
Di rumah sakit Divrigi. Terlihat Can yang terbangun dari tidurnya. Terduduk di sofa, melamun, melihat Anna yang juga terlelap dengan posisi duduk di ujung ranjang.
Tak berselang lama, Anna pun juga terbangun. Mengucek matanya. Mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, meregangkan otot. “Kau sudah bangun, Kak? Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat murung sekali.”
“Tak ada. Aku hanya lelah harus berbaring sepanjang hari. Sejenak melamun dan berpikir. Mengalami kecelakaan yang sama untuk yang kedua kalinya membuatku berpikir.”
“Sudahlah, Kak. Kau tak boleh berpikir terlalu keras. Seharusnya kau beristirahat lebih banyak lagi, agar kau cepat pulih.”
Can menggeleng. “Tidak Anna. Aku ingin berhenti tidur. Mimpi-mimpi sialan itu kembali memenuhi alam mimpiku. Membuat suara bising yang sangat kubenci.”
Anna menunduk lesu.
“Anna, aku tak ingin kau melakukan hal yang terlalu berbahaya seperti tempo hari saat aku kecelakaan. Aku ingin kau tinggal disisiku lebih lama lagi.”
“Cukup Pengawal Zaid saja yang melakukan hal ekstrem. Dia sangat tangguh dan aku mampu dia bisa menolongku sendirian.”
Anna mengangguk. “Aku juga sangat senang karena tragedi ini tak seperti tragedi yang kau alami sebelumnya. Itu semua juga karena Pengawal Zaid yang menolongmu di jembatan yang terputus itu.”
__ADS_1
“Ya, kau benar. Jika Pengawal Zaid tak menolongku, mungkin aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi.” Can tersenyum. “Mungkin, aku harus menaikkan gaji Pengawal Zaid.”
“Aku setuju,” seru Anna.
“Baiklah. Sudah cukup satu minggu ini aku berada di rumah sakit. Aku harus segera kembali ke rumah dan berfokus pada pemulihan di rumah saja. Aku sudah sangat muak dengan aroma rumah sakit ini.”
“Baiklah. Aku akan segera mengurus semua administrasi dan kepulanganmu, Kak.”
***
Duduk melingkar memenuhi sofa ruang tengah. Dan pastinya Zaid yang juga berdiri tegap di belakang Can seperti ajudan presiden.
Tepuk tangan kecil, serta ucapan dari tiap kepala memenuhi ruang tengah. Banyak juga bingkisan seperti bunga, dan buah-buahan yang terletak di atas meja.
“Sebelumnya, aku meminta maaf jika membuat kalian khawatir. AKan tetapi, aku baik-baik saja. Dokter berkata, pemulihanku cukup cepat, dan membiarkanku untuk pulang.”
“Dan orang yang seharusnya menerima pujian dan semua ucapan ini adalah Pengawal Zaid, yang telah menyelamatkanku dari ajal.” Can bertepuk tangan diikuti semua orang yang ada di tempat itu.
__ADS_1
Zaid tersenyum kecil menunduk.
“Aku memikirkannya sepanjang malam setelah kecelakaan itu. Tak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan keselamatan kalian sendiri. Keselamatan adalah prioritas bagi semua orang.”
“Maka dari itu, aku ingin agar Pengawal Zaid tetap berada di dekatku dan selalu mengawalku kemanapun aku pergi.”
Zaid terdiam mematung. Menatap Can. “Apa-apaan ini?” gumamnya dalam hati.
“Karena dia harus tetap berada disisiku, maka dia harus mendapatkan ruangan dan kamar pribadi, kenaikan gaji dua kali lipat, dan aku juga akan memberikannya mobil yang layak padanya.”
Zaid kembali dilema. Dia sebenarnya tergiur dengan gaji yang besar, juga mobil yang akan dibelikan Can untuknya., tapi, disisi lain dia harus tinggal di rumah Can.
Dia tak bisa lagi leluasa lagi, tidak seperti saat dia di markasnya sendiri.
“Mulai sekarang juga, keinginan Pengawal Zaid adalah keinginanku juga. Bagaimana menurut kalian semua?”
Semua orang mengangguk setuju.
__ADS_1