The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 76


__ADS_3

Sean membuka sebuah kotak paket yang berada di atas meja kerjanya. Dengan hati-hati, Sean membuka paket tersebut. Sebuah tabung kecil berisi cairan tampak tertidur dengan aman di dalam kotak tersebut.


Sean menutup kembali kotak tersebut dan menyimpannya. Kotak yang dikirimkan Zein padanya sudah sampai, yaitu cairan yang disuntikan pada Ibunya malam itu.


Sean meraih ponselnya dan menelepon seseorang di seberang sana.


"Halo Davin."


"Ada apa?" tanya Davin to the point.


"Aku ingin menguji sesuatu di laboratorium milikmu." ujar Sean to the point.


"Bukankah kau memiliki Laboratoriummu sendiri." ujar Davin.


"Benar, tetapi ada telinga di mana-mana, aku tidak bisa melakukannya di tempatku sendiri." ujar Sean.


"Baiklah, gunakan semaumu." ujar Davin.


"Terimakasih."


Sambungan telepon terputus. Sean meletakkan ponselnya ke atas meja, mulai mengerjakan pekerjaannya dan fokus pada macbooknya.


Hingga suara ketukan pintu terdengar, lalu terbuka sebelum ia menyuruh orang diluar sana masuk.


"Sean." Sean menatap ke arah Anna yang masuk ke ruangannya dengan senyum cerahnya.


"Kenapa?" tanya Sean kembali menarikan jemarinya di atas keypad.


"Aku bosan di rumah terus." ujar Anna manyun sambil berdiri di samping Sean yang asik dengan pekerjaannya.


"Lalu?" tanya Sean dingin.


"Bagaimana kalau kita berlibur ke pantai dan menginap di Villa?" tanya Anna dengan sorot mata cerah.


"Tidak bisa." jawab Sean singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa?"


"Ada proyek besar yang harus aku kerjakan." ujar Sean masih mengetik dengan luwes di atas keypad.


"Tidak libur seharipun? Kamu juga tidak pernah pulang ke rumahmu sendiri semenjak aku tinggal di sana." ujar Anna dengan kesal.


"Bukan urusanmu." jawab Sean.

__ADS_1


"Sean, aku tunanganmu, calon istrimu."


Jemari Sean berhenti bergerak, lalu kepalanya terangkat menatap Anna dengan raut dingin.


"Apa aku pernah mengatakan akan menikahimu?" tanya Sean dengan wajah datar. Rahang Anna mengetat mendengar pertanyaan Sean padanya.


"Keluar!" titah Sean dingin sambil kembali menatap macbooknya.


Tangan Anna mengerat sambil menggigit bibir menahan emosi. "Lihat saja, aku akan membalas rasa sakit ini sama dengan apa yang akan kamu rasakan, bahkan lebih." Anna menghentakkan heelsnya keras ke lantai, lalu pergi dari sana dengan rasa marah.


***


Valerie menggenggam erat tali tasnya dengan wajah gugup. Valerie berdiri di dalam lift dengan wajah tegang dan jantung berdegup kencang. Melanie yang menyadari, langsung menggenggam erat tangan Vale yang mencengkeram tali tasnya.


Valerie menatap ke arah Melanie yang menatapnya dengan penuh keyakinan, menyalurkan kekuatan dari tatapan dan genggaman tangannya. Valerie membuang nafas dan menarik nafas untuk menenangkan jantungnya yang berdegup sangat kencang.


Lift berdenting, pintu besi tersebut perlahan terbuka. Valerie mengangkat kepala dan terkejut melihat Anna yang berdiri di depan lift yang terbuka dengan wajah dingin.


Valerie tanpa sadar menggenggam semakin erat tasnya dengan tangan bergetar. Anna masih berdiri diam dengan tatapan mata tajam menatap menusuk pada Valerie.


Melanie yang mengetahui situasi mencekam diantara keduanya, langsung menarik tangan Valerie keluar dari dalam lift.


"Berhenti!"


Valerie dan Melanie perlahan membalikkan tubuh mereka dengan berusaha bersikap biasa saja.


"Kenapa kalian berdua berada di sini?" tanya Anna tajam dengan tatapan menelisik.


Melanie dan Valerie saling berperang pikiran mencari alasan. "Saya dipanggil Presdir untuk membahas proyek terbaru perusahaan yang ditanggung jawabi oleh saya." jawab Vale sambil menunduk menyembunyikan ekspresi gugupnya.


Anna terdiam menatap kedua wanita di depannya dengan begitu lekat. Beberapa detik terdiam tanpa suara, akhirnya Anna melangkah masuk ke dalam lift dan menatap ke arah Valerie tajam. Pintu lift perlahan tertutup dan akhirnya Vale dan Melanie bernafas lega.


"Kalian untuk apa ke sini?" tanya Brenda yang tiba-tiba berada di belakang mereka dengan nada dingin.


Valerie dan Melanie berbalik dan menatap ke arah Brenda yang memasang wajah tak bersahabat.


"Valerie dipanggil oleh Presdir sekarang juga, kamu masih mau menghalangi dan membuat Presdir menunggu lebih lama?" ujar Melanie ikut memandang Brenda dengan wajah tak bersahabat. Memang mereka berdua selalu saja sinis-sinisan dengan Brenda. Entah kenapa hal itu menjadi kelihatan lucu saja saat dilakukan.


Brenda akhirnya membiarkan Valerie pergi tanpa rasa curiga. Lagipula Valerie memang sudah sangat sering keluar masuk ruangan Presdir. Brenda dan Melanie tinggal berdua di lorong masih dengan wajah dingin mereka.


Valerie melangkah ke arah pintu besar yang tak asing baginya, lalu perlahan mengetuk pintu tersebut.


"Masuk!" Valerie masuk setelah menghitung hitungan ketiga di dalam hatinya.

__ADS_1


Sean menatap ke arah pintu dan terkejut melihat kedatangan Valerie ke ruangannya. Valerie melangkah pelan dengan wajah menunduk.


"Bisa kita bicara di sofa?" tanya Vale ragu dengan hati tidak tenang.


Sean mengangguk, lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa ruangannya. Valerie ikut duduk dihadapan Sean, meletakkan tasnya di sampingnya, lalu mengaitkan tangannya dengan gugup.


Sean memperhatikan semua gerak gerak Valerie. Sean tau ada yang tidak beres dan mengganggu wanitanya itu. Sean menatap Vale lekat, tidak membuka suara dan dengan sabar menunggu Valerie untuk siapa mengatakan semua hal yang mengganjal di hatinya.


"Sean." Vale memanggil lirih nama itu dengan mata tertutup. Sean merasakan sengatan listrik di dadanya, mendengar suara lirih Vale memanggil namanya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu." ujar Vale benar-benar gugup.


Valerie merogoh tasnya, menggenggam sesuatu di dalam tasnya dengan begitu erat. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan benda tersebut dan meletakkannya di meja.


"I'm Pregnant." kata Vale walau sempat tersendat. Valerie meletakkan testpack dengan dua garis di hadapan Sean.


Mata Sean membulat, jantungnya berdetak kencang seperti ingin meledak. Sean meraih alat tersebut dan menatapnya lekat. Valerie menunduk takut sambil memilin tangannya satu sama lain.


"A..Aku tau ini salah. Kamu sudah memiliki Anna, tetapi aku tidak tau harus melakukan apa. Aku takut memberitahunya dengan Kakek." ujar Valerie menatap Sean dengan wajah takut dan khawatir.


Dada Sean terasa terhimpit melihat wajah Valerie yang bukannya bahagia, wanita itu malah menyimpan rasa takut yang mengganggu dirinya.


"Aku harus apa?" tanya Vale menatap Sean dengan mata memanas. Vale dan Sean saling melempar tatapan satu sama lain dengan lekat.


Sean bahagia. Tentu saja ia bahagia, karena itu memang tujuannya sejak awal. Namun melihat Valerie yang begitu sedih membuat Sean merasa bersalah.


Sean masih terdiam duduk di tempatnya sambil menatap Valerie dalam. Sampai akhirnya air mata jatuh membasahi pipi Valerie saat wanita itu berkedip.


Sean bangkit dari tempatnya, melangkah ke arah Vale dan menangkup pipi Valerie dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis sayang!" lirih Sean sambil mengusap pipi basah Vale lembut.


Valerie malah semakin terisak menerima sikap manis Sean. Sikap manis yang selalu Sean berikan padanya dulu.


Sean menangkup wajah Vale agar menatap tepat pada matanya. Air mata Vale masih tidak hentinya menetes dan bibirnya bergetar menahan isakan keluar dari mulutnya.


"Kamu tidak bahagia dengan kehadirannya?" tanya Sean menatap Vale lekat.


Valerie menggeleng dengan bibir bergetar dan menatap Sean lekat. "A.. aku hanya takut hiks." kata Vale terbata.


Sean menatap Vale begitu lembut, lalu mengecup kedua mata Vale bergantian. "Sushh.." Sean membawa Vale ke dalam pelukannya. Mendekap Vale untuk memenangkan wanitanya itu.


Vale tidak menolak, dia malah mendekap punggung Sean dan membenamkan wajahnya di dada bidang Sean. Menangis sepuasnya di dalam dekapan pria itu sampai air matanya tidak ingin keluar lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2