
Vale menatap jam ditangannya dengan mata mengantuk. Pukul 10 malam. Satu jam lagi, dia akan pulang. Valerie menatap kembali laptopnya dengan tak semangat.
Mencoba menggerakkan tangannya untuk mengetik, namun akhirnya menyerah dan menidurkan kepalanya ke atas meja.
Vale menggeram kesal dengan wajah menahan tangis mengingat wajah Sean yang mengerjainya hari ini.
"Dasar bejat." maki Vale sambil menutup matanya mencoba menenangkan pikirannya.
"Hhh... Aku mau pulang." ujar Vale lagi dengan nada layaknya anak kecil.
Valerie merenggut sambil menutup matanya. Hingga tanpa sadar, akhirnya ia tertidur karena rasa kantuk yang tak bisa lagi ia tahan.
Valerie tampak tertidur tenang di ruangannya. Wanita itu bahkan tak menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya. Memperhatikannya beberapa saat, lalu menggendong tubuh Valerie keluar dari kantor.
***
Vale membuka mata sambil menggeliat di atas ranjang empuknya. Masih dengan mata tertutup, Vale mengelus ranjang lembut dan empuknya dengan senyum gembira.
Hingga akhirnya Vale terduduk dengan cepat dengan mata membulat lebar. "Aku.... aku kenapa bisa di rumah?" tanya Valerie pada dirinya sendiri dengan wajah bingung.
Seharusnya ia masih berada di kantor saat ini. Valerie ingat ia ketiduran di kantor. Jadi kenapa dia bisa di sini?
"Aishh... Apa Sean lagi?" batin Vale tak yakin. Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia berharap Sean yang mengantarnya.
Valerie menatap jam dinding dengan cepat. "Masih jam segini, aku tidur lagi deh." ujar Vale masa bodoh. Dia masih mengantuk dan hari ini dia juga masih harus lembur. Akhirnya Valerie kembali tertidur dengan begitu cepat di dalam kamarnya.
Sedangkan dilain sisi, Sean kini bersiap dengan setelan jasnya. Sean menatap dirinya di depan cermin sambil mengikat dasinya dengan begitu ahli.
Setelah semuanya selesai, Sean keluar dari rumahnya, masuk ke dalam mobilnya dan berangkat entah menuju kemana.
Mobil yang ia kendarai, melaju menuju sebuah tempat yang beberapa hari ini ia pikirkan dengan begitu matang. Tempat yang tepat untuk meminta bantuan.
Sean memberikan kunci mobilnya kepada seorang petugas Valet, lalu masuk ke dalam sebuah gedung tinggi dan besar yang begitu terkenal di kota ini. Raveno's Company.
"Selamat pagi Tuan Romanov, Mr. Raveno sudah menunggu anda di ruangannya?" ujar sang Resepsionis dengan penuh senyum dan sopan santun.
"Mari ikut saya." ujar resepsionis tersebut menuju sebuah lift khusus menuju lantai dimana sang pemilik perusahaan berada.
Sean masuk ke dalam lift dan berhenti tepat di lantai 77. Sean keluar dari dalam lift dan langsung disambut oleh sang Sekretaris.
__ADS_1
"Steve, sudah lama tidak bertemu."
"Iya Tuan Aliano, ohhh.. atau seharusnya Tuan Romanov?" ujar Steve si sekretaris yang tampak akrab dengan Sean.
Sean tampak tertawa kecil. "Kau tau aku lebih suka yang mana." ujar Sean yang dibalas senyum mengerti oleh Steve.
Steve membuka pintu ruangan atasannya, lalu Sean masuk ke dalam dengan senyum cerah.
"Davin, sudah lama kita tidak bertemu." sapa Sean sambil menatap sosok Davin yang duduk dengan tenang sambil menyesap kopi di atas sofanya.
Davin membalas dengan senyum akrab. Sean duduk dihadapan Davin dengan segelas kopi yang sudah tersedia di depannya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Davin to the point.
"Seperti biasa, seorang Davin yang tidak suka berbasa-basi. Bagaimana istrimu?" tanya Sean sambil mengangkat gelas kopinya dan menyesapnya perlahan.
"Baik." jawab Davin seadanya.
"Anak-anakmu?" tanya Sean lagi.
"Mereka baik dan sehat seperti Mommynya." ujar Davin lagi.
"Aku ingin meminta bantuanmu. Berapapun bayarannya akan aku bayar." ujar Sean.
Davin tersenyum miring. "Ada masalah apa?" tanya Davin.
"Sangat banyak masalah, sehingga aku hanya ingin menghancurkan mereka." jawab Sean dengan penuh sorot kebencian dan kemarahan.
"Aku bisa memberikan bantuan apapun karena kita berteman sudah sejak lama." jawab Davin.
Sean tersenyum gembira. "Terimakasih." Ujar Sean bersyukur. Kedua pria tampan itu, melanjutkan kegiatan mereka dengan mengobrol ringan sambil bersenda gurau.
***
Valerie masuk ke dalam ruangannya lagi sambil meregangkan ototnya. Bekerja lagi. Valerie menghampiri mejanya dan menangkap sebuah kotak berbalut pita yang terletak di atas mejanya.
Valerie duduk di atas kursinya, lalu menatap kotak tersebut dengan wajah bingung. "Dari siapa?" tanya Vale pada dirinya sendiri. Valerie mencoba mencari sebuah surat atau apapun untuk mengetahui siapa pengirimnya, namun tidak ada petunjuk apapun.
Jujur saja Valerie gugup untuk membukanya. Entah kenapa perasaannya tidak enak menatap kotak tersebut. Namun karena penasaran, Valerie perlahan menarik pita di kotak tersebut hingga lepas, lalu membuka penutup kotak tersebut.
__ADS_1
Valerie mengernyit melihat sebuah foto anjing hitam di dalam kotak tersebut. Valerie mengambil foto tersebut dan mencoba melihat bagian belakang foto tersebut.
I have a Black Dog, If you touch, You'll get bitten.
Valerie makin mengerut tidak mengerti apa maksud pengirim kotak tersebut. Valerie menggidikkan bahu tidak peduli, lalu membereskan kembali kotak tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
Bunyi ketukan pintu membuat Vale mengangkat kepalanya singkat. "Masuk!" ujar Vale.
Pintu terbuka dan muncullah sosok perempuan yang selalu ditugaskan untuk memanggilnya.
"Ms. Vasylchenko, rapat akan segera dimulai." ujarnya.
"Aku akan datang." ujar Vale sambil mengambil berkas yang akan ia bawa untuk rapat.
Valerie melangkah menuju ruang rapat dengan begitu anggun. Valerie sesekali merapikan pakaian dan rambutnya agar terlihat rapi dan sopan. Valerie masuk ke ruang rapat dan duduk di salah satu bangku yang sudah tersedia.
Satu bangku kosong yang belum terisi dan itu adalah bangku Sean. Valerie menoleh ke arah pintu saat Sean masuk bersama dengan Brenda sekretarisnya.
"Silahkan duduk!" ujar Sean mempersilahkan kami agar duduk.
"Kita mulai rapatnya sekarang!" ujar Sean datar.
Valerie bangkit berdiri mengambil posisi untuk memulai presentasinya. Valerie menjelaskan beberapa hal sambil menunjuk gambar design yang tersedia di layar proyektor.
"Pembangunan 'Into the New World' akan memakan waktu kurang lebih satu tahun, dan saya yakin proyek ini akan menjadi kesuksesan besar bagi perusahaan." ujar Valerie menatap Sean lekat dengan pandangan penuh keyakinan.
Sean tersenyum membalas tatapan Valerie. Valerie yang melihat Sean tersenyum padanya, langsung menolehkan kepalanya ke sembarang arah dengan raut merah yang perlahan muncul di pipinya.
"Ekhmmm... Sekian Presentasi dari saya, Terimakasih." ujar Valerie menutup presentasinya dan duduk kembali ke kursinya.
Rapat berjalan dengan lancar. Yang tidak lancar hanyalah, Sean yang terus-menerus menatap Valerie dengan terang-terangan selama rapat berlangsung. Sedangkan Valerie hanya dapat duduk mencoba bersikap biasa saja hingga rapat tersebut selesai.
Valerie melangkah keluar dari ruang rapat, namun belum sampai membuka pintu, tangan Valerie ditarik dari belakang dengan begitu cepat.
Valerie tersentak saat punggungnya menabrak tembok. Vale mengangkat kepalanya dan menatap sosok Sean yang kini berdiri dengan jarak begitu dekat dengannya.
"Sean."
Bersambung...
__ADS_1
Next Up : 8/8