
ketika itu kazuto melihat ke arah seorang gadis dengan rambut coklat yang mirip dengan lousse tapi dengan warna mata yang sama dengannya, 'aku rasa aku harus menyapanya,' pikir kazuto yang berniat untuk menyapanya untuk pertama kali walaupun dia agak gugup karena takut membuat pengenalan yang buruk di depannya.
"eu.. Hampir," katanya yang ketika itu mencoba mengambil buku di rak yang tinggi tapi ketika itu sebuah tangan mengambil buku yang ingin dia ambil dan mmeberikan buku itu padanya.
"apa ini, silakan," kata kazuto yang mengambilkan buku di rak itu dan memberikannya kepadanya.
"ah, t-terima kasih," katanya yang ketika itu mengambil buku yang diambilkan kazuto, sambil melihat wajahnya.
"ini mungkin pertama kalinya kita bertemu, tapi perkenalkan namaku adalah kazuto yuki," kata kazuto yang mengenalkan dirinya untuk pertama kali padanya yang membuatnya terkejut, karena seharusnya orang yang berada di depannya berada di akademi hexion.
"j-jadi anda adalah, ?" tanyanya yang ketika itu mendapatkan anggukan dari kazuto.
"benar aku adalah kakakmu, senang bertemu denganmu flamina," kata kazuto yang tersenyum dan menyapa adiknya untuk pertama kali.
"senag bertemu denganmu, namaku adalah flamina adele hexion, senang bertemu denganmu kakak," kata flamina yang ketika itu terkejut dan tanpa sadar memberi hormat pada kakaknya sendiri dengan menundukkan kepalanya.
Sebelumnya dia telah mendapatkan kabar mengenai kazuto dari surat yang diberikan ibunya, jujur saja dia cukup senang jika saat ini kakaknya masih hidup, walaupun dia sendiri tidak pernah bertemu dengannya tapi dia tahu jika orang tuanya sangat menyayangi sosok kakaknya.
Awalnya dia berniat untuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya setelah studinya di kerajaan ini selesai, dan mungkin akan mengejutkannya ketika dia memasuki akademi hexion, tapi dia tidak menyangka jika saat ini dan detik ini dia malah bertemu dengan kakaknya.
"ya, senang bertemu denganmu," kata kazuto yang lalu ketika itu flamina membawa kazuto menuju ruang pribadinya di perpustakaan itu agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka, apalagi karena dia adalah putri dari kerajaan lain, maka sudah pasti jika dia akan menarik perhatian khususnya ketika dia membuat kontak dengan kazuto.
__ADS_1
Dia juga telah mendengar dari ibunya jika kakaknya belum berniat untuk mengungkapkan namanya, sehingga saat ini dia masih dianggap telah mati.
"silakan dimakan kakak," kata flamina yang ketika itu menyuguhkan cemilan kepada kazuto.
"terima kasih, jadi bagaimana hidupmu disini, ?" tanya kazuto yang mencoba untuk meringankan suasana yang masih berat ini, sekarang dia mengerti dengan bagaimana perasaan lousse ketika dia pertama kali bertemu dengannya.
"baik kak, aku senang berada disini, walaupun terkadang cukup sulit karena orang-orang tahu jika aku adalah putri dari kerajaan lain, sehingga kebanyakan dari mereka malah bersikap terlalu formal sampai setiap kali mereka bertemu denganku mereka memberi hormat," kata flamina yang terdengar sangat merepotkan menurut kazuto.
"apa kau punya teman, ?" tanya kazuto yang merasa sedikit sedih dengan adiknya.
"aku adalah putri mahkota yang akan mewarisi kerajaan suatu hari nanti, aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu," kata flamina yang membuat kazuto sedih karena seharusnya di umurnya yang sekarang, flamina seharusnya bersenang-senang dan bereksplorasi untuk melihat berbagai hal yang baru.
'aku rasa menjadi bagian dari keluarga kerajaan juga sulit ya,' pikir kazuto yang mengatakan itu dalam hatinya, dia tidak tahu seperti apa beban yang dipikul oleh adiknya karena dia meninggalkan orang tuanya untuk belajar disini, tapi sebagai seorang kakak dia hanya dapat berjanji jika dia akan membantunya jika suatu hari nanti dia kesulitan.
"kakak, apa kau tahu jika aku sib-" kata flamina yang ketika itu dipotong oleh kata-kata kazuto.
"aku tahu jika kau sibuk, tapi itu bukan berarti jika kau harus selalu mengurung dirimu seperti ini," kata kazuto kepada flamina.
"apa maksudmu, ?" tanya flamina.
"mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku rasa jika kau juga tahu jika kau tidak bisa seperti ini, seorang raja tidak akan bisa memimpin jika dia tidak tahu seperti apa orang yang dia pimpin," kata kazuto kepada flamina, jujur saja dia tidak tahu menahu soal urusan ini tapi menurutnya raja adalah orang yang memimpin, memberikan arah dan memberikan pilihan terbaik, bukan demi dirinya saja tapi orang yang dibawa naungannya.
__ADS_1
'flamina berpikir jika dia bisa menanggung semua itu sendirian, itu tidak mungkin, tidak lebih tepatnya mustahil, jika kau memang melakukan itu maka akan terjadi perasaan saling tidak percaya di antara orang-orang karena dia tidak memiliki seorang pun yang bisa dia percaya,' pikir kazuto mengenai pola pikir flamina.
"kakak benar, jujur saja aku tidak yakin jika aku bisa menjadi pemimpin, jika dibandingkan dengan kak lousse, aku bukan apa-apa," kata flamina yang ketika itu membandingkan dirinya dengan lousse.
"kau tidak perlu membandingkan dirimu dengan dia kan," kata kazuto yang mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, setelah mendengar apa yang dibenaknya.
"setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing, jujur saja kak lousse adalah putri dengan banyak talenta dengan masa depan yang sangat cerah, tapi begitu pula denganmu, kau memiliki sesuatu yang bisa kau tunjukkan sesuatu yang tidak dimiliki lousse dan kau miliki, maka kembangkanlah kemampuanmu itu dan jadikanlah itu sebagai sebuah senjata khususmu sendiri," kata kazuto kepada adiknya.
"a-apa aku bisa melakukan itu, ?" tanya flamina yang ketika itu melihat ke arah kazuto dengan mata berair.
"kau bisa, aku percaya padamu," jawab kazuto kepada flamina dengan senyuman, menyuruhnya untuk membuat jalannya sendiri, memang itu tidak mudah tapi itu masih lebih baik daripada dirinya yang mencoba untuk meniru seseorang.
ketika itu flamina pun menangis karena selama ini dia terus mencoba untuk menapaki jalan yang diambil kakaknya, tapi itu tidak mudah, setiap kali dia selalu terjatuh, tapi meski dia terjatuh tidak ada yang mau mengulurkan tangan mereka untuk membantunya.
Dia tahu seperti apa jalan yang diambil, itu benar-benar menyakitkan, sempat dia berpikir untuk keluar karena dia tidak yakin jika dia terus mengikuti kakaknya akan membuatnya lebih baik, tapi meski begitu dia terus melanjutkan langkah bukan karena dia ingin itu karena dia tidak memiliki jalan apapun untuk dia langkahi.
"terima kasih.. terima kasih," saat itu flamina akhirnya menangis dan mengeluarkan semua emosi yang ditahan selama ini, kazuto yang melihat itu cuma duduk dan menemani adiknya.
Selama beberapa menit akhirnya flamina berhenti menangis, walaupun terdapat bekas merah di matanya tapi sekarang dia telah merasa lebih baik.
"bagaimana perasaanmu, ?" tanya kazuto kepada flamina.
__ADS_1
"aku merasa lebih baik, terima kasih," kata flamina, saat ini dia tidak akan lagi menapaki jalan yang diambil kakaknya, dan mencoba untuk berjalan di jalan baru dengan kemungkinan tidak terbatas.