
Setelah memakan sarapan buatan Sean, Valerie langsung mencerca Sean dengan begitu banyak pertanyaan dengan tak sabar.
Sean hanya bisa tersenyum dan tidak menjawab. "Ini masih di meja makan sayang." Vale cemberut.
"Kamu tidak sedang menghindarkan?" tanya Vale mendengus kesal.
"Tidak." jawab Sean santai sambil membawa piring sarapan mereka ke wastafel.
"Biarkan Bibi yang mencuci, kamu ikut aku sekarang!" ujar Vale kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya.
Valerie melangkah ke arah ruang keluarga dan duduk di sofa. Terlihat Ben yang sedang menonton televisi dengan begitu fokus.
Vale mendengus. "Kapan dia pulang?" tanyanya pada Ben.
"Siapa?" tanya Ben balik tanya.
"Ck, Seanlah, siapa lagi." decak Vale.
Ben menggidik bahu tak tau. Vale lagi-lagi mendengus tak puas. Mata Vale menangkap sosok Sean yang berjalan menghampiri dirinya.
Sean duduk di samping Valerie dengan santai. "Dimana orang itu?" tanya Sean pada Ben.
"Siapa?" tanya Ben lagi.
"Artis itu." ujar Sean tak ingin menyebut nama Aiden.
Ben bergidik bahu tahu. "Berhenti bertanya padaku, aku sedang menonton dan kalian menggangguku." ujar Ben yang kini menatap Vale dan Sean kesal.
"Ck." Benpun bangkit berdiri dan meninggalkan dua pasangan tersebut.
Sean dan Vale menatap kepergian Ben dengan wajah tak bersalah. Vale kini menatap Sean lekat.
"Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur! Kenapa kamu tidak mengabariku sebulan terakhir ini? Kamu benar-benar ingin aku mencari ayah baru untuk anak kita ya?" ujar Vale kesal.
Sean tertawa mendengar ucapan Vale dan wajah kesalnya. "Berhenti memasang wajah cemberutmu, bagaimana jika anak kita mengetahui ibunya sangat cerewet saat bertemu dengan ayahnya lagi?" ujar Sean.
"Berhenti mengelak!"
"Aku tidak mengelak sayang. Aku memang sengaja tidak mengabarimu karena itu bagian dari rencana okey." ujar Sean sambil mengelus pipi Vale naik turun.
"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Vale lagi.
"Itu juga bagian dari rencana." jawab Sean.
Vale mendengus. "Tinggal beberapa minggu lagi dia lahir. Aku pikir kamu tidak akan datang." ujar Vale sedih dan menunduk.
Sean langsung membawa Valerie ke dalam dekapannya dan mengecup puncak kepala Vale beberapa kali.
__ADS_1
"Maaf, aku yang salah." ujar Sean sambil mengelus kepala Vale naik turun.
"Lalu bagaimana di Rusia? Apa semuanya sudah selesai?" tanya Vale lagi.
"Hampir, sedikit lagi." jawab Sean.
"Jadi kamu akan pergi lagi?" tanya Vale melepaskan pelukannya dan menatap Sean lekat.
"Iya." jawab Sean jujur.
Mata Vale langsung memanas berkaca-kaca. "Kamu akan meninggalkanku lagi? Hiks, jadi kenapa harus pulang sekarang? Aku benci kamu." ujar Vale marah ditambah menangis sambil memukul dada bidang Sean.
"Aku tidak meninggalkanmu lagi sayang. Aku akan pergi bersamamu kali ini." tangis Vale langsung berhenti dan berganti dengan wajah kaget.
"Benarkah?" tanya Vale tak percaya.
"Benar." jawab Sean.
Vale langsung tersenyum gembira dan kembali memeluk Sean erat. Sean yang mendapati reaksi lucu istrinya hanya bisa tertawa kecil.
"Apa aku akan melahirkan disana juga?" tanya Valerie dalam pelukan Sean.
"Mungkin." jawab Sean.
"Tapi apa keluargamu akan menerima kehadiranku?" tanya Vale lagi dengan nada sedih.
"Kita akan berjuang bersama." ujar Sean.
***
Valerie duduk di samping Sean dengan perlahan. Di sinilah mereka berkumpul, di tengah meja makan. Di sana seluruh penghuni rumah berkumpul untuk makan malam.
Ada Gilbert, Ben, Melanie, Aiden, Kakek, Nenek, dan Bibi serta mereka berdua. Vale sengaja membuat makan malam mewah untuk menyambut kedatangan Sean.
Mereka makan malam dengan tenang sambil berbincang kecil. Setelah makan, mereka masih duduk di kursi meja makan untuk berbincang mengenai sesuatu.
"Kakek-Nenek, aku ingin membawa Vale ke Rusia untuk bertemu keluargaku." ujar Sean angkat bicara.
Kakek Vale masih diam, lalu membuka suara. "Jangan lupa segera nikahi cucuku." ujar Kakek menatap Sean lekat.
"Sudah." jawab Sean.
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kami, sah secara hukum." tambah Sean sambil mengulurkan buku pernikahan mereka kepada Kakek dan Nenek.
"Kau memang selalu berbuat semaumu. Sudahlah, lagipula yang menjalani hubungan adalah kalian." ujar Kakek pasrah.
Valerie tersenyum lebar sambil meraih buku pernikahan mereka. "Wahh." kagum Vale.
__ADS_1
"Kalau begitu tinggal sah dihadapan Tuhan." timpal Gilbert yang diangguki oleh Ben dan Melanie.
"Tentu saja." jawab Sean lagi.
***
Dibantu oleh Sean, Valerie melangkah masuk ke dalam sebuah rumah mewah dihadapannya. Vale mengalungkan tangannya di lengan Sean dan melangkah memasuki rumah tersebut.
"Selamat datang Tuan." sapa para pelayan yang menunggu di depan pintu.
Pintu terbuka, Sean dan Vale melangkah masuk ke dalam rumah dengan design expensive tersebut.
"Kau datang." sapa seorang wanita yang datang mendekati mereka.
Wanita tersebut tersenyum pada Vale dengan lembut. "Kenalkan aku Kendra, kakak tiri Sean." ujar Kendra mengenalkan diri.
"Aku Valerie." ujar Vale kikuk.
"Kau pasti istri Sean kan? Kamu gadis kecil yang mengisi seluruh album fotonya." ujar Kendra.
Vale tertawa kecil. "Welcome adik ipar." ujar Kendra hangat, lalu memeluk Vale.
Vale ikut tersenyum gembira. Permulaan yang bagus, kakak tiri Sean menerimanya dengan tangan terbuka.
"Sudah berapa Minggu?" tanya Kendra menatap perut buncit Vale. "31 Minggu." jawab Vale.
"Wow, adikku memang sangat terburu-buru jika ingin mendapatkan sesuatu." ujar Kendra melirik Sean sebentar. Vale tertawa membenarkan dalam hati. Kendra benar-benar orang yang asik diajak berbincang.
"Hentikan Kendra, istriku tidak boleh berdiri terlalu lama." ucap Sean dingin dengan nada tegas.
"Ck, dasar overprotektif." decak Kendra kesal.
Kendra mengamit tangan Vale dari lengan Sean dan mengalungkan tangan Vale pada lengannya. Mengambil alih Vale dari Sean. "Aku heran mengapa kau bisa bertahan dengannya. Jangan terlalu dekat dengannya, auranya tidak baik untuk bayimu." ujar Kendra sambil mengelus perut buncit Vale dengan senyum manis setelah melempar tatapan sinis pada adik tirinya tersebut. Kendra melangkah beriringan bersama Vale menuju ruang keluarga, menghiraukan Sean di belakang mereka.
Kendra membantu Vale untuk duduk di sofa. "Aku akan memanggil Mommy dan Daddy." ujar Kendra dengan senyum tipisnya, lalu pergi dari sana.
Sean duduk di sebelah Valerie, lalu menggenggam erat tangan Vale yang berada di atas pahanya. Vale menatap Sean dengan wajah khawatir.
Sean mengerti perasaan istrinya saat ini. Sean hanya bisa menggenggam tangan Vale erat seakan menyalurkan kekuatan padanya.
Bunyi hentakan sepatu terdengar. Lama kelamaan suara tersebut semakin dekat dan akhirnya menampilkan dua sosok paruh baya yang menghampiri mereka. Kedua orang itu adalah orang tua Sean.
Vale dapat melihat jelas raut tak suka yang dipancarkan oleh ayah Sean padanya. Valerie sedikit menunduk saat matanya bertemu dengan mata ayah Sean.
Bersambung...
Beberapa Chapter lagi menjelang End.
__ADS_1
Next Chapter : Kamis (18/2)
Vote, Like dan komen yang banyak, Terimakasih 😘