
“Astaga, kenapa kau disini? Bagaimana jika reporter mengenalimu? Meski kau menggunakan topi dan masker, para reporter akan tetap mengenalimu dengan hanya cara berpakaianmu,” ucap Anna.
“Ah, sial! Bawa ini!” Agnes memberikan bingkisan bunga itu pada Sopir. Membuka masker, dan kacamata hitamnya. “Aku datang kemari sebagai temannya. Tak ada niatan lain.”
“Lihatlah, pakaianmu! Nyentrik sekali. Kau bahkan tak berpakaian seperti seorang teman, tapi, seperti seorang wanita yang ingin tebar pesona pada mantan kekasihnya.”
“Apa ini salah? Aku hanya menyamar agar tak ada yang mengenaliku.”
“Sudahlah. Aku sudah tahu akal busukmu. Kau berpenampilan nyentrik seperti itu, agar kau terlihat sempurna saat para reporter dan wartawan memotretmu, benar bukan?”
Anna dan Agnes malah berdebat di depan ruangan. Di lorong rumah sakit.
“Astaga, kenapa pikiranmu selalu negatif jika itu tentangku? Aku dan dia sudah putus sejak lama, dan aku juga sudah merelakannya, berkat bantuan pengawal tampan itu.”
Agnes melirik Zaid yang berdiri di belakang Anna.
Anna tercengang linglung. “Tunggu, bukankah dia menggodamu saat kalian minum bersama?”
“Tidak.” Agnes menggeleng. “Justru sebaliknya. Aku yang menggodanya saat itu. Pengawal tampan itu menjelaskan perasaan Can kepadaku sebenarnya. Berkat dia, kami telah resmi berpisah secara baik-baik.”
Anna terdiam mematung.
__ADS_1
“Aku berkunjung kemari sebagai teman, jadi, bukankah aku boleh masuk untuk melihat keadaannya?”
“Tidak!” Zaid menghalangi jalan Agnes. “Dokter bilang, dia perlu beristirahat, jadi, orang dari luar tak diizinkan untuk masuk.”
“Hmm, begitukah? Kalau begitu, sampaikan salamku padanya sebagai teman, semoga dia lekas pulih.”
Zaid mengangguk.
“Tentu aku akan menyampaikan pesanmu nanti. Kau bisa pergi sekarang,” sahut Anna.
Agnes menatap Zaid sejenak sebelum dia pergi. “Omong-omong, apa kau juga ingin menjadi pengawalku? Aku bisa memberikanmu bonus dan memberikanmu gaji dua kali lipat dari gaji yang mereka berikan.”
Pilihan yang cukup sulit bagi Zaid. Jika menyangkut dengan uang, maka dia akan dilema dengan itu. Sejenak berpikir dan mempertimbangkan perkataan Agnes.
“Tawaran yang cukup menarik. Akan tetapi ….”
“Tidak. Dia adalah keluarga,” tegas Anna. “Aku yakin Pengawal Zaid tidak melakukan ini demi uang. Dia sudah seperti keluarga di kru ini.”
Para kru mengangguk serentak.
“Benarkah?” tanya Agnes. “Raut wajahmu mengatakan, kau sangat tergiur dengan tawaran itu.”
__ADS_1
Zaid menghela nafas. Dia tak tahu harus menjawab apa.
“Ya, itu benar. Seperti yang dia katakan, kita adalah keluarga.”
“Wah, ternyata kau sangat payah.” Agnes tersenyum sinis. “Baiklah, kau bisa menghubungiku jika kau berubah pikiran. Kau tahu nomorku, bukan?”
Zaid mengangguk melempar senyum kecil.
“Baiklah, sampai jumpa pengawal tampan.” Agnes menggunakan kacamata hitamnya kembali. Melambaikan tangan, membalas dengan senyuman genitnya, lalu beranjak pergi.
Tak bisa dipungkiri. Agnes memanglah sangat cantik. Tinggi badannya cukup ideal mencapai 170 cm. Kaki jenjang mulus, juga body tubuh yang molek bak gitar spanyol.
Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Anna yang hanya memiliki tubuh mungil dan tinggi badan hanya 160 cm.
“Ehem, omong-omong, bisakah kita bicara sebentar, Pengawal Zaid.”
Zaid mengangguk.
Mereka berdua pun pergi ke ruang tunggu untuk berbicara empat mata.
Duduk bersebelahan dan Anna pun mulai berbicara.
__ADS_1