The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 94


__ADS_3

Valerie membuka penutup oven, lalu mengeluarkan kue keringnya yang baru saja matang. Vale tersenyum lembut melihat hasil masakannya.


"Ben masukkan adonan cookiesnya!" ujar Vale sembari meletakkan nampan panas itu di tempat aman.


Ben melakukan perintah Vale tanpa membantah. Memasukkan adonan ke dalam oven dan menutupnya.


"Kenapa kau memasak kue sebanyak ini?" tanya Ben setelah melakukan tugasnya.


"Akukan sudah bilang akan menyambut tamu." ujar Vale.


"Berapa tamu yang kau bawa sampai kau memasak berbagai kue seperti ini?" tanya Ben kesal.


"Tidak banyak, hanya dua orang." jawab Vale santai.


"Lalu kenapa memasak kue untuk satu keluarga besar seperti ini?" tanya Ben tak habis pikir.


"Aku memasak kue kering Ben, sehingga masih bisa disimpan dan dimakan kembali." ujar Vale.


Ben menarik nafas pasrah. Karena kegiatan masak-memasak ini, Ben harus ikut ambil bagian karena permintaan wanita di depannya ini.


"Bagaimana dengan Sean?" tanya Ben.


Vale mengangkat bahu. "Selagi belum ketahuan, aku tidak akan memberitahunya." ujar Vale santai.


Namun tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingnya berbunyi dan menunjukkan nama Sean yang menghubunginya lewat Video call.


Wajah Val langsung pucat dan menatap ke arah Ben dengan wajah tegang. Ben tertawa, lalu bangkit berdiri.


"Terima hukumanmu, jangan bawa-bawa kami." Ben langsung pergi dari sana dengan raut senang.


Vale merutuk kesal mendengar ucapan Ben. Vale menarik nafas panjang, lalu menerima panggilan tersebut.


"Hi say..."


"Valerie, jelaskan kenapa kamu membawa orang masuk ke dalam pulau!" ucapan Vale langsung terpotong oleh pertanyaan tajam Sean.


Vale meneguk ludah kasar. "Ehmm... Aku hanya mengundang Melanie. Aku merindukannya." ujar Vale.


"Melanie? Kamu juga membawa Aiden." ujar Sean marah.


Vale menggigit bibir. "Aku hanya ingin merayakan kehamilanku dengan mereka. Aku belum pernah merayakannya bersama-sama setelah mengetahui aku hamil." jawab Vale memasang wajah sedih.


Sean terdiam sejenak, lalu terdengar suara tarikan nafas pasrah dari seberang sana. "Kenapa tidak memberitahuku dulu hmm?" tanya Sean lembut.


"Aku takut kamu akan langsung tidak mengijinkannya." jawab Vale.


"Valerie, kamu taukan aku hanya ingin melihatmu bahagia." ujar Sean lembut. Vale jadi merasa sangat bersalah, namun keberhasilan memang harus membutuhkan pengorbanan.


"Aku minta maaf." ujar Vale.

__ADS_1


"Lain kali beritahu aku dulu okey?"


Vale mengangguk cepat dengan wajah tersenyum senang.


"Akhirnya masalah selesai, hehehehe." batin Vale senang.


"Sean, lihat aku memasak ini semua untuk hari ini. Cantik tidak?" ujar Vale menunjukkan kue-kue cantik yang ia buat.


"Cantik. Ingat, jangan kelelahan sayang." ujar Sean memperingati.


Vale mengangguk. "Ben membantuku." jawab Vale.


Sean menatap lekat wajah istrinya yang tersenyum cerah. Betapa ia merindukan wanita itu berada dihadapannya. Sean benar-benar tersiksa oleh rindu.


"Aku tidak suka kamu berdekatan dengan pria bernama Aiden itu. Kenapa kamu mengundangnya?" tanya Sean yang tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya.


"Aiden sangat baik padaku, dia teman kecilku juga." jawab Valerie.


Sean membuang nafas pasrah. Tidak ada gunanya juga dia marah saat ini. Valerie menatap lekat wajah Sean yang tak menjawab perkataannya.


"Sean, aku ingin berbelanja peralatan bayi, tapi disini tidak ada Mall." ujar Vale sedih.


"Aku sudah menyiapkan semuanya di rumah baru kita." ujar Sean.


"Curang." Valerie mendecak kesal. Padahal Nia ingin sekali berbelanja dan memilih sendiri peralatan dan perlengkapan bayinya. Sean jahat.


Vale mengerucutkan bibirnya sedih. Sean memandangi wajah sedih Vale panik. "Kita bisa berbelanja lagi setelah keluar dari pulau kan?" kata Sean terbata-bata takut salah ucap.


Vale menatap ke arah layar, lalu bahunya mencelos pasrah. "Iya, tidak apa-apa." jawab Vale masih dengan wajah sedih. Jangan pernah percaya kata 'tidak apa-apa' yang dikeluarkan oleh wanita.


Sean menggeleng. "Aku akan segera pulang dan kita akan berbelanja bersama okey." ujar Sean dengan senyum manisnya.


Vale melirik mata Sean yang sungguh-sungguh. "Benarkah? Kamu akan segera pulang?" tanya Vale tidak percaya.


Sean mengangguk. "Sebentar lagi. Tunggu aku sebentar lagi okey." kata Sean sungguh-sungguh dengan penuh keyakinan.


Vale mengangguk. "Kamu harus menepatinya." ancam Vale.


Sean terkekeh dan mengangguk meyakinkan Vale.


"Valerie." terdengar suara Nenek yang memanggilnya.


"Iya Nek?" teriak Vale menjawab panggilan Neneknya.


"Melanie dan temanmu sudah datang."


"Ah.. iya Nek, aku datang."


Vale menatap ke arah Sean dengan wajah tergesa-gesa. "Aku menyambut tamu dulu, kita bicara nanti lagi ya. Bye sayang, muach." Sean terkekeh dan akhirnya sambungan video call berakhir.

__ADS_1


Vale melangkah ke arah ruang tamu dan menatap Melanie dengan senyum lebar. "Mel." ujar Vale berteriak semangat.


Melanie langsung memeluk Valerie erat sambil tertawa lepas seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


Setelah beberapa menit, Vale menatap ke arah Aiden yang berdiri mematung. "Hai Aiden." sapa Vale, lalu memeluk Aiden singkat.


Aiden masih terdiam dengan wajah kaget dan bingung. Vale menatap ke arah Aiden dengan raut heran. Vale mengikuti arah mata Aiden yang tertuju pada perut buncitnya.


"Ah iya, aku lupa memberitahumu. Aku hamil." ujar Vale pada Aiden.


Aiden terkejut dengan mata membola dan mulut menganga. "Sean yang melakukannya. Dia memang pria berengsek." ujar Melanie pada Aiden sambil menepuk pundak Aiden untuk menyadarkan keterdiamannya.


"Hehehe." Vale terkekeh.


"Kalau begitu, Selamat." ujar Aiden pada Vale sambil memberikan beberapa barang yang ia belikan untuk Valerie. Melanie ikut memberikan barang yang ia bawa.


"Wahh, terimakasih."


"Oh iya, kenalin ini Gilbert dan ini Ben."


Mereka saling berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Kalian pasti lapar kan, kita makan siang dulu yuk." ajak Vale yang diangguki oleh mereka semua.


Merekapun memakan makan siang mereka sambil berbincang ringan. Namun lain jika Vale dan Melanie sudah bersatu, meja makan menjadi terasa sangat ramai karena mulut mereka yang tidak bisa berhenti. Jika bukan karena Kakek yang mengingatkan mereka, mereka pasti tidak akan diam.


***


Sean melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Matanya memancar mencari ruangan yang ia cari-cari.


Setelah dapat, ia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk. Terlihat, Gregory terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang di hidungnya dan tangannya. Matanya tertutup rapat.


Sean menoleh ke arah sofa dimana ada Ayahnya dan Ibu tirinya di sana. Pavlo langsung bangkit berdiri, melangkah mendekati Sean dan melayangkan tamparan keras di pipi pria itu.


Wajah Sean langsung terpanting ke kiri setelah menerima tamparan itu. Sean mengusap pipinya, lalu menatap tajam Ayahnya.


"Semua karena kamu. Kakek seperti ini karena sikap menantangmu." teriak Pavlo marah.


Ibu tirinya langsung berdiri di samping Ayahnya untuk menenangkan emosi pria paruh baya itu. Sean tersenyum miring, lalu menatap Ayahnya dengan wajah kemenangan.


"Kakek terbaring dan tidak ada yang memimpin perusahaan saat ini. Waktunya memilih, siapa yang memimpin perusahaan." ujar Sean tersenyum mengejek dengan mata tajam menusuk.


"Anak kurang ajar."


Setelah itu Sean keluar dari ruangan sesak tersebut dengan wajah dinginnya. Menutup pintu ruangan tersebut dengan rapat, lalu meraih ponsel di saku celananya.


Menarikan jarinya di sana sebentar, lalu meletakkan ponsel tersebut di telinganya.


"Beritahu para pemegang saham untuk datang rapat besok."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2