
Valerie tersenyum senang sambil melangkah menyusuri mall. Setelah Jovan dengan cepat datang ke hotel mereka, Valerie langsung mengajak kedua pria itu untuk pergi ke mall.
"Lumayan bisa dibayarin kak Jovan." batin Vale kesenangan.
Vale menoleh ke belakang menatap Jovan dan Aiden yang berjalan beriringan. Jovan sejak tadi memasang wajah datar tak senang pada Aiden. Sedangkan Aiden berusaha masa bodoh dengan hal itu.
Valerie melangkah ke arah butik dan kedua pria itu hanya ikut-ikut saja. Valerie menatap pajangan gaun indah di sana dengan sorot mata kagum. Mulut Vale sampai terbuka lebar karena kagum.
"Kak pilihkan Vale yang bagus dong." ujar Vale menatap Jovan dengan binar mata gembira.
Jovan tampak menelaah seluruh ruangan dengan gaun-gaun indah. "Semuanya bagus." ujar Jovan dengan kening mengerut.
Vale mendecak kesal. Beginilah kalau belanja dengan pria, mereka mana tau apapun tentang selera wanita.
"Coba saja Melanie ada di sini." Vale membuang nafas pasrah, sedangkan Jovan mengernyit tidak tau apa yang terjadi.
Mata Aiden tampak berselancar di sekitar gaun-gaun yang terjuntai indah. Mata Aiden menangkap sebuah gaun panjang berwarna gray silver dengan hiasan batu-batu kristal di sekitar dada.
Dengan tali spageti menyambung hingga ke punggung belakangnya yang polos dengan bentuk menyilang.
Terbuka sih, apa Valerie akan menyukainya?
"Ini bagus." ujar Aiden angkat bicara sambil menunjuk sebuah gaun di Mannequin.
Vale menoleh menatap pilihan Aiden. Mata Vale berbinar. "Bagus." ujar Vale ikut mengagumi pilihan Aiden. Tangan Valerie mengusap kain gaun tersebut yang begitu lembut di tangannya.
"Terlalu terbuka, kakak tidak suka." ujar Jovan tak setuju.
"Valerie suka." ucap Vale tak mau kalah. Namun, tiba-tiba pikiran Vale melayang pada bekas-bekas kepemilikan Sean di tubuhnya.
Dia tidak bisa menggunakan gaun indah ini hanya karena hal itu. Tiba-tiba raut sedih Vale muncul dan tangannya melepas gaun tersebut.
"Bagus tapi Vale tidak bisa memakainya. Carikan yang lebih tertutup saja ya." ujar Vale pada Aiden. Aiden mengangguk paham dan mencarikan yang lainnya.
Valerie menatap sebuah gaun turtle neck namun tidak berlengan berwarna peach dengan glitter di seluruh bagiannya. Panjang menjuntai dengan belahan hingga setengah pahanya. Bagian turtle necknya dihiasi dengan mata-mata kristal mengeliling hingga belakang.
Bagian belakang polos dengan tali gantungan dengan ujung permata yang menghiasi punggungnya. Ini tampak cantik.
__ADS_1
Walau tidak berlengan Vale yakin bekas kemerahan di leher dan bagian dadanya tidak akan terlihat.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Valerie menatap Aiden dan Jovan bergantian.
"Cantik." ucap Aiden setuju.
Jovan ikut mengangguk-angguk entah mengerti atau tidak. Valerie meminta pelayan toko tersebut untuk mengambil, lalu mencobanya.
Vale masuk ke dalam ruang ganti setelah tersenyum lucu pada Jovan dan Aiden mengisyaratkan agar kedua pria itu menunggunya keluar.
Vale menatap dirinya dengan lekat. Valerie memastikan bahwa bercak-bercak tersebut tertutupi oleh gaunnya. Valerie menatap bagian belakangnya yang polos dan hanya ada terdapat tali yang tergantung cantik di belakangnya.
Sempurna. Valerie membuka pintu ruang ganti dan keluar dengan sedikit menyeret gaunnya. Vale menatap Jovan dan Aiden yang terdiam setelah ia membuka pintu dengan perlahan.
"Bagaimana? Cocok tidak?" tanya Vale tak percaya diri.
Aiden tampak terdiam bengong menatap Vale begitu juga Jovan. Kening Vale mengerut bingung.
"Kak Jo, Aiden." sentak Vale di depan wajah kedua pria tersebut.
Jovan menoleh ke arah Aiden yang masih tidak bisa memalingkan wajah dari Vale. Jovan mencibir miring, lalu menutup tubuh Vale dengan tubuhnya.
Aiden mendecak kesal melihat tingkah Jovan. "Sial." batin Aiden geram.
"Udah sana ganti baju, terus bayar. Kakak lapar mau makan siang dulu." ujar Jovan sambil mendorong tubuh Vale kembali masuk ke dalam ruang ganti.
Vale menurut, namun berhenti di depan pintu ruang ganti. "Belum, kita cari heels dulu, tas, aksesoris baru makan." ujar Vale menatap Jovan dengan tampang tak berdosa, lalu masuk ke dalam ruang ganti.
Jovan mengusap rambutnya gusar. Dalam hati ia berjanji tidak akan menemani wanita berbelanja lagi.
***
Valerie masuk ke dalam hotel mencampakkan tubuhnya di atas sofa lelah. Sedangkan Aiden dan Jovan masuk dengan tas-tas belanjaan Valerie.
Gadis itu keenakan karena ada dua pria yang senantiasa menjaganya dan memperlakukannya seperti tuan putri.
"Kamu tidak boleh tinggal berduaan dengan Aiden di hotel ini." ujar Jovan sambil duduk di sebelah Vale.
__ADS_1
"Terus Vale tinggal dimana? Lagian Aiden yang bayarin Vale ke Rusia, bayarin hotel, bayarin makan siang juga tadi." ujar Vale menatap Jovan lekat.
"Dia tidak bisa dipercaya Vale. Kamu lihat tampangnya!" ujar Jovan sambil menunjuk Aiden dengan mata sinis.
Valerie menatap Aiden yang juga menatapnya lekat. "Kelihatan lebih terpercaya daripada Sean." ceplos Valerie, lalu menatap Jovan dengan alis bertaut.
Aiden tersenyum kemenangan, sedangkan Jovan menghembuskan nafas kalah. "Pokoknya kamu tidak boleh tinggal sekamar dengannya. Kamu tinggal sama kakak aja di Mansion." ujar Jovan geram.
"Nggak sekamar kok. Inikan Presidential suite, banyak kamarnya, banyak kamar mandi ada dapur juga, dll." ujar Vale tak mau kalah.
"Kalau nggak, kakak aja yang tinggal bareng kita di sini. Kalau aku ke Mansion kakak, entar Aiden kesepian gimana? Iya kan?" tanya Vale memasang wajah lucu kekanakannya. Aiden mengangguk setuju sambil tersenyum malu.
Jovan memandang Aiden dengan wajah tak bersahabat karena jawaban pria itu, sedangkan Aiden mengangkat bahu tak peduli.
"Kalau kakak mau aku tinggal di Mansion, kakak ajak Aiden juga tinggal di sana." ujar Vale menatap Jovan dengan senyum manisnya yang berhasil membuat Jovan makin kesal.
"Yaudah kamu sama dia tinggal di Mansion." ujar Jovan sambil menunjuk Aiden kesal, sedangkan Vale dan Aiden saling melempar senyum kemenangan.
"Bentar lagi acara di mulai. Vale mau siap-siap dulu. Kakak pulang gih!" usir Vale sambil mengibas tangan layaknya mengusir anak ayam.
"Kakak juga ikut kok. Kakak diundang juga asal kamu tau." ucap Jovan mencibir mengejek. Vale ikut mencibir dan melangkah dari sana sambil membawa belanjaannya.
"Yaudah cepat siap-siap entar Vale nggak mau nunggu ya kalau lama." teriak Vale sambil melangkah masuk ke kamarnya. Lalu, menghilang meningakkan kedua pria yang saling tidak akrab ini.
Jovan melangkah menjauh setelah menatap Aiden dengan wajah kesal.
Nyatanya, Aiden dan Jovan yang menunggu lama seorang Valerie untuk berdandan. Kedua pria itu sejak tadi duduk di sofa dengan wajah bosan. Mereka tampak rapi dan tampan dengan balutan jas mewah dan rambut yang mengkilap dan tertata rapi layaknya seorang pengusaha kaya.
"Ayo berangkat." ujar Vale keluar dengan wajah tak berdosa.
Bersambung..
Mampir ke cerita Kenzo 'Trapped by the BEAST'
Note : up next 11/6
Bye...😘
__ADS_1