
"aku dengar dari duke elinstein kau sedang berada dalam keadaan yang buruk, ayo ikut aku," katanya yang ketika itu kazuto ikuti karena dia tidak memiliki tenaga apapun untuk menolak.
"ya, kau melihatnya kan," kata kazuto yang merujuk pada dirinya sendiri dan dia harus akui jika saat ini dia memang terlihat menyedihkan.
"kita sampai," kata redith yang membawanya menuju suatu gang kosong dimana hanya ada dia dan kazuto.
"dimana ini, ?" tanya kazuto yang tidak menyadari tempat dimana dia berada.
"aku bukan tipe orang yang pintar berkata-kata, karena itu kita gunakan cara lama," katanya yang melempar ke kazuto dan melepaskan pedang yang dia sarungkan dan mengarahkannya ke kazuto, "sekarang ayo maju," katanya yang ketika itu melesat ke kazuto.
"oi katia, kau kemana tadi, ayo cepat kelas akan segera dimulai," kata ren yang ketika itu melihat wajah katia yang memerah khususnya di bagian matanya yang menandakan jika sebelumnya dia menangis.
"ren, aku butuh bantuanmu," kata katia.
"hm," kata ren yang membalikkan badannya ke arah katia.
"ayo, kazuto bukankah seharusnya kau lebih hebat dari ini, gunakan kekuatanmu dan lawan aku," kata redith yang menyerang dari segala arah yang membuat kazuto terpojok dan akhirnya dia mundur.
jika kazuto dalam keadaan primanya maka sudah pasti jika serangan semacam ini tidak akan berpengaruh, tapi saat ini tidak hanya tubuh kazuto yang lemah tapi juga pikirannya benar-benar kacau sehingga dia tidak bisa memikirkan rencana untuk menyerang balik, dia telah kehilangan tempat dimana dia akan kembali, tidak ada alasan baginya untuk bangkit, rumahnya telah hancur, janjinya tidak akan bisa terpenuhi.
dan ketika itu kazuto berniat untuk menyerang redith tapi pedang yang dia pegang terlepas dari tangannya karena hantaman dari pedang redith.
"kau sudah kalah," kata redith yang ketika menaruh kembali pedangnya dan hujan mulai turun membasahi redith dan kazuto, "ketika aku bertemu denganmu, aku menganggap jika kau adalah bocah beruntung yang baru saja melihat dunia, karena itu aku mengujimu dengan menantangmu, jujur saja aku terlihat seperti orang bodoh waktu itu," kata redith yang mengingat pertarungannya dengan kazuto.
"setiap tebasan yang kau lancarkan benar-benar kuat, kau tidak menggunakan gaya apapun, kau juga tidak menggunakan serangan yang spesial, tapi serangan itu cukup untuk mengalahkanku, karena itu aku mulai berlatih dan mencari makna kenapa aku ingin menjadi seorang ksatria, dan akh akhirnya mengingatnya, itu karena aku ingin melindungi mereka, keluargaku, dan warga kerajaan hexion, sejak saat itu aku mulai kembali berlatih, mengasah kemampuanku dan pedangku sebaik mungkin, dibandingkan dengan bahaimana kau memegang pedang saat ini, kau benar-benar menyedihkan, seranganmu sama sekali tidak terasa itu sangat ringan, apa kau bermain-main hah," kata redith yang memegang kerah baju kazuto dan melemparkannya ke tanah.
"dengar kazuto, aku dengar jika desamu dimusnakan iya kan, apa karena itu kau depresi, apa karena itu pedangmu menjadi ringan, apa itu karena kau sudah kehilangan semuanya kau berhenti untuk mencoba," kata redith kepada kazuto yang diam, "jawab kazuto," teriak redith yang ingin kazuto untuk meresponnya.
__ADS_1
"itu benar, aku kehilangan mereka, tempat dimana aku akan kembali, tempat keluargaku tinggal, tempat orang-orang yang menunggu kepulanganku, semuanya telah hilang, tidak ada gunanya bagiku untuk berdiri," katanya yang ketika itu meneteskan air mata yang membuat hujan menjadi semakin deras.
"menyedihkan," kata redith yang membuat kazuto mengalihkan pandangannya ke arah redith dengan wajah terkejut yang lalu berganti dengan amarah, "kau menyedihkan, apa kau pikir jika mereka akan senang jika kau menjadi seperti ini,? Apa kau pikir jika mereka tidak akan sedih melihat keadaanmu yang menyedihkan ini,? " kata redith yang mulai membentak kazuto.
"dengar kazuto, ada hal yang mungkin tidak akan berjalan sesuai dengan keinginanmu, seperti itulah kehidupan dan itu tergantung padamu, apakah kau berniat untuk tetap menjadi seperti ini, atau kembali berjuang itu adalah pilihanmu," kata redith yang mengambil pedangnya di tanah dan meninggalkan kazuto di tengah hujan yang setelah itu berbalik melihatnya.
"dan ada satu hal lagi yang perlu aku katakan, rumahmu bukan hanya disana tapi juga disini," katanya yang lalu terus berjalan meninggalkan kazuto yang basah kuyup di tengah hujan dengan matanya yang kembali bersinar seperti menemukan cahayanya kembali.
'dia... Benar, terima kasih.. Redith,' pikir kazuto yang berjalan dan berniat untuk kembali ke rumah leon.
Dia berjalan dengan sedikit lebih lega sekarang, seakan-akan pertarungan tadi telah membangunkannya, dia merasa jika sudah waktunya untuk kembali ke sekolah, dia pun terus berjalan melewati kompleks perumahan dimana dia melihat figur yang familiar yang keluar dari toko dengan membawa tas dan payung yang melindunginya dari hujan.
"oh, kazuto," kata katia yang ketika terkejut melihat kazuto yang basah kuyup karena hujan.
"katia, apa yang kau lakukan disini, dan kau sedang membeli apa, ?" tanya kazuto yang mennjuk ke arah tas yang dia pegang.
"siapa, ?" tanya kazuto.
"kau, bodoh," kata katia yang menunjuk ke arah kazuto.
"oh, maaf membuatmu khawatir selama beberapa hari ini," kata kazuto.
"tidak apa-apa, kalau begitu ayo kita pergi," kata katia yang mengajak kazuto.
"pergi, kemana, ?" tanya kazuto yang bingung.
"ke rumahmu, kau basah kuyup dan aku tidak ingin jika kau sakit dan menambah alasan agar kau tidak masuk ke akademi," kata katia yang berada di depan kazuto lalu berhenti dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"tapi jika begitu bukannya lebih jika kau tidak ikut, kau bisa saja terkena flu kau tahu," kata kazuto.
ketika mendengar itu katia melakukan sesuatu yang tidak dia duga, sesuatu yang membuatnya menyesali kata-katanya sebelumnya, yaitu menutup payungnya yang membuat seragamnya basah dalam sekejap.
"k-katia apa yang kau lakukan!, kau bisa sakit,!" kata kazuto yang tidak menyangka jika katia akan melakukan itu.
"ya, sekarang kita sama-sama basah jadi tidak masalah kan," kata katia yang tidak akan membiarkan kazuto menyingkirkannya dengan mudah, dia sudah datang jauh-jauh dari akademi untuk bertemu dengannya hanya untuk diusir, maaf tuan tapi itu tidak akan terjadi.
"tidak, bukan begitu, tapi.." kata kazuto.
"tapi apa, ?" tanya katia yang tersenyum, dia tahu jika kazuto tidak akan menang jika adu bicara dengannya jadi dia hanya mendengar apa yang kazuto katakan.
"bukannya barang yang kau beli akan jadi basah karena hujan jika kau seperti itu," katanya yang membuat senyuman di wajah katia menghilang dan diganti dengan wajah yang pucat, karena di tidak memikirkan hal itu.
"oh tidak," teriak katia yang melihat isi dari tasnya dan seperti yang dikatakan oleh kazuto jika sekarang isinya benar-benar basah.
"aku rasa lebih baik kita rumah daripada kita sama-sama sakit," kata kazuto yang akhirnya setuju dan membiarkan katia untuk ikut ke rumahnya, walaupun jika saat ini dia telah kehilangan semangatnya.
"ngomong-ngomong aku belum bertanya, tapi bagaimana kau bisa keluar sekolah, bukannya sekarang adalah pelajaran profesor itu, ?" tanya kazuto yang mengarah ke salah satu profesor di akademi hexion.
"kau tidak perlu khawatir, semua telah teratasi," kata katia yang sama sekali tidak khawatir.
"ehm, ok," dan mereka pun berjalan dengan hujan yang menetesi baju mereka.
Sementara itu di akademi terlihat 2 orang yang ketika itu sedang berbicara di dalam kelas.
"jadi dimana nona karnatia elinstein, murid ren pendradrum, ?" tanya profesor kepada ren.
__ADS_1
"dia sedang merawat pacarnya yang baru, profesor," kata ren yang tersenyum dengan mengacungkan jemponya, yang ketika itu membuatnya mendapatkan hukuman berdiri di lorong sampai pulang sekolah.