leherku juga memerah, sepertinya seseorang masuk ke dalam kamarku dan melakukan itu semua." kataku panjang lebar dengan nada frustasi. Aku gelisah bagaimana bisa ini terjadi padaku?
"Lalu siapa yang melakukannya? Pak Bos Sean?" aku tersentak mendengar ucapannya. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Sean yang melakukan ini.
"Kamu kenapa bisa mikir itu?" tanyaku.
"Ya.. Kamu mendapatkan kejadian ini setelah Pak Bos muncul, ditambah dia selalu menciummu padahal kalian tidak saling kenal." jawab Melanie. Aku terperangah dan sedikit membenarkan ucapan masuk akalnya.
"Ahhhhh.... Aku pusing." rutukku frustasi sambil menutup wajahku kesal. Siapa sih orang itu? Dan anehnya, kenapa aku tidak terbangun walau bibirku sudah sobek begitu? Walau aku ini termasuk kebo, aku pasti bangun merasakan sakit yang seperti itu.
Ping.
__ADS_1
Aku meraih ponselku yang berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Kubuka pesan tersebut dengan rasa penasaran.
Datang ke ruanganku sekarang juga! Menolak, kamu tau hukumannya.
Sean
Mataku melotot melihat nama Sean di akhir kalimat. Bagaimana pria itu bisa mengetahui nomor pribadiku? Aku memiliki dua nomor. Satu pribadi dan satu untuk pekerjaan. Dalam data pribadi karyawan, nomor yang aku cantumkan adalah nomor khusus pekerjaanku.
Aku berdecak kesal, sedangkan Melan menatapku bingung.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku harus pergi, kamu kembali ke ruanganmu saja! Bye." aku ke luar lebih dulu meninggalkan Melan yang menatapku heran.
Aku melangkah cepat menuju lift karyawan dan tanpa menekan tombol apapun perlahan lift naik sampai berhenti di lantai 77. Lift juga terbuka dengan sendirinya dan aku keluar dengan raut heran. Seakan semuanya sudah dikendalikan oleh seseorang.
Kulihat Brenda yang berdiri menatapku tajam, namun kuhiraukan begitu saja dan melangkah melewatinya.
"Kau menjual tubuhmu pada Presdir?" tanyanya marah. Langkahku langsung terhenti dan berbalik menatapnya.
"Apa katamu?" tanyaku menatapnya tajam. Dia pikir aku ini pel*cur, menjual tubuhku pada bos-bos besar. Perempuan satu ini benar-benar tidak tau diri. Jelas-jelas dia yang selalu melempar tubuhnya menjadi santapan para pria-pria kaya.
"Kau tuli? Kau menjual tubuhmu dan merayu
Kuremas tanganku kuat dengan hati terbakar. Jangan tanya lagi! Aku benar-benar emosi menghadapi jal*ng di depanku ini. Kutarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba untuk meredakan emosi yang hampir membeludak dalam diriku.
"Aku tidak merayu bahkan menjual tubuhku padanya. Sebaiknya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri!" ucapku dingin lalu berbalik dan lanjut melangkah ke dalam ruangan Presdir. Meninggalkan Brenda yang mungkin sekarang sedang menggeram marah.
"Aku akan membuktikannya jal*ng." kudengar ucapannya, namun tetap berusaha stay cool sebelum masuk ke dalam ruangan Sean.
Tok... Tok... Tok
"Masuk! "
"Ada apa memanggilku?" tanyaku langsung tanpa berbasa-basi. Kulihat dia memutar kursinya ke arahku lalu menatapku lekat.
"Kemarilah!" aku mengernyit curiga. Aku tetap terdiam di tempat sambil menatapnya dengan pikiran melayang. Dia akan melakukan apa sekarang?
"Tidak, kau pasti akan melakukan hal buruk padaku." ucapku menatapnya tajam. Aku terkesiap kaget saat dia tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. Dengan muka waspada, aku memundurkan langkahku perlahan saat ia mulai berjalan mendekatiku.
Hingga akhirnya kurasakan punggungku menabrak daun pintu dan berakhir di dalam kurungan kedua tangannya. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya yang berada cukup dekat denganku. Ya, dia memang tinggi bahkan dengan heels ini pun, aku masih harus sedikit mendongak melihatnya.
__ADS_1
"Kau mau melakukan apa?" tanyaku gugup sambil menelan salivaku. Jujur, dengan jarak sedekat ini, aku jadi lupa caranya bernafas dengan benar.
Mataku membola saat dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Aku sudah merindukanmu secepat ini." bisiknya tepat di telingaku. Kurasakan nafasnya menggelitik leherku dan tangannya melingkar di pinggangku.
Aku mencoba menetralkan kembali saraf-saraf dalam tubuhku yang error, karena setiap perlakuan Sean yang sangat memicu adrenalinku. Namun pikiranku coba menelaah seluruh perkataannya. Setiap kata yang di keluarkan olehnya memiliki arti dan makna tersembunyi yang membuat otakku selalu berputar mencari jawabannya.
"Lepas!" kudorong tubuhnya dan ia melepas pelukannya. Namun matanya kembali menatapku tajam, mengintimidasiku, seakan mengancamku untuk tetap diam. Bulu kudukku bahkan berdiri karena tatapan mengerikannya.
"Bersikaplah menjadi gadis baik, maka akupun akan jauh lebih baik padamu." ucapnya dingin, terkesan tegas dan menuntutku untuk tidak membantah.
"Ja... Jadi sebenarnya kau memanggilku untuk apa?" tanyaku mencoba menghilangkan ketakutan dalam diriku.
"Aku sudah bilang tadi, apa lagi yang kurang jelas" ucapnya.
Aku menghela nafas frustasi. Pria ini semakin membuat masalah hidupku bertambah.
"Hanya itu?" tanyaku menatapnya tak percaya.
"Ya, kau mau yang lain?" tanyanya sambil menatapku miring dengan raut menggoda. Ekspresi wajahnya cepat sekali berubah.
"Yasudah aku pergi." ucapku kesal dan mencoba langsung melenggang ke luar tanpa mempedulikannya. Namun belum sempat aku membuka pintu besar tersebut, tanganku di cekal dan dia kembali menarikku, dan...
Dia menciumku lembut, tak seperti ciumannya yang liar dan kasar seperti hari-hari yang lalu. Dia membelai bibirku lembut dan menuntun dengan penuh kasih. Kurasakan tangannya mengelus leherku naik turun dan tangannya sebelah lagi menarik pinggangku mendekat.
Hingga aku terbuai dalam pangutannya dan tak dapat memberontak karna otakku yang tiba-tiba gagal berfungsi dengan baik. Sean melepas ciuman yang ia mulai dan mengusap bibirku lembut.
"Jangan lupakan bibirku ini! Kamu harus mengingatnya selalu!" aku mendengus kesal, merutuki kenapa bisa-bisanya aku terbuai lagi di pelukan pria ini.
Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan melangkah keluar dengan kaki menghentak kesal. Bibir bodoh! Bisa-bisanya kamu terbuai begitu? Kamu suka di cium olehnya ha? Huhh... Pria itu apa yang sebenarnya dia inginkan?
Bersambung...
Hay.. hay.. hay
Sukak deh Mangatoon udah update version, jadi bisa tambahin gambar kayak gini, buat imajinasi para pembaca 😂
Jangan lupa share, like, komen dan tambah menjadi favorite kalian.
__ADS_1
bye😘💕