TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 031


__ADS_3

“Hei, hei! Apa-apaan itu? Apa kau marah padaku?”


“Tidak, Tuan,” ucap Si Sopir ketus.


“Ah, sial” buk buk buk buk “Kau marah padaku, kan? Kau marah karena kita terlambat karena aku. Ya, aku tahu kau marah. Nada berbicaramu membuktikan kau sedang marah. Tak perlu menyangkalnya.”


Plak plak plak plak Can mengomel, dan malah memukuli sopirnya dari belakang yang memegang kendali menggunakan majalah. Membuat Zaid muak dengan semua itu.


“Sudah cukup, hentikan itu.” Zaid merebut majalah di tangan Can. “Seorang pengawal harus bisa menyingkirkan semua hal yang menghalangi keamanan kendaraan majikannya.”


Can terkekeh. “Apa maksudmu? Apa kau akan menyingkirkanku? Akulah orang yang paling berbahaya dan berkuasa di sini.” Mendekatkan kepalanya ke bagian depan.


“Kau berasal dari Babel Group. Petugas keamanan dengan bayaran paling tinggi. Saat majikanmu terlambat, seharusnya kau melakukan sesuatu untukku.”


“Kau harus melakukan semuanya untukku, agar aku tak terlambat. Blokir jalan agar aku lewat, bawa helikopter milik Babel Group untuk mengantarku, atau melakukan hal yang spektakuler lainnya.”


Zaid hanya diam fokus menatap ke depan. Begitupun Si Sopir yang sudah muak mendengar celotehan Can setiap harinya.

__ADS_1


“Kenapa kau diam? Bisakah kau melakukan itu? Astaga, kau sungguh tak berguna.”


“Hanya ada satu cara,” ucap Zaid. Dia melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil. Membuka pintu mobil bagian belakang. Menarik tangan Can untuk keluar dari mobil.


“Astaga, apa kau gila? Apa yang kau lakukan?” Can sangat panik saat itu. Dia masih menggunakan jaket hoodienya dan berdiri tepat di tengah kemacetan.


Langsung menutup kepalanya dengan penutup kepala. Takut jika dia diserbu oleh para penggemar yang melihatnya saat itu.


“Percayalah padaku. Aku akan memastikan kau tak akan terlambat datang ke lokasi,” tegas Zaid.


“Apa maksudmu?”


Mereka bak terlihat seperti adegan film holywood. Dengan bodyguard yan gmenyelamatka majikannya. Dramatis sekali.


Melewati beberapa mobil yang masih terhenti. Di bawah terik matahari pagi yang baru akan naik.


“Hei, tunggu! Kalian mau kemana?” panggil Anna dari belakang.

__ADS_1


Ternyata Anna pun juga ikut turun dari mobilnya dan menyusul mereka berdua.


Setelah seratus meter berlari, nafas Can mulai ngos-ngosan. Tapi tidak dengan Zaid yang masih santai dan tetap berlari sambil menarik tangan Can.


Fisik yang dimiliki Zaid tentu lebih kuat dari Can, karena dia sangat cukup terlatih dan terbiasa saat di dunia militer. Tidak seperti Can yang hanya melakukan syuting dalam hidupnya.


“Hei, hentikan ini! Aku tak bisa melakukan ini.”


Zaid tak memperdulikannya. Dia tetap menarik tangan Can dan berlari.


Di belakang mereka, Anna pun juga tak mampu untuk menyusul. Langkahnya kecil, dan kecepatannya tak mampu menyamai Zaid. Hanya berteriak memanggil. Menyuruh Zaid berhenti.


10 meter lagi. Terdapat sebuah stasiun kereta KRL bawah tanah. Zaid berbelok berlari masuk ke dalamnya.


“Hei, hei! Tunggu! Kau tak bisa membawaku ke tempat ini.” Can masih panik dengan nafas yang terengal-engal.


Kereta terakhir, sebelum pemberangkatan. Tepat sebelum pintu kereta tertutup, Zaid dapat membawa Can masuk ke dalamnya, dan kereta pun segera melaju.

__ADS_1


Dari jendela, terlihat Anna yang baru datang dan berlari. Menggedor- gedor pintu dan terus berlari merengek, mengejar kereta api yang mulai melesat begitu cepatnya.


Dan perlahan Anna pun menghilang dari pandangan.


__ADS_2