The Reincarnator

The Reincarnator
bab 27 : yang mulia raja dan ratu


__ADS_3

"huh, yang mulia raja dan ratu,!" kata kazuto yang terkejut karena dia tidak tahu harus berkata apa, dihapannya adalah orang yang paling penting di kerajaan ini, yaitu raja dan ratu kerajaan hexion, apa dia harus membungkuk, atau bersujud, ya dia rasa di harus melakukan itu, dia pun mulai menurunkan badannya dan bersujud sampai sebuah tangan menghentikannya, itu adalah tangan raja dan ratu, menyuruhnya untuk tidak melakukan apa yang ada di pikirannya.


"kau tidak perlu melakukan itu, ca- nak kazuto," kata ratu yang mengangkat lalu melepaskan tangan kazuto sedangkan raja setelah melepas tangan kazuto berbalik dan keluar.


"lumina, aku akan pergi dulu," kata raja yang membalikkan badannya melihat istrinya dan kazuto sekali lagi sebelum keluar dari pintu.


"baik, sayang," kata lumina dengan nada yang sedih kepada suaminya.


"selamat berjumpa lagi ayah," kata lousse yang mengucapkan salam kepada ayahnya yang meninggalkan stadion.


"itu sedikit canggung," kata ren yang hanya menggaruk kepalanya.


"ya, maksudku dia hanya masuk dan tak mengatakan apapun selain melihat kazuto lalu setelah itu dia pergi begitu saja," kata katia yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"maaf soal itu, suamiku hanya sedikit lelah dengan apa yang terjadi belakang ini," kata ratu lumine yang masih penuh dengan emosi mencoba menghindari kontak langsung dengan mereka.


"ibu, apa ibu tidak apa-apa, ?" tanya lousse yang melihat ibunya yang masih penuh dengan emosi.


"aku tidak apa-apa sayang, aku rasa sudah waktunya aku untuk pergi, kalau begitu sampai jumpa lagi," kata ratu yang menundukkan kepalanya dan pergi bersama dengan ksatria yang mengawalnya dan masuk ke dalam kereta yang didalamnya terdapat suaminya yang sedang menunggu.


"bagaimana menurutmu, ?" tanya raja yang bertanya kepada ratunya.


"itu yang asli," kata ratu yang memegang kalung yang ada dilehernya dan melihat sebuah foto bayi.


Sedangkan di dalam stadion kazuto, ren, dan katia sedang melakukan percakapan dengan lousse.

__ADS_1


"jadi apa yang dilakukan oleh raja dan ratu disini, ?" tanya ren yang sedikit penasaran.


"mereka hanya ingin menyapa dan melihat lebih dekat dengan para peserta yang memenangkan turnamen tadi," jelas lousse.


"begitu ya," kata katia yang merasa senang jika raja dan ratu datang secara langsung untuk melihatnya dan kazuto.


"apa hanya itu, ?" tanya kazuto yang merasa curiga jika alasan mereka melakukan semua itu adalah untuk melihat mereka, lagipula ekpresi mereka ketika melihatnya adalah ekpresi tidak tenang, sedih dan panik.


"ya, aku rasa begitu, mungkin ayah dan ibu tertarik dengan murid yang menjadi adik juniorku karena itu mereka memandangimu sebelumnya," kata lousse yang mencoba memberi alasan agar kazuto bisa percaya.


"ya, lagipula kak lousse menyuruhku untuk memanggimu kakak daripada yang mulia," kata kazuto yang mungkin bisa mengerti alasan kedatangan raja dan ratu ke tempat mereka, dan mungkin karena dirinya karena telah menarik perhatian putrinya, tentu meskipun sebagai raja dan ratu yang memegang kekuasan atas kerajaan, mereka tetaplah seorang ayah dan ibu dan melihat anaknya memiliki ketertarikan terhadap seorang pria sudah pasti akan menarik perhatian mereka.


"ya, maaf maaf, tapi aku masih belum berniat untuk mencabut perintah itu," kata lousse yang berbalik dan pergi, "baiklah aku pergi dulu dan


semoga beruntung untuk besok," jelas lousse.


"kalau begitu aku pergi juga," kata ren yang meninggalkan kazuto dan katia sendirian.


"oi, re-" kata katia yang mencoba memanggil ren tapi kazuto menghentikannya dengan memegang tangannya, menyuruhnya untuk berhenti, kekalahannya pasti membuatnya sedih, tapi kekalahan itu yang pasti akan membantunya untuk menjadi lebih kuat.


"ngomong-ngomong semoga berhasil dan sampai bertemu di final nanti kazuto, aku harus segera menemui ibuku dan bertanya mengenai taruhan yang dia buat," kata katia yang berlari meninggalkan stadion untuk bertemu orang tuanya.


"sepertinya aku juga harus berlatih," kata kazuto yang pergi meninggalkan stadion dan pergi menuju hutan di luar kota untuk melatih sihirnya.


lalu pagi hari telah tiba dimana keempat peserta yang lolos babak semi final, "baiklah babak semi final turnamen ini akan segera dimulai, silakan untuk maju kazuto yuki dan silvie shielton," kata wasit yang memanggil kedua kontestas yang akan bertanding.

__ADS_1


"kalian berdua siap, mulai," kata wasit yang ketika itu kazuto mengaktifkan mode sihir birunya dan segera melesat kearah silvie yang segera mengaktifkan pelindungnya.


'dia benar-benar cepat, jika aku telat sedikit saja mungkin aku akan kalah dalam sekejap sama seperti jack,' pikir silvie yang ketika itu melihat kazuto yang menurunkan pedangnya dan berlari memutari pelindungnya dengan pedangnya yang menyentuh pelindung silvie yang ketika itu langsung dia sadari jika niat kazuto adalah untuk memotong pelindungnya, "barrier spike," kata silvie yang membuat pelindungnya mengeluarkan pasak besar yang membuat kazuto mundur.


kazuto lalu lari dan melompat ke langit yang ketika itu tubuhnya tidak lagi dialiri oleh sihir birunya melainkan sihir merah, lalu melesat dari langit dengan pedangnya yang dialiri listrik yang ditambah kekuatannya dengan kekuatan mode sihir merah, "lightning fall," kata kazuto yang memotong penghalang silvie dan hampir mengalahkan jika bukan karena penghalang yang menahan gerakannya, "terima ini, barrier spike," kata silvie yang mengeluarkan pasaknya dan mengenai kazuto yang tidak bisa lari dari sana karena terjebak di penghalang, lalu setelah itu dia terkena serangan yang digunakan silvie untuk mengalahkan ren dan dia pun tersambar petir.


"sudah selesai, kau tidak akan bisa menang, kau sudah kalah," kata silvie yang menghilangkan penghalangnya, mengeluarkan kazuto yang berdarah dan mengeluarkan darah di bagian yang tertusuk pasak tadi.


"aku belum selesai tahu," kata kazuto yang berdiri dengan pedangnya sebagai tongkat untuk membantunya berdiri.


"apa kau bercanda, kau bahkan tidak bisa berdiri dengan bantuan pedangmu, memangnya apa yanh bisa kau lakukan, aku akui jika kau memang pintar untuk mampu menciptakan strategi untuk memburu monster di tes sebelumnya, tapi kau hanya dapat melakukan itu, menyerahlah kau tidak memiliki harapan untuk menang," kata silvie yang menyuruh kazuto untuk menyerah, karena sudah jelas jika dia tidak akan mampu unuk mengalahkannya dan bahkan meskipun dia mampu untuk menang dia pasti akan kalah di final karena luka di tubuhnya.


"aku bilang, aku belum kalah," kata kazuto yang mengeluarkan aura yang berbeda dari tubuhnya yang membuat silvie menunjukkan wajah serius, begitu juga dengan beberapa orang yang melihat pertadingan itu, karena semangat juang yang ditunjukkan oleh kazuto seperti masih membara.


"sepertinya pertandingan ini masih belum berakhir," kata leon yang melihat muridnya yang masih belum menyerah meskipun dengan luka di tubuhnya.


"hei pak tua, jangan bilang kau tidak memiliki keyakinan terhadap kazuto, kau kan gurunya," kata ren yang duduk bersama dengan duke theodor dan mantan penyihir kerajaan leon.


"aku bukannya tidak percaya dengan muridku, dan apa yang kau lakukan disini, ?" tanya leon yang melihat ren duduk bersama dengan duke theodor dan leon.


"maaf guru, aku yang mengajaknya," kata theodor yang mengaku jika dia adalah orang yang mengajak ren untuk duduk di bangku penonton bersama dengan dirinya dan gurunya.


"ya sudahlah," kata leon yang tidak peduli, apalagi dia ingin melihat apa yang akan dilakukan kazuto, karena sejauh yang dia tahu, jika apa yang dikatakan oleh nona silvie benar, karena meskipun kazuto berhasil memenangkan pertandingan, ada kemungkinan jika dia akan kalah di pertandingan selanjutnya, karena luka yang dia terima.


'lalu apa yang akan kau lakukan kazuto,' pikir leon yang melihat ke arena tanpa mengedipkan mata seakan-akan tidak ingin melewatkan sedetik pun.

__ADS_1


"blue mode," kata kazuto yang mengeluarkan sihir birunya, yang ketika itu membuat semua orang terkejut karena jumlah sihir yang mereka rasakan.


"sekarang, ayo kita mulai ronde ke-2," kata kazuto.


__ADS_2