
Aku berkutat di depan laptopku dan fokus menelaah sesuatu di sana. Hingga akhirnya suara ketukan pintu menyadarkanku.
Tok.. Tok.. Tok
"Masuk!" ucapku. Pintu terbuka dan menampilkan sosok Brenda yang kuketahui adalah Sekretaris dari Presiden Direktur.
"Tuan Presdir memanggilmu ke ruangannya." aku tergelak kaget mendengarnya. Aku sangat jarang di panggil oleh Presdir. Biasanya Kepala bagian Design yang langsung bertatap wajah dengan Presdir dan aku lebih sering berinteraksi dengan Kepala bagian Design.
Aku hanya seorang Designer Utama saja di sini. Apa aku terlalu merendah? Designer Utama harusnya itu sudah cukup tinggi, makanya aku mendapatkan ruanganku sendiri. Ah sudahlah.
"Ada apa Presdir memanggilku?" tanyaku bingung.
"Mana aku tau. Cepat Presdir sudah menunggu!" ucapnya ketus. Ya aku sudah terbiasa dengan sikap Brenda yang ketus pada orang-orang di Kantor. Dia menganggap dirinya sangat tinggi, hanya karena dia Sekretaris Utama Pimpinan.
Aku bangkit berdiri dan bingung harus membawa apa? Bawa berkaskah? Atau bawa note saja?
Tak mau memakan waktu lebih lama, aku meraih noteku dan segera menyusul Brenda.
Ting.
Lift berdenting dan aku keluar menuju sebuah ruangan dengan pintu tinggi dan mewah. Ini kedua kalinya aku kesini. Pertama kali, saat aku di ajak Kepala Design untuk ikut rapat membahas proyek besar bersama dengan Presdir yang lama. Beruntung sekali Brenda bisa berada di lantai yang sama dengan Presdir.
"Ayo!" Brenda melangkah lebih dulu lalu mengetuk pintu tersebut.
Tok.. Tok.. Tok
__ADS_1
"Masuk!" kudengar perintah dari dalam sana. Brenda membuka pintu besar tersebut, lalu masuk dengan aku yang mengekor di belakangnya.
"Sir, ini dia Nona Valerie Vylzia Vasylchenko, Designer Utamanya." ucap Brenda memperkenalkanku, sedangkan aku menundukkan kepala.
"Selamat pagi Sir." sapaku, lalu kembali menatap lelaki di depanku yang duduk dengan santai di kursi kebesaran-nya.
"Tinggalkan kami!" titahnya dingin. Brenda pamit pergi setelah melempar tatapan tajamnya padaku.
"Ada apa Sir memanggil saya?" tanyaku bingung dan sedikit gugup.
"Siapa nama orang tua kamu?"
"Hee??" aku terkejut bukan main. Kenapa seorang Presdir menanyakan hal seperti ini?
"Me... Mereka sudah lama meninggal, sejak aku kecil." ucapku dengan nada sedikit sedih. Ya bagaimanapun juga, kejadiannya sudah sangat lama. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan semuanya.
"Iya Sir." jawabku.
"Sebenarnya ada apa Sir?" tanyaku bingung.
"Catat ini!" aku buru-buru membuka buku note yang kubawa sambil menggeledah sakuku untuk mencari pena.
"Shit." batinku. Aku merutuk kesal. Ternyata aku tak membawa pena ataupun pensil ke sini.
Aku menatap sebuah pena yang terletak di atas meja Atasanku.
__ADS_1
"Maaf Sir, saya lupa membawa pena. Boleh saya meminjam pena Anda?" tanyaku takut. Sungguh, aku benar-benar takut jika dia memarahiku karena tidak telaten.
Dalam diam, pria tersebut membuka laci di sebelahnya dan memberikan pena yang kelihatan sangat mewah.
Kenapa dia tak memberikanku pena yang di atas meja saja? Kenapa harus mengambil pena yang dia simpan di dalam laci.
"Pakai ini!" ucapnya sambil menyerahkan pena tersebut.
Aku meraih pena tersebut dengan kepala menunduk. Pena tersebut berwarna emas dan terdapat nama 'Sean Matthew Aliano' di sana. Aku bersiap untuk menulis dan menunggu sampai Atasanku berbicara.
"Panggil aku Sean jika kita sedang berdua!" aku menatap Atasanku bingung dan tanganku sama sekali tak bergerak untuk menulis. Mataku menatap ke arahnya dan begitupun ia menatapku.
Perlahan Atasanku bangkit berdiri dan melangkah ke hadapanku. Aku terdiam kaku tak tau harus melakukan apa.
"Sir, anda.... "
"Sean! Panggil aku Sean!" ucapnya tegas dan aku sedikit bergidik takut.
"Tapi..."
Aku tersontak kaget saat pria yang baru saja menjadi Atasanku ini, menciumku dan menarik tubuhku sangat dekat dengannya.
Bersambung....
hai..
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak kalian guys.
bye😘💕