The Reincarnator

The Reincarnator
bab 52 : monster


__ADS_3

"blue mode : blue slash," kata kazuto yang memberikan puluhan tebasan yang dilapisi oleh mode biru ke arah monster itu yang hanya menahannya dengan kedua tangannya lalu mengibaskan serangan kazuto seperti bukan apa-apa, lalu berlari, mendekat ke arah kazuto dan berniat untuk memukulnya jika bukan karena ren yang memukul wajahnya yang membuatnya mundur.


"red mode : lightning shockwave," kata kazuto yang menggunakan pedangnya yang dialiri oleh petir dan menebasnya ke arah monster itu.


"arrgghh," teriak monster itu yang kesakitan yang lalu mencoba menguatkan tubuhnya dan sedikit demi sedikit teriakannya berhenti meskipun dia masih terkena serangan, kazuto merasa jika sesuatu yang berbahaya akan terjadi lalu dia pun menghentikan serangannya dan mundur sejauh mungkin dari monster yang menginjakkan kakinya di tanah dan membuat retakan yang besar.


ren pun lalu lari ke arah monster itu dan memusatkan sihirnya ke tinjunya, "regulus strike," katanya yang memukul monster itu tepat di wajahnya, dan membuatnya menabrak dinding gua, "ha.. ha.. apa aku berhasil," kata ren yang ketika itu melihat monster itu yang terjatuh ke tanah dan terkena tumpukan batu.


"arrrgghh," teriaknya yang kembali bangkit dan dalam sekejap berada di hadapan ren, dengan tinjunya siap untuk memukulnya, sedangkan ren sendiri hanya menyilangkan tangannya berdiap untuk menahan serngan monster itu, lalu ketika itu dia pun terkena serangannya yang membuat ren mundur cukup jauh dari tempat dia berdiri.


"haaahhhh" teriak ren yang lalu mengangkat kedua tinjunya dan memukul bertubi-tubi monster itu dan mundur untui memberikan tempat untuk temannya menggunakan sihirnya, "lakukan kazuto," teriak ren.


"blue mode secret technique : heaven slash," kata kazuto yang ketika itu telah bersiap dan mengeluarkan sihir biru dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya dari tubuhnya lalu melesat dengan pedang yang dia pegang dengan kedua tangannya di samping kiri atas kepalanya, dan ketika itu menebas perut monster itu yang membuatnya kesakitan.


"arrrggghhh," teriaknya yang bahkan lebih keras daripada sebelumnya.


"katia, cepat," kata kazuto yang langsung melihat ke arahnya yang telah membuat sihirnya.


"baiklah, aku mengerti, ice lock," kata katia yang memunculkan rantai es dari tangannya untuk menahan pergerakan monster itu, yang benar-benar memberontak mencoba untuk melepaskan dirinya dari katia yang menggunakan seluruh tenaganya untuk menahan monster itu.


"kumara apa belum selesai," kata katia yang kesulitan menahan monster itu yang memberontak mencoba untuk melepaskan rantai itu, sedangkan dirinya sendiri hampir tertarik karena rantai es yang dia pegang.


kazuto yang melihat itu lalu mengaktifkan green modenya dan memegang tanah sambil menutup mata, dan ketika itu semacam akar keluar dari dalam tanah dan menahan gerakan monster itu.


"baiklah aku siap," kata kumara yang lalu memakan bola sihir yang dibuatnya beberapa waktu yang lalu, yang membuatnya tubuhnya membesar dan mengeluarkan asap, dan ketika itu dia pun melepaskan tembakan energi dari mulutnya dan mengenai monster yang ketika itu tidak dapat menghindar karena tidak hanya terjebak rantai es katia, tapi juga akar tanaman dari kazuto.

__ADS_1


"apa sudah selesai, ?" tanya ren yang melihat tubuh monster itu yang hangus karena tembakan sihir kumara.


"aku rasa, ya," kata kazuto yang lalu melihat keadaan monster itu, untuk memastikan apakah dia benar-benar mati, "dia sudah mati, tidak diragukan lagi," kata kazuto yang mengkonfirmasi kematian monster itu.


"huh, apa-apaan tadi itu, pukulan monster itu benar-benar bukan main," kata ren yang lalu duduk di tanah sambil memegang bagian perutnya yang sakit, dan melihat ke arah kazuto yang melihat mayat monster itu yang sudah hangus itu.


"hm, ada apa master, ?" tanya kumara yang ketika itu kazuto mengaktifkan green modenya dan menutupnya matanya untuk merasakan energi lain yang berada gua ini.


"tidak apa-apa, aku cuma mengecek apa ada monster lagi di dalam gua itu," kata kazuto.


"jadi begitu, lalu apa hasilnya, ?" tanya katia yang juga ikut lelah dan terkapar ditanah.


"aku tidak merasakan apapun," kata kazuto yang sekarang bisa bernafas lega, jika saja ada 2 dari monster maka sudah pasti satu-satunya pilihan mereka adalah lari.


"ngomong-ngomong apa yang akan kita lakukan selanjutnya, melanjutkan ekplorasi gua ini atau kembali ke perkemahan, ?" tanya kazuto kepada yang lain.


"aku hanya akan mengikuti apa yang diinginkan master," kata kumara.


"aku tidak masalah dengan yang mana, kazuto kau yang putuskan," kata ren.


"aku rasa akan lebih baik jika kita melihat apa yang ada disana," kata kazuto yang menunjuk ke arah jalan yang dilewati monster tersebut.


"kazuto apa kau gila, bagaimana jika ada monster lain disana," kata katia.


"aku sudah mengeceknya menggunakan green modeku, dan aku sama sekali tidak merasakan sedikit pun tanda-tanda kehidupan disana, tapi yang membuatku tertarik adalah apa yang dilakukan monster itu disana, dan bau busuk ini," kata kazuto yang membuat poinnya, memang setelah mendengarnya, itu memang adalah pilihan yang bagus untuk melihatnya karena keamanan dari tempat itu telah terjamin.

__ADS_1


"baiklah aku ikut, tapi tolong jangan terlalu memaksakan dirimu," kata katia yang khawatir dengan kondisi kazuto, kemarin dia telah bertarung melawan kumara dengan seluruh kekuatannya dan mendapatkan luka yang sampai saat ini masih belum sembuh dan saat ini dia malah bertarung melawan monster yang sangat kuat, dia jadi khawatir jika kazuto memaksakan dirinya.


"maaf, aku akan mencoba untuk lebih santai," kata kazuto yang seperti menjawab pertanyaan di hati katia sambil mengelus kepalanya, yang lalu membuat katia sedikit lega dan memutuskan untuk berada di depan untuk memimpin, setidaknya dia ingin agar bisa menjadi berguna untuknya walaupun cuma sedikit.


"ugh... apa kalian tidak mencium bau busuk ini," kata ren yang mencoba mengibas udara bau di sekitarnya untuk menghilangkan bau yang tidak hilang ini.


"ya, kami menciumnya ren, kumara apa kau tidak apa-apa, ?" tanya kazuto kepada kumara, karena diantara mereka, kumara memiliki hidung dengan penciuman yang paling kuat, maka sudah pasti jika dia adalah yang paling mungkin merasakan bau busuk ini lebih dari siapapun.


"saya tidak apa-apa master," kata kumara yang tidak ingin membuat masternya khawatir, karena memang benar jika bau ini benar-benar menyiksa hidungnya tapi meski begitu dia masih bisa menahannya.


"baiklah kalau begitu," kata kazuto yang lalu terus berjalan ke depan.


"teman-teman, lihat sudah ada jalan keluar," kata katia yang sudah melihat ujung lorong tapi ketika sampai matanya terbelalak dengan pemandangan yang dia lihat.


"i-ini...." kata ren yang sama dengan katia, tidak bisa berkata apa-apa dengan pemandangan yang ada di depannya.


"apa-apaan," kata kazuto yang benar-benar terkejut sedangkan untuk kumara, dia menutup mata dan hidungnya.


apa yang mereka lihat adalah sebuah pemandangan monster yang mati, tapi monster tersebut berada dalam keadaan sangat buruk yang bahkan membuat siapapun yang bahkan mereka yang membenci monster akan kasihan melihatnya, tempat tersebut dipenuhi dengan monster yang sepertinya mati akibat pertarungan besar.


"ini.. apa sebenarnya, ?" tanya ren yang hanya melihat mayat dan bangkai mondter yang hancur seperti digiling oleh alat.


"ya, dan untuk berpikir jika monster itu berhasil keluar dari sini hidup-hidup," kata katia yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seperti akan muntah.


"ya, tapi bukannya ada sesuatu yang aneh, ?" tanya kazuto yang ketika itu melihat ke berbagai arah, jujur saja dia ingin untuk segera pergi dari sini, tapi ada sesuatu yang sedikit membuatnya tertarik.

__ADS_1


"a-apa maksudmu kazuto," kata katia.


"monster yang tadi kita lawan, bukannya dia terlihat lemah," sanggah kazuto kepada yang lain.


__ADS_2