
Valerie POV
"Sean, kamu tidak pergi bekerja? "Tanyaku. Sean masih senantiasa duduk di sampingku dengan pakaian casualnya sambil menggenggam tanganku erat.
Awalnya saat ia mengamit tanganku, aku langsung memberontak, namun dia langsung melempar senyum mengerikannya seakan mengisyaratkan 'kamu menolak, tanganmu patah'.
Dan akhirnya aku hanya dapat pasrah menerima genggaman tangannya, walau sejujurnya jantungku berdetak kencang merasakan tangan besar dan hangatnya menggenggam tanganku dengan erat.
"Tidak, bagaimana mungkin aku bekerja di saat ada sesuatu yang lebih menarik di rumahku sendiri. "Ucapnya dengan senyum senang sambil menatapku dengan pandangan menggoda.
Kurasa sifat mesumnya, sudah mendarah daging hingga meresap ke seluruh tulang tubuhnya. Akhirnya aku diam tak membalas ucapannya yang membuat kepalaku menggeleng.
"Sayang. "Panggilnya lembut. Dadaku bergetar seakan di sengat listrik tiap kali kata itu keluar dari mulutnya. Sean benar-benar memanggilku seperti seorang kekasih yang sangat memuja wanitanya.
"Hmm. "Jawabku gugup, namun aku menyembunyikannya sedemikian rupa.
"Tempat apa yang kau impikan ingin datang kesana? "Tanyanya tiba-tiba.
"Aku... Aku suka sebuah kota yang sejak kecil Mama dan Papaku impikan kami akan berlibur ke sana bersama. "Ucapku dengan pikiran melayang kemasa di mana aku masih kecil dan bahagia bersama papa-mamaku.
"Dimana? "Tanya Sean tak sabar. Kutolehkan kepalaku menatap Sean setelah khayalanku selesai, lalu menatapnya dengan kening berkerut.
"Aku mana mungkin memberitahu padamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan pergi kesana bersama suamiku nanti untuk berbulan madu. "Jawabku. Kulihat wajah Sean yang tadi tersenyum langsung berubah kusut setelah mendengar jawabanku.
"Kamu pikir siapa yang akan menjadi Suamimu? Kamu berharap pria lain menjadi Suamimu? "Tanyanya tajam. Genggaman tangan Sean mengerat mengamit tanganku kuat. Membuatku meringis sedikit. Keningku semakin berkerut, yaiyalah mana mungkin suamiku dia.
Namun wajah menyeramkan Sean saat ini membuat alarm tanda bahaya di kepalaku berbunyi kencang. Dia akan meledak sebentar lagi. Aku harus memutar otak untuk memadamkan situasi mencekam ini.
"Ehh... Bagaimana jika kamu menebaknya saja. "Ucapku sambil menatapnya lekat dengan pandangan berharap dia tak akan meledak.
Perlahan wajah menyeramkan Sean berubah tenang dan genggaman tangannya mengendur berganti mengusap tanganku pelan. Dia sadar kalau dia sudah menyakiti tanganku.
"Apa yang akan kudapatkan jika aku berhasil menebak? "Tanyanya menantang.
"Terserah kamu. "Ucapku. Kulihat senyum miring mengembang di bibirnya, membuatku bergidik takut. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu yang sangat menguntungkannya. Namun aku juga tak akan kalah.
"Namun aku hanya akan memberikan tiga hint tentang kota itu. "Ucapku.
"Baiklah siapa takut. "Jawab Sean tanpa ragu-ragu. "Bersiaplah kalah sayang. "Lanjutnya membisikkan lirih kata itu di telinga kananku.
Mataku menatapnya sinis. "Aku tak akan kalah. "Ucapku penuh tekad sambil mengeratkan genggamanku, mengisyaratkan bahwa aku bersungguh-sungguh.
Kulihat senyum Sean mengembang sempurna, lalu menarik tanganku ke bibirnya dan mencium tanganku lembut.
"Aku tak sabar menunggu hadiahku. "Ucapnya dengan senyum miringnya menatapku lekat.
Bibirku mencebik kesal. Kenapa dia yakin sekali akan menang? Kuhempaskan tangannya yang menggenggam tanganku.
"Musuh tidak boleh saling berdekatan. "Ucapku kesal dan dia membalas dengan kekehan senang.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang, katakan tiga hint tersebut! "Ucapnya tak sabar.
"Pertama, kotanya Indah saat malam hari. "Hahaha... Hatiku tertawa jahat setelah mengucapkannya. Banyak kota yang sangat Indah saat malam hari, dia pasti kebingungan.
Kulihat wajahnya tampak berpikir dan aku tersenyum puas melihatnya.
"Kedua, bangunannya sangat indah berjajar rapi, beserta bangunan dengan arsitektur abad pertengahan. "Ucapku lagi.
"Ketiga, I really like this city, aku suka bagaimana menikmati pemandangan dengan cara yang berbeda. "Ucapku. Aku tersenyum senang menatap Sean yang juga menatapku.
Mungkin dia sekarang sedang memutar otaknya dengan keras. Namun, sedetik kemudian ia langsung melempar tatapan lekat tepat menembus mataku.
Aku terkesiap kaget dan balas menatapnya dengan wajah bingung. Perlahan, kulihat kedua sudut bibir Sean bergerak naik ke atas memunculkan senyum penuh kemenangan. Apa dia menemukan jawabannya?
Bruk..
Sean tiba-tiba mendorong tubuhku berbaring di sofa, di ikuti tubuhnya yang menindihku. Kedua tangannya mengurungku tepat di kedua sisi kepalaku.
"Ada apa? "Tanyaku heran. Kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti ini.
"Aku berjaga-jaga agar hadiahku tidak kabur. "Ucapnya lagi-lagi dengan wajah menggoda.
"Kamu yakin? "Tanyaku dengan wajah menantang.
"Tentu saja. "Ucapnya sungguh-sungguh, seakan yakin dengan jawaban yang berkeliaran di otaknya.
"Katakan jawabanmu! "Ucapku.
"Kedua, aku mulai tau saat kamu mengatakan abad pertengahan, yang artinya struktur bangunan romawi, yang berarti kota tersebut berada di Italy."
"Ketiga, kamu mengatakan menikmati dengan cara berbeda. Kebanyakan orang berlibur akan berjalan kesuatu tempat bersejarah dan terkenal, menikmati kuliner khas, dll. Namun di Italy, ada sebuah kota yang di kenal dengan kota air yang sangat terkenal dengan kanal-kanalnya (Gondola). Menaiki kanal untuk menikmati keindahan kota tersebut adalah cara yang berbeda. "
"Dan kota itu adalah Venesia. "Ucapnya, sepanjang keterangannya yang menunjukkan bahwa dia adalah pemikir yang hebat. Aku hanya dapat terdiam cengo mendengar semua tuturan puzzle yang ia susun di otaknya.
Dan Sean benar, jawabannya tidak salah. Venesia adalah kota yang kuimpikan itu.
"Apa aku benar? "Tanyanya.
Aku terdiam sebentar, tak ingin membuka suara dan mengatakan bahwa dia benar.
"Ya. "Ucapku singkat dengan wajah menunduk. Terkutuklah kebodohanku.
"Jadi apa yang kamu inginkan? "Tanyaku malas. Aku kesal, saat melihat wajahnya yang pasti memikirkan keinginan yang sangat memuaskan dirinya nanti.
Dan itu tak akan jauh-jauh dari hal mesumnya.
Kurasakan tangannya mengelus pipiku lembut naik turun. Perlahan demi perlahan wajah mendekat, hingga hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku. Kutatap lekat betapa sempurnanya setiap lekuk wajahnya dan bibirnya yang menggoda.
Tubuhku seakan kaku, bahkan saat wajahnya semakin mendekat, aku tak berontak dan mengelak seperti sebelumnya. Tubuhku seakan menerima Sean dengan terbuka.
__ADS_1
Dia memiringkan wajahnya lalu memangut lembut bibirku. Aku terdiam sambil menutup mata merasakan betapa lembutnya Sean memperlakukanku saat ini.
Bibirnya ******* bibirku dengan gerakan menuntun, seakan meminta untuk di balas. Tanganku mengerat saat merasakan sentuhan tangannya yang mulai bergerak menjelajah tubuhku.
Namun di sela ciuman menuntunnya, suara dering ponselku menyela kegiatannya. Awalnya Sean mencoba untuk menghiraukan deringan tersebut, namun seseorang di seberang sana juga tak ingin kalah menuntut untuk di angkat.
"****. "Ucapnya kesal sambil melepas lumatannya. Tangannya bergerak cepat meraih ponselku di atas meja dan melihat Id Caller di layar.
Mataku menyipit dengan alis sebelah yang naik saat kulihat rahangnya mengeras, menandakan bahwa ia marah. Memangnya siapa yang menelfon sampai dia marah begitu?
Aku ikut bangkit dan duduk, lalu menjulurkan kepalaku mendekati ponselku yang ia genggam untuk melihat siapa yang menelfon.
Mulutku terbuka lebar saat melihat nama 'Aiden' tertera jelas di layar. Pantas saja dia langsung marah begitu. Kutatap ke arahnya dengan wajah was-was, takut emosinya memuncak dan langsung menerkamku.
Ponselku masih tetap berdering dengan Sean yang masih menatapnya lekat. Apa yang akan dia lakukan?
Diluar nalar, ternyata Sean mengangkat telponku dengan begitu cepat.
"........."
"Valerie sedang tidur, dia kelelahan dengan aktivitas kami tadi malam. "Aku tercengo mendengar hal itu, ingin rasanya memukul mulutnya yang kurang ajar itu.
".........."
"Apa kurang jelas? Tentu saja aku kekasihnya sekaligus calon Suaminya. "Aku semakin cengo dengan mulut terbuka sambil menggeleng frustasi karna tak dapat melakukan apapun.
".......... "
"Dimana dia bukanlah urusanmu. Jangan mengganggu milikku jika kau masih ingin menikmati dunia! "Ucapnya kasar dengan wajah marah, lalu menutup telfon tersebut secara sepihak dan melempar ponselku kasar ke atas meja.
Kutatap poselku yang ia lempar dengan wajah sedih. Huhhh.. Ponselku yang malang, menjadi pelampiasan kemarahannya.
Kulihat Sean beranjak dari duduknya dengan kasar dan wajah marahnya yang masih belum pudar. Dalam diam dia melangkah menjauh menaiki tangga dan pergi entah kemana.
Apa yang dia bicarakan dengan Aiden sampai marah begitu? Dia pasti sedang menahan amarahnya agar aku tak menjadi sasaran emosinya. Apa yang harus kulakukan? Mengikutinya atau membiarkannya?
Bersambung.....
Hay.. Hay.. Hay..
Pecinta pasangan sean-valerie, oh atau aiden-valerie? ðŸ¤ðŸ¤
Aku mau bilang lebih baik kalian memfollow Ig khusus ceritaku agar tau kapan aku update. Biasanya aku selalu bikin dia instastory kalau aku mau up, jadi kalian nunggunya enak dan tau klau aku update. Okey...
Sean : She's Mine
__ADS_1
Jangan lupa juga share, like dan komen sebanyak mungkin biar aku tambah semangat.
Bye... 😘💕