TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 104


__ADS_3

Bangunan itu terdiri dari lima blok di setiap gangnya. Tepat di blok ketiga. Blok yang berada di tengah-tengah Konstruksi. 


Emir dengan mobilnya datang dari ujung, disusul dengan Ricky yang juga menaiki mobilnya. Dia menyempatkan dirinya untuk andil dalam penyerangan itu.


Di dalam mobilnya, mereka saling bertatapan. Berkedip dan memberikan kode satu sama lain.


Dan saat Emir mengeluarkan patung itu dari tas, DOR!!!!!! 


Satu tembakan sniper mengenai kaca mobilnya. Emir malah terkekeh. Dia melihat ke depan dan mengetahui seseorang telah berada di atap gedung dan membidiknya dari sana.


Seorang pria bertopi hitam membawa sniper, dan mengarahkannya ke mobil Emir.


“Hahahaha. Dasar, Bodoh! Kau tak tahu, ini kaca anti peluru, Idiot,” umpatnya. Dia mengacungkan jari tengahnya pada orang yang membidiknya dari atap gedung itu. 


Gedung itu berada tepat di depan mobil Emir terparkir. Mungkin hanya berjarak 20 meter dari atap hingga mobilnya.


DOR!!!!! Satu peluru kembali di lepaskan pria itu. Kaca mobil Emir pun hampir pecah, karena kedua peluru sniper itu. Pria itu sepertinya mencoba terus menembaki kaca mobil hingga pecah.

__ADS_1


Tepat sebelum tembakan ketiga di lepaskan, DOR!!! 


Sebuah tembakan sniper mengenai pundak pria yang mengintai Emir dan Ricky.


Dan tentu saja tembakan itu dari Zaid. Dari jarak 200 meter dari blok C. Zaid berada di atap gedung paling tinggi di blok A. Berdiri membawa sniper dan membidik pria itu. 


Mudah saja baginya untuk menembak kepala pria itu, tapi, Zaid membutuhkan pria itu hidup-hidup untuk diinterogasinya. 


Pria bertopi hitam itu pun tumbang. Darah segar mengucur dari pundaknya. Peluru sniper yang dilepaskan Zaid benar-benar tepat mengenai tulang. Bidikan yang cukup tajam.


Pria itu merunduk di balik pagar pembatas atap gedung. Sembunyi dari bidikan Zaid.


“Hei, apa yang terjadi? Bagaimana pria itu? Apa dia mati?”


“Arah tepat pukul satu dari tempatku berada, dan arah 9 dari tempatmu dan Pak Ricky berada. Dia tengah bersembunyi di balik pagar pembatas itu.


“Hei, kau tak boleh membunuh pria itu. Kita harus membawanya hidup-hidup.”

__ADS_1


“Tentu. Aku hanya menembak pundaknya. Pria itu sepertinya sendirian, tak ada orang lain disini. Kau bisa bergerak sekarang menuju atap gedung itu. Aku akan melindungimu dari sini.”


“Baiklah!” Emir dan Ricky pun segera keluar dari mobil, lalu merangsek masuk ke gedung. Mereka membawa dua pistol kecil di tangannya masing-masing.


DOR!!!! Satu tembakan kembali dikeluarkan Zaid, saat melihat pria bertopi itu menggunakan cermin untuk mengintainya dari balik pagar. 


“Astaga, dia masih menggunakan cara lama itu untuk mengintip,” gumam Zaid.


DORR!!!! Tembakan kali ini tepat mengenai tangan Pria bertopi itu. Terlihat dari bidikan Zadi, pria itu tengah mengambil snipernya di atas pagar.


Kini tangan dan pundak pria itu terluka. Keadaan semakin mencekam sore itu. 


Akan tetapi, pria bertopi tak kehabisan akal. Dia mengeluarkan bom asap agar menghalangi penglihatan Zaid.


DOR DOR DOR!!!! “Brengsek!” Berkali-kali Zaid menghujani peluru tapi meleset. Bom asap itu membuatnya tak bisa membidik dengan benar. 


Zaid pun berpindah dari tempatnya. Mencari sisi terbaik untuk membidik pria bertopi itu yang hendak kabur. 

__ADS_1


Namun, pria bertopi itu terus berjalan jongkok. Bersembunyi di balik pagar, agar tak terkena oleh semua peluru yang dilepaskan Zaid.


__ADS_2