
"Kakak kapan-kapan main ke sini lagi ya?"
Valerie kini berdiri tegap mengantar Jovan ke bandara seorang diri. Jovan berencana kembali ke Rusia untuk bekerja. Jovan sudah menghabiskan liburannya bersama Valerie dengan cukup lama, dan kini waktunya ia kembali.
"Iya, kapan-kapan kamu dong yang kain ke Rusia." ujar Jovan sambil mengusap kepala Vale lembut.
"Iyadeh, kapan-kapan Valerie main ke tempat kakak, tapi kakak yang bayarin ya?" ujar Vale sambil terkekeh lucu. Jovan mencubit pipi Vale jail.
"Apapun buat gadis kecil kakak." ujar Jovan sambil tersenyum lembut.
Hingga suara panggilan penerbangan menginterupsi kegiatan keduanya. Jovan menggenggam kopernya setelah mendengar pemberitahuan penerbangannya.
"Kakak pergi ya?" Vale mengangguk sambil tersenyum lebar. Jovan memeluk tubuh adik kecilnya untuk terakhir kali sambil mengecup puncak kepala Vale sayang.
"I'll miss my little girl." ujar Jovan pelan. Vale tersenyum dan membalas, "I'll miss you too." ujar Vale.
Jovan melepas dekapannya, menarik kopernya dan melangkah menjauh sambil melambai pada Valerie. Valerie melambaikan tangannya sambil menatap punggung Jovan yang mulai menjauh sampai akhirnya hilang dari pandangannya.
Vale menatap jam di tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. Vale menatap ponselnya dan menemukan banyak sekali panggilan tidak terjawab. Semuanya dari orang-orang kantor dan Melanie.
Valerie menolaknya. Dia sudah memutuskan pergi dari sana karena Sean. Pasti mereka menghubunginya karena ulah Sean. Valerie melangkah keluar dari bandara dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
***
"Saya tidak diperbolehkan masuk ke kediamannya Sir." Lucy menunduk takut setelah melakukan tugasnya.
Kedatangan Lucy ditolak halus dan sopan oleh pembantu Valerie. Lucy memohon masuk dan akhirnya ia ditolak dengan tegas.
Lucy benar-benar tidak mengerti mengapa Atasannya ini menolak permintaan undur diri Valerie. Lucy saja tidak masalah jika itu memang sudah keinginannya.
"Keluar!" Sean menggeram marah sambil menatap Lucy tajam. Lucy pergi dengan cepat karena rasa takutnya.
"Valerie, lihat dan tunggu saja apa yang akan aku lakukan. Kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku, aku pastikan hal itu." batin Sean berteriak marah.
__ADS_1
***
Valerie melangkah perlahan dengan secangkir cokelat panas di tangannya. Vale masuk ke dalam kamarnya dan duduk kembali di atas ranjangnya. Valerie meletakkan cangkirnya ke atas nakas dan meraih kembali laptopnya.
Valerie sibuk menarikan tangannya di atas laptop sambil sesekali meminum cokelat panasnya. Sampai akhirnya cokelat panasnya habis beriringan dengan selesainya pekerjaannya dengan laptop.
Vale menutup laptopnya dengan mata lelah. Valerie masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok giginya untuk segera tidur.
Setelah selesai Valerie naik ke atas ranjang, mematikan lampu tidurnya, menarik selimutnya dan tidur. Tak butuh waktu lama hingga Vale jatuh ke dalam alam mimpi. Jam menunjukkan pukul dua dini hari dan seorang gadis terbaring nyaman di bawah selimutnya.
Hingga tanpa sadar, pintu kamarnya terbuka dan masuklah sosok lelaki tinggi ke dalam kamarnya. Mengunci kamar Valerie dari dalam dan melangkah mendekati Valerie.
Sosok itu adalah Sean, wajahnya terpampang jelas oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela gorden.
Sean mengeluarkan sebuah tali yang telah ia bawa, menautkan kedua tangan Valerie menjadi satu, lalu mengikatnya ke tiang ranjang.
Valerie masih belum terbangun oleh perbuatan Sean. Sean menatap wajah tenang Valerie dengan begitu lekat dan pandangan penuh rindu terpancar dari matanya.
Sean mengusap pelan pipi Valerie naik turun. Gejolak gairah memanas dari dalam dirinya. Sean membuka selimut Vale kasar dan membuangnya ke lantai. Valerie sedikit terusik saat rasa dingin langsung menyengat kulitnya.
Sean menurunkan wajahnya dan meraih bibir menggoda Vale. ********** lembut dan membelai penuh kasih. Lidahnya menjalar masuk ke dalam mulut Vale dan mengeksplor penuh bibir Valerie.
Sean rasanya tidak ingin menghentikan aksinya karena rasa mendamba yang menggebu dari dalam dirinya. Sean bahkan meraih tengkuk Vale untuk memperdalam lumatannya.
Valerie mulai merasa risih dan tak nyaman pada tubuhnya. Rasanya juga dia sulit bernafas. Valerie mulai menggeliat dan perlahan matanya terbuka pelan.
Mata Vale membulat melihat sosok pria di atas tubuhnya. Aroma ini adalah aroma yang begitu ia kenal. Sean.
Valerie ingin mendorong tubuh Sean, namun sadar kalau tangannya telah terikat. Valerie menolehkan kepalanya menolak ciuman Sean. Sean yang sadar Valerie mulai kehabisan nafas, akhirnya melepas pangutannya dan menatap Vale lekat.
Valerie mengambil udara sebanyak mungkin dengan nafas ngos-ngosan. Valerie menatap lekat wajah Sean dengan mata tajam penuh kebencian.
"Beren*sek. Lepas ikatan ini Sean!" ujar Vale geram sambil menarik-narik ikatan tangannya.
__ADS_1
"Jangan menarik-nariknya sayang, jika kamu tidak ingin tanganmu membiru keesokan harinya." ujar Sean sambil mengusap tangan Valerie lembut.
"Sean sudah cukup! Kenapa kau datang kembali disaat aku sudah memutuskan untuk pergi dan menghilang?" ujar Valerie menahan amarah dalam dirinya yang menggebu-gebu.
"Karena aku tidak ingin kamu pergi." jawab Sean yang berhasil membuat Vale terdiam dengan wajah bertanya.
"Apa perlu aku mengingatkanmu tentang kau yang sudah mendorongku dan membuangku? Kau gila." ujar Vale menatap mata Sean lekat.
"Apa aku pernah mengatakan aku gila karenamu?" tanya Sean sambil mulai mengusap perut Vale naik turun.
Tubuh Vale meremang merasakan belaian tangan Sean di atas perutnya. Seakam ada ribuan kupu-kupu di dalam perutnya.
"Hentikan!" ujar Vale susah payah menahan gejolak aneh dalam dirinya.
"Wajah memerahmu yang begitu kurindukan." ujar Sean sambil mengusap pipi merah Vale dengan tangannya yang bebas.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Vale saat tangan Sean meraih gunting di atas nakas.
Sean mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie. "Membuatmu tidak bisa pergi dan menghilang dari sisiku. Membuatmu mau tidak mau harus berada di sampingku." bisik Sean pelan. Vale merinding merasakan hembusan nafas Sean di telinganya.
Sean sengaja melakukannya. Menghembuskan nafasnya ke dalam telinga Vale setelah menyelesaikan ucapannya. Vale menggigit bibirnya tanpa sadar merasakan rasa meremang di dalam tubuhnya. Sean bahkan sengaja menjilat daun telinga Vale sensual.
"Hentikan!" ujar Vale susah payah menahan suara- suara la*nat keluar dari mulutnya.
"Tidak, sebelum kamu menjadi milikku malam ini."
Bersambung...
Hay..Hay..Hay..
Apa yang akan terjadi selanjutnya?😲
Semoga aja Sean nggak makin lucknut yaðŸ¤
__ADS_1
Note : up next 29/5
Bye...😘