
Anna melangkah masuk ke dalam sebuah Mansion besar dan megah yang tak asing lagi baginya. Mansion keluarga Romanov.
"Anna, kamu sudah pulang." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dengan gaya pakaiannya yang mewah, menghampiri sosok Anna dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.
Wanita itu adalah Mama tiri Sean. "Apa Sean ikut denganmu?" Anna menggeleng.
"Tidak Ma. Anna datang sendiri untuk bertemu dengan Papa dan Kakek." jawab Anna.
Mama tiri Sean tersenyum lembut. "Anak itu memang selalu membuatmu kesulitan." ujar Mama tiri Sean sambil mengelus lembut kepala Anna.
Anna tersenyum canggung karena gugup. Biasanya ia dan Mama tiri Sean berinteraksi dengan santai, namun kali ini berbeda. Anna terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
"Ma, apa Kakek ada di Mansion?" tanya Anna.
"Ada. Seperti biasa dia berada di ruangannya." ujar Mama tiri Sean.
"Kalau begitu Anna pamit bertemu dengan Kakek ya." ujar Anna berusaha bersikap ceria dan santai.
"Baiklah. Setelah urusanmu dengan Kakek selesai, Mama ingin mengajakmu berbelanja." ujar Mama tiri Sean.
"Baik Ma." jawab Anna tersenyum lebar menunjukkan jejeran giginya.
Anna melangkah pergi setelah berpamitan dengan Mama tiri Sean dan pergi menuju ruangan Kakek Sean.
Anna menatap pintu besar mewah yang terlihat tak asing. Dibalik pintu itulah, Kakek Sean sering menghabiskan waktunya.
Tangan Anna terukur untuk mengetuk pintu sebentar, lalu masuk ke dalam.
"Annastasia, kamu datang?" tanya Gregory.
Anna tersenyum lembut. "Iya Kakek." jawab Anna lembut.
Anna duduk di sofa yang tersedia disana, bersama dengan Gregory yang juga tengah bersantai di sofa dengan pakaian rumahannya.
"Kamu datang bersama Sean?" tanya Gregory.
"Tidak kek." jawab Anna.
"Lalu ada apa? Apa Sean bertingkah lagi?" tanya Gregory memancing dengan basa-basi. Gregory jelas tau apa maksud dan tujuan Anna datang kemari.
"Tidak Kek, Sean benar-benar baik padaku." ujar Anna.
"Lalu, ada apa?" tanya Gregory lagi.
Anna menarik nafas dalam, lalu memasang wajah menyedihkan.
"Sean begitu merindukan Ibunya yang terbaring di rumah sakit dan tidak pernah sadar. Sean menceritakan bahwa dia menemukan dokter hebat di New York dan akan merawat Ibunya di New York, tetapi dia yakin Kakek dan Papa tidak mengijinkannya membawa Ibunya ke New York."
"Siapa bilang?" tanya Gregory.
Kening Anna mengerut bingung mendengar respon Gregory.
"Jika dia ingin membawa Ibunya ke New York untuk dirawat, silahkan saja." ujar Gregory santai dengan wajah biasa saja.
Anna terperanjat. "Benarkah kek?" tanya Anna bersemangat. Anna tidak percaya kalau jalannya akan semudah ini.
"Benar." jawab Gregory.
__ADS_1
Anna tersenyum begitu lebar. Dalam hati ia bersorak gembira dan rasanya ingin meloncat riang.
"Kalau begitu, aku akan memberitahu Sean sekarang." ujar Anna sambil bangkit berdiri dengan semangat, lalu melangkah pergi dari sana sambil menatap lekat ponselnya.
Sedangkan Gregory menatap punggung Anna yang menjauh dengan seringai tajamnya.
***
Valerie melangkah cepat ke dalam ruangan Sean. Vale membuka pintu dan menatap punggung Sean yang berdiri di depan kaca bening besar yang menunjukkan kota New York.
Sean menoleh ke arah pintu ketika menyadari kedatangan Valerie. Sean melempar senyum saat Vale ikut tersenyum dan melangkah cepat ke arah Sean.
Senyum lebar Vale tidak pudar, lalu ia melempar tubuhnya ke dalam dekapan Sean.
Sean dengan sigap menangkap tubuh Valerie dengan hati-hati. "Kamu hamil sayang." ujar Sean memperingati.
"Rencana kita benar-benar berhasil? Ibu kamu benar-benar akan dirawat disini?" tanya Vale takjub.
"Iya benar." jawab Sean singkat padat dan jelas.
Vale tersenyum lebar begitu gembira. Ia mengeratkan pelukannya meloncat kecil.
"Kita berhasil." ujar Vale bersorak.
Sean tersenyum lebar melihat tingkah lucu Vale. Sean dengan cepat langsung menggendong Valerie ala Bridal style dan membawa wanita itu ke dalam kamar pribadi yang berada di ruangannya.
Valerie melingkarkan tangannya di leher Sean dengan sigap. Sean membaringkan pelan tubuh Valerie di atas kasur, lalu merangkak di atas tubuh Valerie dengan senyum menggoda.
Valerie dan Sean saling melempar tatapan lembut satu sama lain. Saling bertatapan lama dengan pandangan penuh cinta. Tangan Valerie terulur untuk membelai pipi Sean.
"Aku yakin Ibu kamu akan sangat bangga melihatmu yang sekarang." ucap Valerie tersenyum lembut.
"Kamu hanya perlu membuatnya mengingatmu. Kamu satu-satunya putranya yang dia cintai dan perjuangkan sendirian. Dia akan mengingatmu." ujar Vale menenangkan hati Sean. Dan berhasil, pria itu tersenyum lembut sebelum akhirnya mencium kening Valerie penuh kasih sayang.
tak puas dengan kecupan itu, Valerie menarik tengkuk Sean dan mempertemukan bibirnya dengan bibir menggoda Sean. Beradu dan saling membelai satu sama lain.
Jari jemari Vale menyusup di helaian rambut Sean dan menarik-narik rambut Sean dengan menggoda.
Nafsu Sean tentu saja terpancing. Nafas Sean memburu. Tangannya merambat ke punggung Vale untuk membuka resleting gaun yang dikenakan oleh Valerie.
Belum sempat melancarkan aksinya, bunyi dering ponsel milik Sean berbunyi dengan nyaring, menginterupsi kegiatan mereka.
Vale mendorong tubuh Sean menjauh. "Angkat dulu!" ujar Valerie sambil menunjuk ponsel Sean yang tergeletak di atas meja nakas.
Sean mendecak kesal, lalu mengambil ponselnya dengan wajah kecewa. Sean menatap nama si penelepon dengan memutar mata, namun setelahnya, raut wajah Sean berubah menegang dan ia terdiam.
Valerie menyadari perubahan ekspresi Sean dan langsung menatap layar ponsel Sean.
'Kakek'
Valerie kini tau apa penyebab keterdiaman Sean. Vale menunggu respon apa yang akan Sean lakukan.
Sean mengangkat panggilan tersebut. "Halo."
"Hai Sean, kau tidak merindukan kakekmu ini?"
Sean terdiam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu.
__ADS_1
"Anna datang kemari jauh-jauh untuk menyampaikan keinginanmu, kau harus berterimakasih padanya, karena dia, aku menyetujui keputusan itu."
Sean mengeratkan rahangnya. "Dia sudah tau." batin Sean. Bibir Sean menyungging miring sambil mendecih.
"Tidak usah berpura-pura! Aku tau kau mengetahui kelakuan Anna dan Nikolay yang sebenarnya." ujar Sean mengejek.
Terdengar suara tertawa Gregory dari seberang sana. "Hahahaha, aku akui rencana yang kekasihmu itu rancang cukup bagus, dia cukup pintar." puji Gregory.
Sean tersenyum. "Bagaimana? Kau terkesan dengan cara kerja istriku?" tanya Sena membanggakan Vale didepan Kakeknya dan menyebut Valerie sebagai istrinya.
Gregory terkekeh. "Aku akui dia pintar dalam memojokkan Anna, tetapi dia tidak cukup pintar untuk memilih tetap berdiri disampingmu dan melawanku." ujar Gregory penuh kesombongan.
Valerie mendengar semuanya. Bagaimana keluarga Sean tidak menyukai dirinya karena ia tidak pantas berdiri di samping Sean.
"Kau dan Anna akan tetap menikah."
"Maka jangan salahkan aku jika aku menghancurkan reputasi keluarga Petrov sekaligus Romanov disaat acara pernikahan nanti." ujar Sean menantang.
Sean menutup sambungan telepon tersebut dan melempar ponselnya ke atas kasur.
Valerie tersentak saat Sean melempar kasar ponselnya. Vale melihat Sean terdiam ke arah lain sambil mencoba menahan amarah. Tangan pria itu terkepal erat hingga urat-uratnya tercetak.
Valerie dengan penuh kelembutan memeluk tubuh Sean dari belakang dan mengelus dada pria itu naik turun. Elusan tangan Valerie yang penuh kelembutan seakan mengisyaratkan api yang membara di dalam dirinya untuk surut.
Dengan ajaib rasa amarah yang membuncah di dada Sean perlahan mereda. Sean menarik nafas teratur untuk mengontrol emosinya. Setelah emosinya membaik, Sean berbalik menatap ke arah Valerie.
Sean menggenggam kedua tangan Valerie dengan erat, laku mengecup punggung tangan Vale lembut.
"Dengarkan aku! Setelah Ibu sampai disini, kamu, Kakek-Nenek dan Bibi akan tinggal bersama ditempat yang sudah aku sediakan. Kamu mengerti?" tanya Sean.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Vale mengerutkan wajahnya khawatir.
"Aku akan pergi menyelesaikan masalah ini. Sementara waktu, kamu harus menjaga diri dan Baby dengan baik di tempat yang aman agar aku bisa tenang." Valerie menggeleng cepat, lalu memeluk Sean erat.
"Aku ikut bersamamu." Valerie menenggelamkan wajahnya di dada Sean sambil menahan tangis yang membuncah di dadanya.
Sean mengelus punggung Valerie naik turun. "Aku akan segera kembali." ujar Sean menenangkan Valerie.
Valerie menggeleng. Hingga akhirnya terdengar isakan kecil dari bibir Valerie. Sean juga bersedih. Berat rasanya meninggalkan Valerie yang sedang mengandung anak mereka.
Valerie menangis. Sean merasakan air mata hangat Valerie membasahi kemejanya.
"Bagaimana jika kamu tidak kembali? Aku takut." ucap Vale sambil terisak.
Vale mencengkeram erat kemeja Sean, tidak membiarkan pria itu pergi darinya.
"Aku pasti pulang. Kamu tidak mempercayaiku?" Vale terdiam dan terus menangis.
Dia mempercayai Sean, hanya saja hatinya tidak siap berjauhan dari pria itu.
"Apa kamu akan kembali sebelum aku melahirkan anak kita?" tanya Vale masih menyembunyikan wajah di dada Sean dengan sesenggukan.
Sean mengangguk. "Tentu saja." jawab Sean yakin.
Valerie menjauhkan wajahnya dari dada Sean. Sean dapat melihat mata Valerie memerah dengan genangan air mata dan bibirnya menekuk turun dan bergetar menahan tangis. Hati Sean berdenyut nyeri melihatnya.
Sean langsung menangkup kedua pipi Valerie dan mengusap pipi tersebut dengan kedua jempolnya. Sean mengecup kedua mata Valerie bergantian dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"I will back to you."
Bersambung...