
“Astaga, kau tidak mengerti akan hal ini, Mir. Cinta dan kencan itu adalah masalah reaksi yang bergantung pada orang dan situasinya.”
“Sudahlah, terserah kau saja. Segera pulang jika kau sudah selesai.”
“Tentu.” Zaid menutup telepon.
Zaid melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 lebih 15 menit malam. Dia masih ingin mencari gelang itu lebih lanjut, tapi, takut jika tiba-tiba Anna telah kembali pulang.
Dia pun memutuskan untuk mengirimi pesan kepada Anna.
Dimana kau? Apa urusanmu sudah selesai? Mari kita bertemu jika kau sudah selesai. Katakan saja, dimana kau berada? Aku akan menjemputmu nanti. Kau di rumah? Di rumah Can? Atau dimana?
Apa kau sudah makan? Mari kita makan malam bersama. Aku belum makan sama sekali sejak tadi. Kau mau makan apa? Ayam goreng? Babi panggang? Daging sapi? Atau bebek peking? Ah. sepertinya semuanya terdengar lezat.
Zaid terus memberikan pesan seperti itu berulang kali hingga berujung spam. Dan akhirnya Anna pun membalasnya.
“Dasar, Brengsek! Berhenti mengirimiku pesan. Kau sungguh membuatku tak nyaman!”
Zaid menyeringai lebar membacanya. Pertanda Anna masih berada di rumah Can.
__ADS_1
Dan benar nyatanya. Anna masih berada di rumah Can saat itu. Mereka berdua tengah usai mengobrol tentang masalah Nick yang masih berharap agar Can kembali ke YB Entertainment.
Beberapa kali Can juga melihat Anna yang melihat ponselnya dengan wajah ketus. Membuatnya semakin curiga karena ponselnya terus berdering.
“Siapa itu? Apa itu Pengawal Zaid?” Can tersenyum jahat.
Anna mengelak. Menyembunyikan ponselnya, beralasan. “Aoh, itu. Benar. Pengawal Zaid menanyakan, pukul berapa besok syuting dilakukan. Dia bertanya soal jadwalmu, Kak.”
“Ah, benarkah seperti itu?”
“Tentu.” Anna mengangguk. Dia tak ingin Can tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Siapa lagi itu? Apa itu juga dari Pengawal Zaid?” Can tak henti-hentinya menggoda Anna saat itu.
“Dia terus menanyakan jadwalmu, Kak. Semua yang dikatakannya adalah urusan pekerjaan. Hanya urusan pekerjaan. Pembicaraan yang sangat normal sekali. Astaga, sepertinya dia terlalu banyak bertanya hari ini.”
Anna tersenyum memalingkan wajahnya.
Tak sampai sana. Can masih ingin menggoda Anna. “Seharusnya, dia bertanya padaku jika ada pertanyaan seperti itu. Kenapa dia malah bertanya padamu?”
__ADS_1
“Hmmm. Itu benar,” timpal Anna. “‘Seharusnya dia langsung saja bertanya padamu, kan?”
“Kira-kira, apa Pengawal Zaid sudah makan?””
“Belum. Sepertinya Pengawal Zaid belum makan.”
Habis sudah! Lagi-lagi Anna terkena jebakan dengan pertanyaan yang dilontarkan Can padanya. Bagaimana mungkin Anna tahu jika Zaid belum makan, jika bukan dari pesan dikirimkannya.
Can kembali melempar senyum jahat menggoda. “Ah, begitukah? Apa dia mengirimkan pesan padamu bahwa dia belum makan? Jadwal yang kau maksud tadi adalah jadwal makan malammu, bukan?”
Anna celingungkan bingung. Kini dia tak bisa beralasan lagi. “Itu karena …”
“Wah, sepertinya aku harus berbicara langsung dengan Pengawal Zaid. Aku sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuknya. Kurasa aku akan mengajaknya makan malam hari ini, menanyakan sesuatu padanya.”
“Apa maksudmu, Kak? Apa yang ingin kau tanyakan padanya?” Anna melirik.
“Hanya soal pekerjaan. Pembicaraan yang sangat normal sekali. Kenapa? Apa ada masalah?”
Anna menggeleng, lalu menunduk lesu. Tak mampu menyanggah lagi.
__ADS_1
Sementara Can. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Zaid untuk mengajaknya makan malam bersama. Yakin sekali Can saat itu, bahwa Zaid tak mungkin menolak ajakannya.