The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 79


__ADS_3

Valerie berbaring di atas ranjangnya setelah menyelesaikan ritual sebelum tidurnya. Valerie mengambil ponselnya dengan antusias, lalu mengirim pesan dengan Sean.


Aku sudah selesai mandi dan akan tidur.


Send.


Valerie menunggu balasan dari Sean dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk.


Baguslah. Tidur yang nyenyak dan jangan tidur larut malam Valerie!


Valerie tersenyum melihat pesan Sean yang menyuruhnya untuk tidak begadang. Tangan Vale kembali menari di atas layar.


Tidak bisa, aku harus mengerjakan berkas yang belum selesai :'(


Kenapa tidak mengerjakannya saat pulang bekerja?


Aku pergi bersama Melanie untuk membeli kebutuhan kehamilanku.


Kamu tau, aku membeli susu ibu hamil rasa Strawberry, Vanilla dan Coklat, jadi aku bisa meminum semua rasa bergantian🤭


Beberapa detik kemudian hingga pesan dari Sean kembali masuk.


Maaf, aku tidak bisa menemanimu untuk membeli kebutuhannya.


Valerie yang membacanya langsung menatap pesan tersebut dengan sendu. Valerie tersenyum begitu lembut dan kembali membalas pesan Sean.


Aku tidak mempermasalahkannya, asal kamu membalasnya saat aku mengidam dan melahirkan anak kita.


Mata Vale melembut melihat kata 'anak kita' di pesan yang ia kirim.


I love you.


Valerie terkekeh melihat balasan Sean padanya. Sejak tadi senyum Vale tidak memudar, layaknya anak SMA yang pertama kali mengenal cinta. Dadanya yang berjumlah dan hatinya yang terasa berbunga-bunga, ditambah seperti ada kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


I love u too😚


Aku sangat merindukanmu, aku ingin memelukmu sekarang juga. Kamu membuatku tidak bisa menahan diri.


Valerie lagi-lagi tertawa kecil, karena ia tidak ingin membuat Kakek-Nenek dan Bibinya terganggu.


Tetapi kamu harus menahan diri! Kita berjumpa besok di kantor.


Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu tentang Anna.


Mengirim sebuah foto.


Aku berjumpa dengan Anna di Mall bersama pria ini. Aku sengaja menyapanya dan bertanya, pria itu bernama Nikolay Lermontov, sahabat kecilnya. Tetapi, mereka terlihat sangat mesra dan Anna bilang, besok pria itu akan kembali ke Rusia.


Kamu mengenal pria itu?

__ADS_1


Sebuah panggilan telepon masuk dan nama Sean tertera di sana. Valerie langsung mengangkatnya.


"Halo Sean."


"Kamu dan anak kita baik-baik saja?" tanya Sean langsung dari seberang sana.


Valerie tersenyum. "Uhumm, dia baik-baik saja, hanya saja dia merindukan Daddynya." ujar Vale sambil mengelus perut ratanya.


"Benarkah? Bukan Mommynya yang merindukanku?" tanya Sean dengan nada menggoda.


Valerie tersenyum malu karena mendengar panggilan Mommy-Daddy yang masih terdengar asing di telinganya. Membuat ia terkekeh geli.


"Hentikan! Sekarang kita harus membahas Anna."


"Baiklah. Pria itu memang benar Nikolay. Aku, dia dan Anna berteman sejak kecil, karena keluarga kami memang dekat. Namun, kekayaan keluarga Lermontov berada di bawah keluargaku dan Anna. Yang aku tau, Nikolay memang sejak kecil mengejar Anna dan selalu berkata kalau Anna akan menjadi istrinya kelak."


"Jadi, apa mereka berdua memiliki hubungan di belakang keluarga mereka?" tanya Vale kaget.


Sean terdengar menghela nafas. "Entahlah, mungkin iya dan mungkin tidak."


"Kenapa?"


"Sejak kecil Anna selalu menempel dan mencoba dekat denganku. Namun, aku dulu sangat dingin dan susah bersosialisasi dan terkesan mendiamkannya. Nikolaylah yang selalu menghibur Anna saat dia menangis dan sedih karena aku."


"Hingga kami beranjak remaja dan dewasa, Anna tetap saja mengejarku dan tidak menghiraukan Nikolay yang selalu ada untuknya."


"Apa mungkin hanya pelampiasan saja?" tanya Vale.


Valerie terkekeh. "Tidak ada berkas apapun, aku berbohong." ujar Vale.


"Dasar nakal, Baby jangan meniru Mommymu yang nakal ini ya." Valerie mengerucutkan bibir mendengarnya.


"Jaga Mommy baik-baik selagi Daddy tidak ada di samping Mommy ya jagoan." Valerie langsung tersenyum mendengarnya.


"Kamu yakin di laki-laki?" tanya Vale.


"Tentu saja. Saat aku membuatnya juga aku sudah mencari tau cara bercinta yang benar agar mendapatkan anak laki-laki." ucap Sean frontal. Vale tertawa mendengarnya.


"Kamu tidak ingin anak perempuan?" tanya Vale.


"Tentu saja aku mau, namun aku ingin anak pertama kita adalah seorang laki-laki dan nantinya akan menjaga adik perempuannya." ujar Sean. Vale ikut tersenyum mendengarnya.


"Aku merindukanmu." ujar Vale akhirnya mengungkapkan isi hatinya.


"Haha, sampai jumpa besok sayang." ujar Sean sambil tertawa.


"Uhmm." jawab Anna dengan wajah tidak puas. Panggilan akhirnya terputus, Vale menatap ponselnya dengan wajah cemberut.


"Sean tidak romantis." ujar Vale kesal, lalu berbaring di ranjangnya dan tidur.

__ADS_1


***


Valerie tersenyum menutup presentasinya yang berjalan lancar. Rapat akhirnya selesai, Vale membereskan berkas dan peralatannya.


"Ms. Vasylchenko, temui saya di ruangan saya." ujar Sean tiba-tiba, setelah ia bangkit dari tempat duduknya.


"Baik Sir." ujar Vale sambil menunduk sopan.


Valerie membereskan barang-barangnya dan menyimpannya ke ruangannya, lalu pergi ke ruangan Sean.


Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya ia berada di depan ruangan Sean. Valerie mengetuk sebentar, lalu masuk tanpa menunggu jawaban Sean.


"Selamat siang Mr. Romanov." sapa Vale memasang senyum geli sambil menatap Sean yang duduk di kursinya dengan tersenyum.


Sean berdiri dari kursinya, lalu memeluk Vale dengan erat. Valerie memeluk Sean sama eratnya.


"Kamu sudah meminum susu pagi tadi?" tanya Sean sambil melepas pelukannya. Sean membawa Vale masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Tentu saja."


Valerie melepas high heelsnya, lalu naik ke atas ranjang dan duduk di sana, diikuti oleh Sean.


"Bagaimana kamu menyembunyikannya dari Kakek dan Nenek serta Bibi?" tanya Sean lagi.


Valerie terkekeh mendengarnya. "Aku membeli water boiler untuk di kamar. Jadinya, aku membuat susu di kamar satu jam setelah sarapan." ujar Vale menatap Sean dengan senyum bangga akan dirinya sendiri.


"Pintar." ujar Sean mengelus rambut Vale lembut.


"Kamu tidak mengalami morning sickness?" tanya Sean.


"Tentu saja aku mengalaminya. Aku membaca di internet, morning sickness wajar terjadi di trimester pertama kehamilan." ucap Vale.


Sean akhirnya mendekat ke arah Vale mendekap wanitanya itu, lalu menunduk ke arah perut Valerie.


"Daddy sudah bilang jaga Mommy bukan? Jangan membuat Mommy sakit Baby." Vale memukul lengan Sean kencang.


"Itu wajar Sean. Lagipula anakku tidak salah, kamu yang salah tidak menemaniku." ujar Vale kesal. Sean akhirnya mendekap Vale lagi, lalu mengecup bibir Vale yang cemberut.


"Maaf sayang." ujarnya sedih.


Valerie membuang nafas menyadari bahwa ia sudah salah bicara. Lagipula dia niatnya hanya ingin bercanda, namun ternyata Sean sangat memikirkannya.


"Aku bercanda, kamu jangan sedih!" ucap Vale mengelus kepala Sean lembut.


Sean mengangguk pelan, namun Vale yakin pria itu masih terbebani. Valerie akhirnya mendorong Sean menjauh dan memaksa pria itu menatapnya.


"Dengar Sean, kandunganku semakin lama akan semakin besar dan tidak akan bisa disembunyikan lagi. Aku bahagia memilikinya, namun setiap hari aku merasa ketakutan. Menyembunyikan ini dari semua orang bukan hal yang mudah. Jadi, karena aku sudah siap berdiri di sisimu dan berjuang bersamamu, yang sekarang kita lakukan hanya, menyelesaikan semua ini demi anak kita dan hidup bahagia bersama." ujar Vale panjang lebar sambil menangkup kedua pipi Sean.


Sean terdiam, terperangah dan tercengang. Sean mengangguk mengerti sambil menggenggam tangan Vale di pipinya.

__ADS_1


Membawa tangan itu ke depan bibirnya dan mengecupnya. "Kita akan mewujudkan itu bersama." ujar Sean yang dibalas senyuman bangga oleh Vale. Vale kembali memeluk Sean dan mereka berbaring bersama di ranjang tersebut saling bertukar cerita dengan gembira


Bersambung...


__ADS_2