
Sean yang sejak tadi sudah terbangun dari tidurnya, menatap Valerie yang masih tertidur pulas dengan wajah polosnya. Sean mengecup sebentar keningnya lembut seakan Vale sesuatu yang amat berharga yang ia punya.
Sean beranjak ke luar dari ruangan pribadinya, lalu memutuskan kembali berkutat dengan berkas-berkasnya. Belum beberapa menit, ponselnya berdering menunjukkan sebuah nama di atas sana.
"Halo." Sean mengangkatnya.
"Apa?"
"Aku akan berangkat sebentar lagi, pastikan dia baik-baik saja atau nyawamu taruhannya!" ucap Sean dengan wajah khawatir.
Sean menutup telfonnya dengan kasar, lalu menyugar rambutnya frustasi. Pikirannya melayang entah kemana. Raut wajah kusutnya menggambarkan seakan sesuatu yang salah sedang terjadi. Membuat pria itu khawatir dan kehilangan fokus.
Sean bangkit kembali dan masuk menuju ruangannya untuk menemui Vale yang masih terlelap. Perlahan Sean naik ke atas ranjang dan mengelus wajah menawan Vale.
"Aku akan pergi beberapa hari, tunggu aku pulang." ucap Sean lembut. Matanya tersenyum hangat menatap gadis di depannya yang masih berbaring nyaman.
"Aku akan sangat merindukanmu dan kau juga harus merindukanku!"
"Uhmmm.." Vale menggeliat masuk ke dalam dekapan Sean, melingkarkan tangannya di punggung pria itu untuk mencari kehangatan. Sean tersenyum senang, namun sekarang bukanlah waktu yang tepat. Ia harus pergi sekarang juga!
Dengan perlahan Sean melepas lingkaran tangan Vale, lalu melepaskan diri dari dekapan gadis itu. Sean sempat melihat wajah Vale yang mengerut, seakan bayi yang ingin menangis ketika kehangatan menjauh darinya.
Namun Sean buru-buru menyelimuti tubuh Vale dan meninggalkan elusan kecil di punggungnya.
Sean melangkah ke luar, kembali mengenakan mantelnya dan ke luar dari ruangannya.
***
Valerie POV
"HOAMM.." aku menguap sangat lebar sambil merentangkan tanganku. Ughh...
Waktu tidur siangku akhirnya datang juga. Ranjangku memang yang paling nyaman.
Aku mengusap badcoverku dan merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Dibagian bawah bedcoverku seharunya berbulu, tapi...
Kupendarkan mataku menatap kesekeliling ruangan yang tampak tak asing. Ahh.. Iya, ini ruangan pribadi Sean. Sial, aku sudah ingat sekarang. Bisa-bisanya aku menikmati waktu bekerja dengan tidur siang ditambah di ruangan Presdir pula.
Valerie kau sudah benar-benar seperti wanita jal*ng. Aku beranjak setelah mengucek kedua mataku memastikan tidak ada kotoran mata yang tertinggal. Lalu melangkah ke luar dengan wajah marah dan siap memaki orang yang di luar sana.
"KA... mu, ke mana dia?" ucapku yang tadinya ingin berteriak menjadi terheran-heran saat melihat ruangan rapi dan tak ada Sean.
Ke mana pria itu? Kenapa dia tak membangunkanku? Apa sebenarnya dia sudah mencoba membangunkanku? Huh... Tidur keboku memang sudah di level darurat.
Buru-buru aku memakai hellsku yang teronggok di samping sofa, lalu ke luar dari ruangan Sean. Aku melihat Brenda yang menatapku dengan wajah sinis.
__ADS_1
"Uhumm...uhuk..uhuk.. Di mana Presdir?" tanyaku setelah berekting pura-pura batuk, seakan tak pernah ada sesuatu yang terjadi antara aku dan dia.
"Hehh.. Kau sudah dicampakkan? Setelah pakai lalu buang, meninggalkanmu seperti jal*ng lainnya." aku mencoba menarik nafas sabar mendengar perkataannya.
"Katakan saja di mana dia!" huh... Gara-gara menahan emosi aku jadi lupa menggunakan 'Presdir' saat memanggil Sean di depan orang lain.
"Kenapa? kau ingin meminta pertanggung jawaban?" ucapnya sambil terkekeh miring padaku. Huh... Akan kucongkel matanya jika sekali lagi kata-kata penghinaan ke luar dari mulut kotornya.
"Presdir pergi dengan helikopter menuju Rusia, negara asalnya." aku terpaku diam mendengar ucapan Brenda. Tiba-tiba begini? Ke kampung halamannya? Ada apa? Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Aku menggeleng mencoba tak peduli. Seharusnya aku senang dia tak akan muncul beberapa hari ini. Apa aku harus berpesta??
"Terimakasih infonya. Aku senang mendengarnya. Bye.. Muach๐." aku melenggang pergi setelah memberikan kissbye pada Brenda. Sedangkan Brenda yang kini terpaku heran menatapku.
Aku memasuki lift dan kembali menuju ruanganku. Semoga hari-hari baikku kembali lagi setelah pria itu pergi.
***
Yuhuuu... Kini aku dan Melan sedang shopping gila-gilaan di Mall. Walau kalian tau aku adalah orang yang sangat bersimpati dengan uang dan makanan yang terbuang, namun aku tetaplah seorang perempuan.
Aku pasti kalap saat melihat banyak baju yang terpajang, peralatan make up yang benar-benar membuat kepala menoleh dua kali dan benda-benda imut lainnya yang tak dapat kutahan untuk membelinya.
Aku wanita normal yang pastinya semangat saat memilih pakaian yang sangat bagus, tas yang terpajang rapi, serta sepatu yang teretalase dengan Indah. Dan jangan tanyakan Melan, dia adalah seorang Shopaholic gila.
"Ahh... Iya lucu."
"Sepatu ini yang dari dulu aku incar Vale."
"Shit... This little one super cute, i can't hold it anymore."
"Vale... Lingerie edition terbaru, kamu pasti cocok deh makenya."
"Damn Mel, kau pikir aku sepertimu."
Setelah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan uang. Akhirnya aku dan Melan terkapar lemas di dalam sebuah restoran. Kantung belanjaan memenuhi lantai, sampai pegawai di sini terheran-heran menatapku dan Melan.
Aku sudah membakar banyak lemak dan sekarang waktunya membuat lemak kembali. Aku dan Melan memakan jejeran makanan di atas piring yang memenuhi meja dengan penuh semangat. Kali ini aku yang akan mentraktir Melan, karena sudah mau menemaniku kalap di Mall.
Namun sialnya setelah makan dan akan membayar, aku terlonjak saat tak menemukan kartu debitku di dalam tas. Aku langsung khawatir dan kebingungan. Sekarang bagaimana aku akan membayarnya? Tunai? Di dompetku sama sekali tidak ada uang tunai kecuali selembar 100 dolar yang pastinya tak cukup.
"Bagaimana dapat Vale?"
"Tidak.. Bagaimana ini?" Rasanya aku ingin menangis dan pelayan tadi masih senantiasa berdiri di samping meja kami dengan sebuah buku kecil berisi struk di dalamnya.
Apa kartuku terjatuh? Aku terlalu heboh berbelanja sampai aku tak sadar kartuku terjatuh di mana.
__ADS_1
"Yasudah Vale, pakai kartuku saja du...." ucapan Melan terhenti saat seorang pria datang menghampiri meja kami.
"Permisi, aku yang akan membayar makanan mereka." aku terdongak menatap ke sumber suara. Di sana berdiri seorang pria tinggi yang sedang menyodorkan kartunya pada si pelayan wanita itu.
Aku sempat menggeleng, namun si pelayan itu seakan tau aku takkan bisa membayar, dia langsung mengambil kartu pria tersebut dan melenggang pergi.
"Baik tuan." ucap pelayan tersebut sebelum pergi.
"Terimakasih Tuan. Berikan aku nomor rekeningmu! Aku akan segera menggantinya."!ucapku sambil bangkit berdiri berusaha sopan padanya. Pria di depanku ini kelihatan sangat Classy dan sangat tampan. Yahh... walau tak setampan Sean.
Shit... Pria itu kenapa tiba-tiba muncul di pikiranku. Tanpa sadar pria tersebut memberikan sebuah kartu nama miliknya padaku.
"Ini kartu namaku, kamu tidak perlu menggantinya dengan uang." ucapnya lembut. Haihh.. Pria ini benar-benar bertolak belakang dengan Sean si berengsek itu. Pria ini lembut, sopan, dan senyumnya sangat manis.
"Ahh.. Bagaimana jika aku mentraktirmu makan saja." ucapku.
"Okey... hubungi saja aku saat kamu punya waktu." jawabnya. Aku tersenyum lebar, pria ini benar-benar sopan.
Pelayan tadi datang kembali dan menyerahkan kartu yang ia bawa pada pria di depanku ini. Pria tersebut menerimanya sambil tersenyum singkat.
"Aku menunggu teleponmu." ucapnya sebelum akhirnya ia melenggang pergi meninggalkan aku dan Melan yang masih terdiam dengan wajah anehnya.
"Kamu kenapa?" tanyaku bingung menatap Melan yang terdiam dengan mulut menganga.
"Shit Vale, kau tidak tau siapa dia?" tanya Melan dengan mata melotot lebar. Memangnya dia siapa?
"Siapa?" tanyaku heran.
"Dia Artis pria paling berpengaruh di dunia saat ini Vale, Aiden William Zachary." ucap Melan heboh sambil menghentak-hentak bahuku kencang.
"Vale sadar ini dunia Millenium, kamu kapan majunya?" tanya Melan kesal. Memangnya aku harus mengenal mereka semua ya?
Aku menatap kartu nama di tanganku lekat. Aiden William Zachary, beserta nomor ponselnya.
"Dia artis?" tanyaku lagi dengan wajah bodoh. Melan menatap dengan pandangan sedih.
"RIP Valerie Vylzia Vasylchenko. Semoga kamu tenang di alam sana. Bye." Melan melenggang pergi dengan belanjaannya, sedangkan aku masih berdiri terdiam menelaah kata-katanya. Damn... Dia mendoakan aku Mati!!
Bersambung...
lanjut????? suaranya manaโบ๏ธโบ๏ธ
komen, like dan share.
bye.. ๐๐
__ADS_1