
“Tolonglah. Ambil kembali kunci mobil dan surat pengunduran diri itu. Kau bisa memikirkannya kembali nanti.”
Zaid menghela nafas panjang. Dia harus mengakhiri semua ini, dan melanjutkan misi selanjutnya.
“Maafkan aku, Tuan, tapi, aku akan tetap dengan pendirianku. Dan juga, terimakasih atas semua kebaikan yang kau berikan padaku. Suatu kehormatan besar bisa bekerja dengan artis terkenal sepertimu. Aku permisi.”
Zaid menunduk, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang ruang tengah.
Sementara Can, dia masih terdiam mematung di sofa. Melihat surat pengunduran diri, juga kunci mobil yang ditinggalkan Zaid.
Memukul-mukul sofa, melempar bantal sofa ke lantai, hingga semua perabot yang ada di atas rak. Can benar-benar persis seperti anak kecil yang ditinggal pergi oleh orang tuanya.
Tak lama kemudian, datanglah Anna ke rumah Can. Dia cukup terkejut dengan ruang tengah yang kini tampak seperti kapal pecah.
Semua perabot rumah berantakan. Beberapa pecahan kaca juga berserakan di lantai.
“Astaga, Kak. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan semua ini?” Anna berjalan perlahan menghindari serpihan kaca di lantai. Mendekati Can yang terduduk mematung di sofa.
“Pengawal Zaid telah mengundurkan diri sebelum kau tiba tadi.”
“Astaga, tapi, kau tak perlu melakukan semua ini.”
Can mendengus kesal.
__ADS_1
“Omong-omong, kenapa dia mengundurkan diri?” Anna penasaran.
“Entahlah, aku juga tak tahu. Tiba-tiba saja dia memberikan surat pengunduran diri, hanya karena dia sakit dan ingin beristirahat total.”
“Sakit? Sakit apa dia?”
“Mana kutahu, Anna!” bentak Can kesal. “Aku sudah membujuknya berulang kali dan mengiming-imingi kenaikan gaji, tapi, dia tetap mengundurkan diri.”
“Padahal, aku dan Pengawal Zaid sudah berjanji untuk tak menyimpan rahasia diantara kita. Ah, sial! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kini tak ada lagi orang yang akan melindungiku seperti dia.”
“Aku yakin akan sulit mencari pengawal lagi seperti Pengawal Zaid.”
Anna tercengang sejenak. Berpikir, apakah Zaid mengundurkan diri karena dia tak membalas cintanya? Astaga, wanita itu benar-benar berpikir demikian.
“Tidak! Dia tidak sedang berakting,” sahut Anna.
“Lantas apa?”
“Dia memang sakit, tapi, bukan sakit yang bisa disembuhkan oleh seorang dokter manapun itu. Ini sakit yang berbeda.”
“Hah, apa maksudmu?” Can tak mengerti.
“Dia sakit hati,” celetuk Anna. “Kau tenang saja, Kak. Biar aku yang mengurus semua ini. Aku akan membuat Pengawal Zaid kembali bekerja denganmu. Hanya aku yang bisa mengurus masalah ini.”
__ADS_1
Anna berbalik, meninggalkan ruang tengah.
“Hei, hei! Mau kemana kau?” Can menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tak tahu apa yang akan Anna perbuat.
***
Di markas Zaid. Terlihat Zaid yang sedang membereskan beberapa pakaiannya. Dia meninggalkan barang-barang yang tak diperlukan, dan membawa sebagian barang terpentingnya saja.
Tampak raut wajahnya yang sangat gembira karena dia telah mengakhiri misi pertamanya, dan menyelesaikan tugasnya menjadi seorang pengawal yang membosankan itu.
Dia menyalakan musik kencang-kencang, menyanyi, menari kecil, sembari terus merapikan barang-barang yang akan dibawanya pergi dari tempat itu.
*ding dong!!!
Tiba-tiba suara bel markasnya berbunyi. Pasti itu dari orang lain. Tak mungkin itu Emir. Dia pasti akan langsung memasuki markas , tanpa menekan tombol bel.
Betapa terkejutnya Zaid saat melihat Anna lah yang memencet tombol itu. Dia berdiri celingukan di depan markas dan kebingungan. Melihat markas Zaid yang tampak seperti rumah hantu, dan menekan tombol bel berulang kali.
Tertampak jelas pemandangan itu dari layar monitor dari kamera cctv yang ada.
“Astaga, apa yang dilakukan wanita itu?” gumam Zaid. “Sial!”
Zaid pun segera meletakkan semua barangnya kembali, lalu menghampiri Anna yang ada di depan pintu markasnya.
__ADS_1