The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 98


__ADS_3

Disinilah aku berada sekarang. Aku berdiri sambil memeluk buket bunga di depan dua buah nisan. Aku menatap kedua nama tersebut dengan lekat. Sean yang berada di sebelahku membantuku untuk meletakkan bunga tersebut diatas makam mereka karena aku tidak bisa menunduk.


"Mama, Papa, Valerie datang. Maaf Valerie jarang jenguk kalian. Valerie sekarang akan menjadi Ibu, Mama Papa pasti sedang tersenyumkan sekarang? Valerie sekarang bahagia karena sebentar lagi Vale punya keluarga kecil yang Valerie bangun bersama Sean. Mama papa, maaf Valerie belum bisa bahagiain kalian selagi kalian hidup." ujarku dengan mata memanas. Sean merangkulku dari samping.


"Jangan menangis sayang, sekarang mereka sudah bahagia." ujarnya. Aku mengangguk sambil menghapus air mataku yang tergenang di kelopak mataku.


"Valerie pergi ya, nanti Vale datang lagi sama cucu Mama dan Papa. Bye Ma—Pa."


Aku dan Sean pun pergi dari sana dan pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, kami disambut dengan girang oleh Mommy.


Aku, Sean dan Mommy kini berada di kamar. Aku duduk di atas ranjang sambil menatap Sean dan Mommy yang sedang berberes baju ke dalam tas.


Dokter mengatakan kemungkinan aku melahirkan di Minggu ke-36. Bisa lebih cepat ataupun lambat. Karena itu, sekarang Sean dan Mommy memutuskan untuk mengemas barangku dan barang bayi karena aku akan dirawat di rumah sakit hingga melahirkan.


Sean dan Mommy tidak ingin terjadi sesuatu yang tiba-tiba dan diluar perkiraan hingga mengakibatkan sesuatu hal yang buruk. Seperti biasa, Sean yang sangat overprotektif. Ternyata, Mommy juga sama protektifnya.


"Baju bayinya yang biru aja." ujar Sean.


"Enggak yang Lilac lebih bagus." bantah Mommy.


Aku mendesah pasrah sambil mengamati mereka yang kembali adu mulut. Tiba-tiba pintu terbuka dan menunjukkan sosok Kendra yang masuk ke dalam kamar dengan kantong belanjaannya.


"Hai Vale, aku belanja lagi, ini buat kamu." ujarnya menyerahkan kantong belanjaannya padaku.


"Terimakasih."


Kendra tersenyum lembut, lalu berjalan menatap Sean dan Mommy yang masih berkelahi. "Ini kenapa sih?" tanya Kendra heran.


"Kendra, warna Lilac lebih bagus dari yang biru kan?" tanya Mommy pada Kendra tiba-tiba.


Kendra mengernyit saat mommy memampangkan baju bayi berwarna Lilac dan biru. "Enggak, warna kuning lebih imut mom."


Aku makin mendesah saat Kendra ikut-ikutan adu mulut lagi dengan Mommy dan Sean. Akhirnya aku menutup mata jengah. "Yaudah dibawa tiga-tiganya saja." ujarku menimpali. Mereka langsung diam dan mengangguk membenarkan, lalu lanjut berberes.


***


Aku berbaring dengan baju pasien di atas ranjang rumah sakit yang begitu empuk dan lebar. Tentu saja, karena ini rumah sakit milik Romanov.


"Kata dokter kamu bisa melahirkan secara normal." ujar Sean.

__ADS_1


"Benarkah?" tanyaku.


"Iya." jawabnya singkat. "Selagi kamu dirawat, Mommy dan Kendra akan menjagamu saat aku bekerja." ujarnya lagi.


Aku mengangguk paham. "Kamu sudah memikirkan nama bayinya?" tanyaku dengan senyum lebar.


Sean mengangguk. Aku tersenyum lebar lalu mengecup bibir Sean dengan mesra.  "Aku percayakan namanya padamu." ujarku lembut dengan senyum lebar tak tertahan. Sean ikut tersenyum lalu membawaku ke dalam dekapannya.


***


Tiga minggu berlalu, aku kini tengah berbaring lemah di atas ranjang. Kehamilanku masuk minggu ke-36, Sean sudah cuti bekerja sejak minggu kemarin untuk menemaniku.


"Shh." aku mendesis saat merasakan rasa ngilu dan sakit di perutku secara tiba-tiba. Belakangan ini aku sering merasakan sakit seperti ini dan dokter mengatakan ini adalah kontraksi palsu bukan kontraksi yang sesungguhnya.


Aku menutup mata sambil mencoba merubah posisi tidurku untuk mencari kenyamanan. Dapat kulihat Sean memasang wajah khawatir saat menatapku sambil mengelus perutku lembut.


Tangannya mengelus rambutku naik turun dan mengecup kepalaku berulang kali untuk menguatkanku.


Sean POV.


Kutatap wajah Vale yang terlihat pucat tak bertenaga saat meringis kesakitan. Aku tak bisa menyembunyikan rasa takut dan khawatir melihatnya menahan rasa sakit tersebut.


Memang hanya beberapa detik, namun rasanya aku tidak sanggup melihatnya kesakitan seperti itu.


Selama Minggu ke-36 ini, Vale sering mengalami kontraksi palsu tersebut dan rasa lelah hingga nyeri dibagian punggungnya. Dokter mengatakan ini adalah tanda-tanda seminggu sebelum kehamilan.


Hingga akhirnya hari itu datang. Valerie mulai merasakan mulas dan nyeri di bagian punggung atau pinggang namun tingkat nyerinya masih rendah menurut dokter. Dokter mengatakan ini adalah pembukaan pertama yang mungkin akan berlangsung selama 2-6 jam.


Dokter menyarankan untuk berjalan-jalan ringan dan aku melakukannya.


Setelah itu pembukaan dua yang berlangsung lebih lama dari yang pertama. Rasa nyeri tersebut mulai muncul lebih sering. Saat berjalan-jalan, sesekali Vale berhenti dan meringis menahan sakit, sedangkan aku hanya bisa menatap dan menyemangati.


Aku senantiasa mendampingi Valerie setiap saat. Waktu berjalan sangat lama hingga akhirnya ketuban Vale  mulai pecah, Valerie dibawa ke dalam ruang persalinan. Aku senantiasa menggenggam tangan Vale saat Vale lagi-lagi menunggu pembukaan hingga proses melahirkan.


Saat dokter memeriksa dan mengatakan sudah waktunya, mereka membimbing Vale untuk mengejan. Vale berteriak kesakitan sambil berusaha mendorong bayinya keluar. Valerie menggenggam erat tanganku dan menutup matanya erat saat ia akan mendorong kembali.


Aku mengingat jelas betapa besarnya pengorbanan dan rasa sakit yang Valerie rasakan untuk melahirkan anak kami.


Hari itu, dimana hari aku mendengar suara tangis lantang seorang bayi yang memekakkan telinga adalah hari yang tak akan pernah kulupakan.

__ADS_1


Aku mengecup puncak kepala Vale yang berbaring begitu lemah. "Kamu berhasil sayang."


***


Author POV


Seminggu berlalu setelah Vale melahirkan bayi laki-lakinya. Aiden, Melanie, Gilbert, Ben, Kak Jovan serta Kakek-neneknya datang ke Rusia setelah mendengar kabar bahwa Vale akan melahirkan.


Kini Vale sedang menggendong bayi laki-lakinya yang tengah menyusu dengan lahap. Sean duduk sambil mengelus pipi gembung putranya. Setelah tertidur pulas, Vale membaringkan putranya di sampingnya dengan perlahan dan ikut berbaring.


"Bagaimana dengan namanya?" tanya Gilbert yang tiba-tiba menimpali.


"Liam Alistair Romanov. Sesuai namanya, dia akan menjadi pelindung yang kuat dalam keluarga kita." ujar Sean menatap Vale lembut.


Vale tersenyum dan mengangguk, setelah itu mengecup kening putranya. "Hai Liam." sapa Vale lembut.


"Imutnya keponakanku." ujar Kendra sambil terus menatap Liam yang tertidur tenang.


"Cucu Mommy tampannya." ujar Mommy kegirangan.


Ditengah ruangan tersebut terselimuti rasa kegembiraan karena datangnya satu anggota baru dalam keluarga mereka.


***


Vale dan Sean berjalan ke salah satu ruangan VVIP rumah sakit. Vale menggendong Liam yang sedang tertidur dengan telaten sedangkan Sean merangkul istrinya.


Valerie menatap Kakek Sean dan Ayah Sean yang sedang berbincang ringan. Kakek Sean bangun dari koma di hari ia melahirkan. Entah keajaiban apa hingga Kakek Sean bisa siuman tiba-tiba di hari menggembirakan itu.


Kakek dan Ayah Sean menatap ke arah Sean dan Vale dengan tatapan tajam. "Kakek, aku membawa istriku dan anakku ke sini untuk bertemu denganmu. Namanya Liam, dia cicitmu dan dia cucumu Ayah." ujar Sean tanpa basa-basi.


Vale tersenyum ramah. "Kau ingin pamer bukan? Kau berhasil, sekarang pergilah." ujar Ayah Sean dingin dan datar.


"Aku akan segera pergi. Kakek pasti sudah mendengar dari Ayah bahwa aku kini memimpin perusahaan menggantikan posisimu. Aku membatalkan pertunangan dengan Anna dan akan menikah dengan Valerie satu minggu lagi."


"Kalian bisa hadir jika ingin." ujar Sean setelah itu merangkul Valerie untuk pergi dari sana. Namun sebelum tangannya membuka pintu, langkah Sean berhenti dan ia berbalik kembali.


"Setelah aku memiliki anak, aku tidak ingin ada rasa benci lagi untuk siapapun. Aku hanya ingin memulai hidup baru dengan bahagia bersama keluargaku. Seandainya kalian tidak menganggapku sebagai alat pewaris, melainkan sebagai seorang anak dan cucu, kita tidak akan berakhir seperti ini. Bagaimanapun juga kalian tetaplah keluargaku." ujar Sean panjang lebar lalu berbalik kembali dan pergi dari sana, meninggalkan ayah dan kakeknya yang terdiam tak membuka suara.


Bersambung...

__ADS_1


Appreciated me with your love, Vote, and Comment. Thank You if you are not a dark readers.


Next Chapter : Minggu (21/2)


__ADS_2