The Reincarnator

The Reincarnator
bab 30 : penghargaan


__ADS_3

"jadi masih belum bangkit ya, sayang sekali," kata ratu yang menaruh tangan kanannya di pipinya, kecewa karena hal yang diharapkannya tidak terjadi.


"sayang, meskipun aku ingin semua orang melihatnya, tapi apa kau pikir itu sepadan dengan bahaya yang dia dapatkan, ?" tanya raja.


"maaf sayang, hanya saja.." kata ratu yang mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


"tidak apa-apa, aku sendiri juga sama terkejutnya denganmu ketika pertama melihatnya, jujur saja aku pikir jika harapan untuk bisa bertemu kembali dengannya sama dengan iblis yang mendeklarasikan kedamaian terhadap umat manusia," kata raja.


"yang berarti kemungkinannya sangat kecil ya," kata ratu yang mendapatkan anggukan dari sang raja.


"hampir seperti tidak mungkin, satu-satunya harapan yang kita miliki hanyalah lousse dan mata octagramnya, tapi sepertinya dewa berada di pihak kita," kata raja yang membuat ratu tersenyum dengan keberuntungan yang mereka dapatkan.


"aku hanya berharap, jika dia dapat memafkan kita," kata ratu yang memegangi kedua tangannya yang bergetar yang ketika itu tangannya di pegang oleh tangan hangat raja menyuruhnya untuk tidak khawatir, dan meskipun jika dia membenci mereka, mereka akan tetap bahagia dengan mengetahui jika dia masih hidup.


"sudahlah, kita persiapkan diri untuk penobatan pemenang turnamen kali ini," kata raja yang berdiri dan turun menuju arena bersama dengan lousse yang membawa bantal yang diatasnya sebuah medali emas, lalu diikuti oleh seorang wanita yang membawa 7 medali untuk peserta yang lain.


"kita sekarang akan melaksanakan upacara penghargaan, silakan untuk 8 peserta berdiri di lapangan untuk menerima perhargaan," kata pembawa acara yang menyuruh semua peserta yang mengikuti turnamen ini untuk berdiri di lapangan untuk menerima perhargaan.


"oh kazuto kau sudah datang," kata duchess yang melihat ke arah kazuto yang datang untuk membawa katia yang masih di kursi roda.


"ya, duchess elinstein boleh saya membawa nona karnatia untuk upacara penghargaan, ?" tanya kazuto yang menggunakan nama panjang katia daripada panggilan biasanya karena saat ini dia ada di hadapan bangsawan yang lain dan jika dia mengucapkan nama katia begitu saja bisa statusnya di hadapan para bangsawan akan memburuk karena membiarkan rakyat jelata untuk memanggil katia tanpa menggunakan honorifik.


"ya, tentu saja kazuto," kata duchess yang dengan senang hati menyerahkan putrinya kepada kazuto, dan pergi menuju arena.


"baiklah, upacara penghargaan bisa dimulai," kata pembawa acara, yang melihat kedelapan peserta berdiri di lapangan dengan kazuto yang membawa katia menggunakan kursi roda.


"selamat," kata raja yang menyerahkan medali ke para peserta sampai menuju kazuto.


"selamat untuk kemenanganmu," kata raja kepada kazuto dengan menggunakan nada selembut mungkin.


"orang tuamu pasti bangga padamu," kata raja yang ketika itu memegang kepala kazuto.

__ADS_1


"ya," kata kazuto yang membalas dengan senyuman, menghiraukan maksud perkataan dari raja kepadanya.


raja sendiri berniat untuk mengatakan sesuatu tapi mulutnya tertahan dan dia memendam dalam keinginan itu, dan melepaskan tangannya dari kepala kazuto lalu pergi meninggalkan arena tanpa memandang untuk kedua kalinya.


setelah acara selesai, kazuto pun pergi untuk bertemu dengan leon yang ditemani oleh theodor yang membawa kantung besar.


"selamat untuk kemenanganmu nak, kau pastas mendapatkannya," kata leon yang memegang bahu kazuto, bangga dengan pancapaian yang dia dapatkan.


"ngomong-ngomong duke theodor, apa yang ada di kantong itu, ?" tanya kazuto yang menunjuk ke arah kantong besar yang dibawa oleh theodor dengan kedua tangannya.


"hm, ini, ini adalah uang hasil taruhan para penonton," kata theodor yang sama sekali tidak menyembunyikan rasa malunya.


"kau bertaruh, seberapa banyak kau bertaruh, ?" tanya kazuto yang ketika sang duke membisikkan sesuatu ke telinga kazuto yang membuat matanya melebar.


"ya, lagipula karena tidak ada yang memilihmu jadi aku mendapatkan banyak," kata theodor yang membuat hati kazuto sedikit sakit, karena tidak ada yang memilihnya hanya karena mereka lebih memilih untuk aman.


"mereka lebih memilih bangsawan yang lain daripada dirimu karena mereka pikir akan lebih aman karena mereka telah dilatih sejak kecil sehingga mereka memiliki kualitas, karena itu theodor bisa mendapatkan semua uang itu, karena hanya dia satu-satunya yang memilihmu," kata leon yang melihat theodor dengan tatapan aneh.


"baiklah," kata kazuto yang setuju.


"kalau begitu ayo berangkat," kata mereka yang pergi dan menuju kediaman mereka masing-masing untuk persiapan pergi ke pantai beberapa hari ke depan.


"kazuto, paman leon, ayo berangkat," kata katia yang berada di kereta kuda sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


"ya, kami datang," kata kazuto yang mengemas tasnya dan naik ke kereta kuda milik keluarga elinstein dan pergi menuju pantai untuk berlibur.


"ya, pantai," kata katia yang berlari dadi keretanya ke arah pantai setelah semua lukanya telah sembuh.


"katia.. tunggu, astaga anak itu aku jadi bertanya-tanya dimana dia mendapatkan sifatnya itu," kata duchess yang melihat ke arah duke yang berkeringat dingin, mungkin saja jika anaknya mewarisi penampilan ibunya tapi sifatnya sepenuhnya diwarisi dari ayahnya.


"ya, maksudku itu bukan salahku kan," kata duke yang takut dengan bagaimana istrinya menatap suaminya seperti sebuah sampah.

__ADS_1


'aku rasa duke tetaplah seorang manusia,' pikir kazuto yang pergi dan bergabung dengan katia dan bermain-main di pantai dan meninggalkan duke sendirian untuk menghabiskan waktunya yang berharga bersama dengan istrinya.


"kazuto, coba lihat," kata katia yang membuat istana pasir kerajaan hexion.


"bagus, terlihat sangat mirip," kata kazuto yang masih mengubur leon dalam pasir dan hanya meninggalkan kepalanya, sedangkan dia membuat badannya sebagai seorang wanita, yang membuat orang lain yang berada di pantai menertawai leon.


"anak-anak, ayo kemari," kata duchess yang memanggil kazuto dan katia untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh sebastian dan beberapa pelayan.


"ini nak kazuto," kata sebastian yang memberikan jatah milik kazuto, yaitu daging panggang dengan kombinasi sayur-mayur.


"terima kasih, paman sebas," kata kazuto yang pindah dan duduk di tempat teduh.


"sama-sama," jawab sebas yang lalu mengambil piring dan menyajikan hidangan selanjutnya.


"hm, enak~," kata katia yang memakan hidangannya yang penuh dengan daging, "sayang ya, jika ren tidak datang kemari, aku yakin dia pasti menangis di kasurnya, memikirkan betapa beruntungnya kita," kata katia yang mengeluarkan air mata palsu benar-benar tidak sedih jika ren tidak ikut dengan mereka.


sedangkan di kerajaan hexion terlihat seorang anak laki-laki yang sedang mengunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan sampai dia bersin.


"accho," kata ren yang mengusap hidungnya.


"bersin, ?" tanya dokter kepada ren.


"tidak, aku merasa jika ada orang yang menghinaku," kata ren yang mungkin tahu siapa orang yang menghinanya, dan itu tidak lain adalah katia.


kembali ke mereka berdua.


"ya, aku sangat bersedih, ren tidak bisa datang, hahahahaha," kata katia yang lalu tertawa sambil memakan dagingnya.


"kau sama sekali tidak terlihat sedih tahu," kata kazuto yang pergi ke sebas untuk mendapatkan porsi keduanya, "terima kasih," katanya.


"sama-sama," kata sebas, sedangkan katia dia hanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2