The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man
Chapter 6


__ADS_3

Valerie POV


Mataku mengerjab pelan, Aku mencoba duduk dan langsung merasakan pusing dan mual yang luar biasa. Kutatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi dan sialnya aku sudah terlambat bekerja. Shit!


Aku bangkit ke dalam kamar mandi, bergegas mandi dan mengeluarkan seluruh yang mengganjal di dalam perutku. Setelah selesai, aku melangkah ke meja makan dan di sana sudah ada kakek dan nenek yang  terdiam dengan wajah datar.


Mati aku! Mereka pasti akan marah besar. Aku melangkah mendekat dengan kepala menunduk, duduk dengan begitu pelan dan jantungku yang  berdegup kencang.


"Maafin Vale, Vale benar-benar menyesal." ucapku langsung dengan wajah menunduk, tak berani menatap kakek-nenekku.


"Makan! Itu sup penghilang pengar." ucap kakek dingin. Aku mengangkat kepalaku takut-takut dan akhirnya memakan sarapanku dalam diam.


Hingga akhir sarapan selesai, aku masih terdiam menunggu segala respon yang akan diberikan oleh kakek dan nenek.


"Kenapa ke sana semalam?" tanya kakek tegas.


"Vale diajak temen kantor." jawabku. Ya, aku tidak akan mengatakan kalau dia adalah Melanie, bisa-bisa jika Melanie main ke sini kakek dan nenek akan mengusir dia.


"Kamu kan udah janji sama Nenek dan Kakek supaya tidak meminum alkohol dan pergi ke tempat seperti itu Vale." ucap nenek lembut.


"Iya, Vale salah. Maafin Vale." ucapku sedih dengan kepala menunduk.


"Yaudah, Kakek sama Nenek maafin kali ini. Kamu berangkat kerja sana!" tambah nenekku lagi. Aku tersenyum bahagia karena mendapat maaf mereka, lalu mencium pipi mereka berdua dengan gembira.


"Vale berangkat ya, bye." aku berangkat dengan senyum lebar. Aku tau aku sudah telat, tetapi tetap aku akan datang ke Kantor dan bekerja.


Setelah menghabiskan 20 menit di jalan, akhirnya aku sampai ke Kantorku. Aku melangkah menuju ruanganku, sampai sebelum aku melangkah masuk, langkahku terhenti dengan suara seseorang memanggilku.


"Ms. Vasylchenko." aku menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang wanita di sana dengan kepala menunduk.


"Ya."


"Anda dipanggil oleh Ketua." jawabnya. Astaga, pasti aku akan diomeli oleh nenek lampir itu.


"Aku akan ke sana." ucapku. Dia melenggang pergi, sedangkan aku masih merasa kesal. Dengan langkah malas, aku menuju ruang atasanku.


Aku mengetuk pintu ruangan atasanku dengan malas.


"Masuk!" setelah mendengar perintah dari dalam, aku memasuki ruangan tersebut dengan pelan.


Aku menatap seorang wanita yang sudah sangat aku kenal. Dia Lucy, wanita berumur kepala empat dan memiliki bibir yang cerewet.


"Permisi Mam."


"Kamu terlambat?" tanyanya dingin. Aku mengangguk "Iya Mam. "Jawabku pelan.


"Hari ini kamu lembur sebagai hukumannya." ucap Lucy yang berhasil membuatku ternganga. Ya, sebagian orang mungkin menyukai lembur karena gajinya akan bertambah. Namun aku sangat membenci lembur dan nenek lampir ini selalu menghukumku dengan lembur.

__ADS_1


"Shh.." aku meringis sedih dengan kebodohanku yang bisa-bisanya menerima ajakan Melanie, padahal hari ini aku harus bekerja. Percuma juga aku mendebat nenek lampir ini, dia tidak akan merubah hukumanku, karena dia sangat tau aku membenci lembur.


"Pergilah!" aku melangkah ke luar dengan malas, lalu melangkah ke ruanganku.


"Ms. Vasylchenko."


"Apa lagi sekarang ya Tuhan?" gerutuku kesal dengan wajah mengkerut menoleh ke sumber suara.


"Anda dipanggil oleh Presdir."


"Ya Tuhan, dia lagi. Mengapa dia selalu menggangguku? Tak ada hari tenang semenjak dia datang." gerutuku kesal dengan wajah frustasi. Tak peduli jika wanita di depanku mendengar aku memaki Presdir Perusahaan ini.


Dengan langkah berat, aku melangkah menuju ruangan pria gila itu. Melewati Brenda yang ingin angkat bicara dengan gaya masa bodoh, lalu mendorong kasar pintu dan masuk ke dalam tanpa mengetok.


BRAK!


"APA LAGI SEKARANG? "Tanyaku berteriak kesal, lalu terdiam saat melihat Sean tak sendiri di ruangan ini. Mataku membola lebar menatap tiga orang pria yang sekarang menatap ke arahku.


Ada dua orang pria asing di sofa yang kini menatapku lekat. Aku menatap ke arah Sean yang kini tersenyum miring seakan mengejekku. Aku mendengus merutuki kebodohanku. Aku mempermalukan diriku sendiri di depan Sean dan dua koleganya.


"Hishh..." dengan cepat aku berlari menuju ruangan di sebelah kananku dengan jantung berdegup kencang. Wajahku memerah malu dan tak berani memapangkan wajahku pada mereka.


Aku tertegun melihat sekitar ruangan yang aku masuki, ternyata adalah sebuah kamar pribadi. Ada ranjang di sini, beberapa lemari, televisi, dan kamar mandi. Haih.... Kenapa aku masuk ke sini? Kenapa aku tidak keluar saja tadi? Bodohnya kau Valerie.


Jantungku masih berdegup kencang dan berulang kali merutuk sambil memukuli kepalaku kesal. Aku duduk di atas ranjang dan mencoba menetralkan seluruh tubuhku yang bergejolak malu.


Sean menatap gadisnya yang berlari masuk ke ruangan pribadi miliknya dengan wajah memerah malu. Sean masih tersenyum lucu sambil menatap pintu yang sudah tertutup tersebut


"Gadis kecil yang imut." ucap salah seorang pria bernama Ben.


"Wajahnya terlihat marah saat masuk, kau melakukan apa padanya Sean?" tanya Gilbert sambil menatap Sean heran.


Sean menatap kedua sahabatnya dengan raut sama. Senyumnya masih tak bisa luntur mengingat berbagai ekspresi Vale yang menggemaskan.


"Dia cantik." ucap Ben lagi dan kini Sean menatap ke arahnya dengan wajah marah.


"A—Apa? Di—Dia kan memang cantik." ucap Ben gugup karena mendapat tatapan tajam dari Sean.


"Ya, dan dia milikku. Kalian jangan coba-coba mendekatinya!" ucap Sean marah.


"Siapa juga yang berani mengusik milikmu itu?" tambah Gilbert dingin. Gilbertlah yang bisa bersikap santai saat Sean marah dan kesal.


"Kalian pergilah! Aku akan menemuinya." ucap Sean langsung bangkit menuju ruangan pribadinya tanpa mempedulikan kedua sahabatnya itu.


Valerie POV


Cklek.

__ADS_1


Kutatap ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Sean yang masuk dengan wajah dinginnya. Dengan kesal aku melangkah ke arahnya dan memukul dada bidangnya geram.


"Kamu membuatku malu." kesalku sambil menatap wajahnya dengan wajah hampir menangis.


Rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku di pasir saat ini. Tanpa terduga, Sean menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku erat.


"Kau! Kenapa kau memanggilku?" tanyaku kesal di dalam kukungannya. Memberontak ingin dilepaskan, namun kekuatanku tetap tak sebanding dengannya.


"Aku merindukanmu." ucapnya lembut di telingaku. Nafasnya yang panas membuatku terdiam dengan tubuh merinding. Kurasakan bagaimana Sean menggigit cuping telingaku dan menghembuskan nafasnya ke dalam. Tubuhku meremang dan tanpa sadar tanganku mencengkram jasnya.


"Sensitif huh?" tanyanya pelan dengan suara seraknya yang seksi.


"Jangan!" aku mengerang saat Sean mencium daun telinga bagian bawah dan menariknya lembut dengan bibirnya. Berulang kali dia melakukannya dan aku hanya bisa menggigit bibir untuk menahan eranganku.


"Kamu membuatku marah semalam." ucapnya dan keningku mengkerut bingung.


Kepalaku terputar mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sekelebat kejadian itu masuk ke dalam pikiranku. Aku mulai mabuk, seorang pria yang mengelus pahaku, lalu aku melangkah menuju dance floor, hingga beberapa orang berbaju hitam dan seorang pria yang menghampiriku. Dia.... SEAN. Aku mencoba mengingat kembali, hingga saat Sean menggendongku ke mobilnya dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.


"Kau?" tanyaku tak percaya.


"Meminum alkohol tidak bagus untuk wanita, bisa menganggu sistem reproduksi." ucapnya sok bijak. Kutatap wajahnya sinis sambil mencebik bibir kesal dan tubuhku masih berada dipelukannya.


"Kamu mengantarku ke Rumah?" tanyaku gugup sambil menatapnya lekat. Aku sudah malas memberontak untuk melepaskan diri dari kukungannya.


"Menurutmu?" tanyanya balas menatapku.


"Setelahnya?" tanyaku lagi menatapnya menyelidik.


"Aku langsung pulang setelah mengantarmu ke kamar. Mana mungkin Kakek, Nenek dan Bibimu bisa mengangkat tubuhmu ke kamar." jawabnya santai dengan wajah datar. Ya benar juga, Kakek benar-benar overprotektif tentangku. Tetapi kenapa kakek dan nenek tidak bertanya bahkan membahas tentang Sean tadi pagi?


Dulu saat ke Bar pertama kali, aku diantar pulang oleh seorang teman priaku. Keeseokan paginya kakek dan nenek menyerbuku dengan berbagai pertanyaan, apa saja yang kulakukan? Siapa pria tersebut? Siapa namanya? Bahkan bertanya ada hubungan apa dia denganku? Tetapi kakek dan nenek bersikap biasa saja tentang Sean. Ada apa sebenarnya?


"Yasudah lepaskan aku! Banyak pekerjaan yang harus kulakukan." ucapku kembali mendorong tubuh Sean dariku.


"Kamu sudah masuk ke dalam kamar pribadiku, jadi kita harus menyelesaikan semuanya." ucap Sean menatapku dengan wajah menyeramkannya lagi. Aku tersentak saat dia mendorongku ke atas ranjang lalu menindih tubuhku.


Bersambung....



maaf lama up cerita ini, mohon ditunggu ya. 😊😘


aku baca komentar kalian yang coba nebak dan ada yang mulai mendekati gituloh. 🤫


ayo coba ditebak lagi, udah sampe chapter 6 loh, udah mulai kebongkar nggak teka-tekinya. kenapa sean langsung ngeembat vale diawal pertemuan?


jangan lupa like, share, dan comment dan tambahkan sebagai favorit kalian. ❤️

__ADS_1


bye... 😘💕


__ADS_2