
“Agnes? Bukankah dia mantan kekasihmu? Kenapa begitu?” tanya Si Sopir.
“Hubunganku dan dia sudah berakhir, tapi, dia terus mencoba terus menghubungiku. Dia menelpon dan mengirim pesan padaku berulang kali meski aku sudah menolak dan tak membalas pesannya.”
“Kau bisa membiarkan dia, Tuan. Abaikan saja. Blokir saja nomornya jika perlu.”
Can bersandar memegangi kepalanya.
“Oh, itu dia,” seru Si Sopir. Dia melihat seorang wanita cantik yang turun dari mobil sport mewah,
Dan wanita itulah Agnes, mantan kekasih Can. Dia menggunakan setelan kasual. Dengan celana jeans biru, kaos putih polos, serta blazer coklat. Terlihat modis sekali.
Can langsung menunduk bersembunyi. Sedikit melihat ke depan. “Brengsek, kenapa dia kemari? Apa yang dilakukannya disini? Wah, mood untuk syuting sudah tak ada dalam diriku.”
“Kenapa kau tak menjawab teleponnya saja?” celetuk Si Sopir.
Plak plak plak!!! Can kembali memukuli sopirnya dengan majalah yang digulung. “Dasar, Berandal! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mengabaikannya? Kau bahkan menyuruhku untuk memblokirnya tadi.”
“Apa itu mantan kekasihmu? Apa di membuatmu tak nyaman?” tanya Zaid melihat Agnes dari balik kaca mobil.
Mantan kekasih Can itu celingukan melihat sekitar yang pastinya mencari keberadaan Can.
__ADS_1
“Tak hanya membuatku tak nyaman, tapi, dia sudah merusak moodku sore ini.”
“Apa aku perlu menyuruhnya untuk pergi dari sini?”
“Wah, apa seorang pengawal juga melakukan tugas dalam hal ini?” Can mendekatkan kepalanya.
“Tentu. Aku akan melakukan apapun untuk menyingkirkan segala hal yang dapat membahayakanmu. Aku akan mengurusnya sebentar.”
Zaid menggunakan kaca mata hitamnya, lalu turun dari mobil. Menghampiri Agnes.
Berdiri di depan mobil Agnes, dan melihat barang-barang apapun yang ada di dalam mobilnya itu.
Hanya dengan melihat beberapa barang dari dalam mobilnya, Zaid tahu bahwa Agnes adalah gadis yang berprofesi sebagai DJ di salah satu kelab malam.
Barang-barang yang ada di dalam mobil terlihat sangat berantakan.
“Permisi, Nona. Apa yang kau lakukan di lokasi syuting ini. Aku adalah Pengawal pribadi Can Yaman, yang bertugas untuk mengawasi lokasi ini,” ucap Zaid.
Agnes celingukan memalingkan pandangan. “Lantas kenapa? Dimana dia berada?”
“Dia sedang ingin tak bertemu denganmu,” tegas Zaid. “Kau sudah ditandai sebagai orang yang berbahaya, jadi, kau tak bisa bertemu dengannya.”
__ADS_1
“Astaga, apa-apaan ini? Apa kau tak mengenalku? Aku adalah pacar Can Yaman. Berbahaya apanya.”
Zaid mendengus. “Pacar? Bukankah kau sudah putus dengannya?”
Agnes terdiam tak menjawab.
“Jika kau memang pacarnya, apa yang dilakukan pacar seorang Can Yaman di hotel tadi malam? Aku tahu kau berada di sana tadi malam.”
Agnes semakin tercengang lagi. Bagaimana Zaid tahu keberadaannya tadi malam?
Padahal Zaid hanya melihat barang-barangnya dari hotel di dalam mobilnya.
“Kenapa memangnya jika aku di hotel? Aku hanya bertemu dengan saudaraku disana.” Agnes beralasan.
Zaid terkekeh. “Astaga, apa pria yang kau temui tadi malam adalah saudaramu? Kau punya saudara seorang artis?”
Agnes mematung. Dari mana lagi Zaid bisa tau bahwa dia sedang bersama artis. Yang mana memang saat itu Zaid hanya berusap asal.
“Wah, ada masalah apa denganmu?”
“Tak ada. Aku tak ada masalah sama sekali, jika kau tak mencoba mendekati Can Yaman. Pergilah sekarang juga, jika kau tak ingin aku memberitahu kepada wartawan, tentang siapa dirimu sebenarnya.”
__ADS_1
“Beritamu akan menyebar dengan luas esok hari, jika aku mengatakan hal yang sebenarnya pada para reporter dan wartawan yang ada disini.”