TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 100


__ADS_3

“Setelah kupikir, sebaiknya kita pulang saja, Pengawal Zaid. Sepertinya aku sudah tidak mood untuk makan makanan di restoran ini. Mari kita pulang ke rumah, lalu memesan bir, kacang, dan ayam goreng.”


Can menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi dari restoran itu. Makan malamnya hancur hanya karena masa lalu menghantuinya kembali.


Semua makanan yang telah dipesan pun ditinggalkan begitu saja. Sangat disayangkan.


“Astaga, apa-apaan ini? Apakah ditinggal seorang kekasih membuatnya begitu hancur?” gumam Zaid yang masih berdiri disana.


Sebelum pergi, dia mengambil beberapa potong daging sapi, dan juga kebab, lalu dimakannya sambil perjalan. Makanan sebanyak itu akan sangat mubazir menurutnya jika hanya dibuang begitu saja.


***


Sampailah mereka berdua di rumah Can. Beberapa botol bir alkohol, kacang, ayam goreng, kebab, telah dipesan.


Zaid dan Can menikmati semua makanan itu di ruang tengah, sembari mengobrol dan menonton opera komedi di salah satu stasiun TV.


Banyak alkohol yang diminum Can malam itu. Pikirannya masih terbayang pada Rose yang menggandeng anaknya di restoran.


“Apa kau tahu, Pengawal Zaid. Aku punya banyak penggemar, bahkan hingga anak-anak sekalipun. Bocah-bocah itu menjadi penggemarku semenjak aku memerankan menjadi Dewa Kematian.”

__ADS_1


“Saat pertama kali terjun di dunia Entertainment, aku ingin banyak memiliki penggemar dari kalangan remaja hingga dewasa saja, tapi, aku sadar karena film laga juga sangat menyenangkan bagi anak-anak.”


Zaid menuangkan alkohol ke dalam gelas Can. Berharap agar dia cepat mabuk, dan Zaid segera pulang dari sana.


“Aku tahu, kau pasti sangat senang akhir-akhir ini, bukan begitu?” 


“Apa maksudmu?”


“Ah, sudahlah. Lupakan saja. Sedari tadi kau hanya minum saja. Makanlah ini. Buka mulutmu!” Can mengambil sepotong ayam goreng, menyuapkannya pada Zaid.


“Tak perlu. Aku bisa makan ini sendiri.” Zaid mengelak. 


“Kenapa? Apa karena aku yang menyuapimu? Apa perlu aku memanggil Manajer Anna kemari untuk menyuapimu?” 


“Hei, saudaraku! Bukankah kita sudah berjanji, bahwa kita tak akan menyimpan rahasia satu sama lain?” 


Zaid hanya diam, karena mulutnya masih penuh dengan daging ayam.


“Ada hubungan apa antara kau dan Anna?” 

__ADS_1


“Tidak ada.” Zaid menggeleng. “Faktanya kami hanyalah rekan kerja yang sama-sama bekerja denganmu.” 


“Fakta?” Can melipat dahi. “Lantas, apa yang bukan fakta dibalik itu?” 


“Dia hanya menyulitkanku, dan membuatku khawatir,” jawab Zaid.


“Nah, itu dia! Kau tahu, apa anak muda sekarang menyebut situasi semacam ini?”


Zaid menggeleng.


“Cinta Segitiga. Kau menyukai Anna, akan tetapi, Anna tetap menyukaiku karena dia penggemarku sejak lama.”


Can beranjak dari tempat duduknya, lalu duduk tepat di sebelah Zaid. “Astaga, saudaraku! Kau harus bersiap untuk patah hati jika terus mengejarnya.”


“Tak akan mudah untuk mengubah pikiran wanita seperti Anna. Meski dia tampak bodoh, tapi, dia memiliki pendirian yang cukup kuat.”


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu,” timpal Zaid.


“Wah, wah, wah. Memangnya kenapa? Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Masalahnya adalah penampilanmu saat ini. Aku yakin sekali penampilanmu bukanlah laki-laki tipe Anna.”

__ADS_1


Zaid mendengus kesal. Can terus membual yang membuatnya semakin muak. 


“Satu hal yang harus kau ingat, Pengawal Zaid.” Can mengambil botol, menuangkan minuman ke dalam gelass Zaid. “Jauh sebelum kau menjadi saudaraku, aku lebih dulu mengangkat Anna sebagai adikku sendiri.” 


__ADS_2