
"baiklah, mungkin kalian penasaran dengan tes khusus macam apa yang kalian lakukan, jadi akan kuberitahukan jika tes ini disebut sebagai tes bertahan hidup di hutan di dekat dungeon palaval," kata profesor yang mengatakan kepada mereka tempat dimana mereka akan melakukan tes itu, tapi setelah mendengar nama dungeon itu para murid menjadi pucat.
"dungeon apa itu, ?" tanya kazuto kepada margaret yang duduk disebelahnya, yang penasaran dengan kenapa teman sekelasnya langsung memucat setelah mendengarnya.
"itu mungkin jika tidak adalah dungeon paling dalam yang ada di dunia ini, dikatakan jika dungeon itu dibuat oleh seekor naga, sebagai tempat peristirahatan terakhirnya," kata margaret yang menjelas mengenai dungeon yang akan menjadi tempat mereka berkemah.
"baiklah, selanjutnya akan saya bagikan tim kalian," kata profesor tersebut yang membuat beberapa murid senang karena dikelompokkan dengan teman atau orang terdekat mereka, tapi ketika itu semuanya menjadi diam setelah pengelompakkan murid terakhir yang membuat kazuto juga ikut terkejut karena betapa tidak adilnya pengelompokkan kelompok itu.
"untuk tim terakhir, berisi kazuto yuki, kumara, margaret warembor, dan rui straner," kata profesor kepada seluruh kelas.
"profesor, bukannya itu sedikit tidak imbang jika memasukkan mereka dalam tim yang sama, ?" tanya salah murid perempuan yang merasa tidak adil dengan pembagian kelompok yang mereka dapatkan.
"memang benar, jika memasukkan 4 murid terkuat di kelas ini dalam 1 kelompok terdengar tidak adil, tapi kalian sendiri juga memliki kelompok dengan anggota yang lebih banyak kan," kata profesor itu kepadanya.
"baiklah, kumpullah bersama angota tim kalian," katanya yang lalu para murid mulai pindah dari tempat duduk mereka dan menuju kelompok mereka masing-masing.
"tch, aku tak menyangka jika aku harus satu kelompok dengan kalian," kata rui yang ketika itu menggunakan nada tidak senang.
"seharusnya kau bersyukur jika masterku mau menerima orang lemah sepertimu," kata kumara kepada rui.
"apa kau bilang," teriak rui yang ketika itu berniat untuk menghajar kumara tapi ketika itu dima merasakan tubuhnya menjadi sangat berat yang membuatnya terjauh di lantai.
"rui hentikan, kontrol emosimu," kata margaret kepada rui.
"tch," kata rui yang ketika itu masih marah, tapi menuruti perkataan margaret.
"seperti yang kalian ketahui jika ujian khusus kali ini, kita akan melakukan ujian bertahan hidup di dungeon palaval, itu merupakan tempat dimana monster level menengah bisa muncul, jadi dalam seminggu ini kita akan menyiapkan semuanya dari peralatan untuk bertahan hidup, persediaan bahan pangan, dan senjata, apa kalian mengerti, ?" tanya margaret kepada yang lain.
__ADS_1
"ya, kami mengerti," kata kazuto dan kumara yang mengangguk.
"tch, aku cuma perlu tidak melakukan masalah kan, ." tanya rui yang mendapatkan anggukan dari margaret, "baiklah, aku juga akan bekerja sama," kata rui.
"baiklah, sebelum pelajaran berakhir, ada 1 hal yang ingin ibu katakan, jika akan ada kompetensi di hutan itu, dimana kalian akan harus membunuh para monster untuk menambah poin nilai kalian, dan siapapun yang mendapatkan poin terbanyak, maka mereka akan mendapatkan hadiah berupa koin emas dari akademi," kata profesor tersebut yang membuat para murid menjadi senang karena hadiah yang biasanya diberikan ketika ujian khusus selalu besar.
"sepertinya akan sulit dengan anggota ini," gumam margaret yang mengacuh pada kelompoknya.
'master bagaimana menurut anda, ?' tanya kumara kepada kazuto mengenai kompetisi ini.
'ini memang kompetensi yang cukup menarik, lagipula..' kata kazuto yang melihat rekan satu timnya, 'rekan satu tim kita sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan tempat pertama,' kata kazuto kepada kumara yang ketika itu mengerti jika situasi ini bukanlah hal yang perlu dikhatirkan.
'kelompok lain setidaknya beranggotakan 6 sampai 7 orang, itu hampir 2 kalinya dari kelompok kami, tapi jumlah bukanlah hal yang selalu menentukan kemenangan,' pikir kazuto yang lalu melihat ke arah mereka.
"setelah pulang ayo kita latihan," kata kazuto kepada mereka.
"hah, untuk apa kita melakikan itu, ?" tanya rui kepada kazuto.
"itu benar, kami juga tidak tahu seberapa kuat kalian ketika latih tanding beberapa hari yang lalu, akan buruk ketika kita tidak tahu seberapa besar batas kekuatan anggota kita," kata margaret yang membuat rui mengerti, meskipun diantara para murid dia berada di atas rata-rata, tapi dia tahu jika dia tidak akan bisa mengalahkan sekelompok orang sendirian.
"lalu apa yang harus kita lakukan, ?" tanya rui yang akhirnya menyerah dan memutuskan untuk ikut dalam ajakan kazuto.
"pertama aku ingin melihat seberapa besar daya tahan kalian, agar aku bisa membuat rencana," kata kazuto.
"rencana kau bilang, ?" tanya margaret.
"rencana untuk memenangkan kompetisi ini," kata kazuto kepada mereka.
__ADS_1
"tunggu dulu kazuto, apa kau yakin jika kita bisa memenangkan kompetisi ini dengan kurangnya anggota kita, lawan kita adalah seluruh anak kelas 1 loh, ?" tanya margaret, jujur saja dia cukup yakin jika diantara anak kelas 1 dia berada di top 10 teratas, tapi meski begitu dia sendiri tidak yakin jika dengan kemampuannya dia dapat membunuh monster lebih banyak dari kelompok dengan anggota yang lebih banyak.
"jika kita bertarung tanpa membuat strategi apapun dan hanya mengandalkan kekuatan murni maka aku yakin jika kita tidak akan mencapai 5 besar, tapi aku yakin jika kita bekerja sama dan membuat rencana maka aku yakin jika dengan kelompok dengan jumlah yang sedikit ini kita dapat memenangkan kompetisi ini," kata kazuto kepada yang lain yang lalu membuat keputusan setelah mendengar perkataan kazuto.
"baiklah, lagipula tidak ada salahnya untuk mencoba," kata margaret yang setuju dengan kazuto.
"hah, baiklah aku juga ikut, jadi pastikan untuk memenangkan pertandingan ini," kata rui yang ikut bergabung.
"aku juga ikut setuju master," kata kumara kepada kazuto.
"baiklah kalau begitu, setelah pelajaran selesai kita akan berkumpul di lapangan untuk berlatih, apa kalian mengerti," kata kazuto kepada yang lain.
"ya," kata mereka yang mengerti dengan jelas instruksi kazuto, lalu setekah mereka menyelesaikan pelajaran hari itu mereka segera pergi ke lapangan untuk melakukan latihan untuk meningkatkan ketahanan dan stamina.
"ha... ha... aku menyerah, apa apaan latihan ini," teriak rui mengenai latihan yang dia terima yaitu mengelilingi lapangan berkali-kali sampai kelelehan.
"rui, aku tahu jika kau kuat, daya tahanmu mungkin merupakan yang terbaik dari kelompok ini tapi staminamu tidak terlalu baik, aku yakin itu karena kau melatih daya tahanmu untuk menggunakan sihirmu apa aku benar, ?" tanya kazuto kepada rui.
"ya, kau benar aku terlalu fokus untuk melatih daya tahanku sehingga saat ini kemampuan yang lain cuma berada rata-rata dengan yang lain," kata rui kepada kazuto mengenai kemampuannya.
"apa karena itu kau menantang banyak orang agar kau dapat menyusul ketertinggalanmu, ?" tanya kazuto kepada rui yang ketika itu tidak menjawab tapi dia sudah tahu jawabannya.
Membutuhkan waktu dan kerja keras bagi setiap orang untuk bisa meningkatkan kemampuan mereka, jika mereka adalah orang berbakat maka itu mungkin untuk mengejar keterlambatan mereka dengan menggunakan bakat yang mereka miliki, tapi bagaimana untuk mereka yang merupakan orang biasa, bagaimana cara mereka untuk bisa meningkatkan kemampuan mereka untuk mengejar keterlambatan mereka.
Jawabannya mudah yaitu dengan menggunakan cara yang tidak biasa, dan tidak masul akal, 'rui, orang ini menggunakan setiap pertarungan yang dia dapatkan untuk meningkatkan kemampuannya yang telah tertinggal dari yang lain, karena itu dia menantang kumara dan aku ketika pertama kali kami masuk akademi ini, ya meskipun cara memintanya sedikit kasar, tapi aku tidak benci dengan orang semacam itu,' pikir kazuto mengenai rui yang mengingatkan pertemuan pertamanya dengan ren.
"aku tidak masalah dengan pekerja keras seperti dirimu yang bertarung untuk menjadi lebih kuat, kau juga boleh menantangku setiap kali, jadi ayo kita berteman baik," kata kazuto kepada rui yang cukup terkejut dengan perkataan kazuto.
__ADS_1
"tch, jangan harap jika aku akan berubah meski begitu," kata rui yang ketika itu menerima jabat tangan kazuto.
"ya, aku tidak masalah," kata kazuto.