TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 072


__ADS_3

“Kau tak perlu khawatir. Aku yakin ini hanyalah pemadaman listrik sementara.” Zaid meyakinkan.


“Baiklah.” Anna pun kembali melihat penampilan di panggung.


Semua tamu undangan hening. Tak ada satupun yang berbicara dengan rekan di sebelahnya. Semua mata melihat dan mendengarkan puisi yang sedang dibacakan.


Dan saat itu jugalah Zaid memulai aksinya. Sebelum itu, dia mengeluarkan sebuah softlens. Bukan softlens biasa. Softlens yang dipakai dirancang khusus untuk melihat dalam keadaan yang gelap.


Zaid tetap harus dapat melihat dalam keadaan yang gelap itu. Setelah softlens terpasang di kedua matanya, barulah Zaid beranjak pergi.


Diam-diam beranjak pergi dari ruang acara. Menaiki tangga. Kembali ke tempat Patung Budha itu tersimpan.


Tidak ada halangan dan masalah saat Zaid menaiki tangga. Tak terlihat satu batang hidung anak buah Victor yang menjaga.  Zaid meneruskan langkahnya menyusuri lorong gelap.


Di lorong gelap, terlihat 2 anak buah Victor dari ujung lorong. Mereka membawa senter, berjalan menuju Zaid berada.

__ADS_1


Untungnya Zaid segera bersembunyi di balik dinding besar. Menunggu hingga kedua penjaga itu berlalu pergi.


Setelah kedua penjaga itu pergi, Zaid kembali melangkah maju mendekati ruangan yang berada di ujung lorong. Di depan pintu ruangan itu terlihat seorang anak buah Victor yang menjaga.


Bodohnya Si Penjaga tersebut. Dia hanya berdiri tanpa membawa senter. Yang pastinya dia tak tahu kedatangan Zaid yang berjalan tanpa mengeluarkan suara apapun.


Buk buk!!! Cukup dua kali serangan dilepaskan Zaid pada pengawal itu. Satu pukulan mendarat di ulu hati, satu pukulan lagi mendarat di rahangnya, dan pria itu pun tumbang seketika.


Zaid menyeret tubuhnya. Menyandarkannya ke dinding, dan dia pun memasuki ruangan. Di dalamnya. Zaid kembali bertemu dengan dua pengawal yang berdiri sigap menjaga ruangan koleksi seluas 6 X 6.


Kedua penjaga itupun menyadari kedatangan Zaid.


“Hei! Siapa kau? Berhenti disana.”


Saat pria itu akan mengeluarkan pistol, Zaid lebih dulu melompat. Merebut pistol, lalu memukul tengkuk leher belakang, dan lalu menyerang satu penjaga lagi yang baru menyerangnya.

__ADS_1


Berputar, mengambil leher penjaga itu dari belakang, lalu mencekiknya beberapa detik, hingga penjaga itu pinsan.


Itulah alasan mengapa Emir merekrut Zaid menjadi agen hantu. Kemampuan bertarung jarak dekat Zaid tak perlu diragukan lagi, dan dia bukanlah tandingan anak buah Victor, meski kalah secara postur tunuh dan fisiknya.


Selesai sudah! Tak ada lagi yang menghalangi Zaid untuk memasuki ruangan koleksi tersebut.


Untuk membantu penglihatannya, Zaid mengambil senter milik salah satu penjaga itu, lalu memasuki ruangan yang pastinya lebih gelap lagi.


Kini Zaid sudah berdiri tepat di depan Patung Budha yang terletak di atas tatakan emas, di dalam kaca berbentuk kubus.


PYAR!!!!!! Kaca berbentuk kubus itu pecah hanya dengan sekali pukulan Zaid. “Astaga, gara-gara barang sekecil ini, aku harus menderita menjadi pengawal yang tampak bodoh,” gumamnya dalam hati.


Memasukkan Patung Budha itu ke dalam sebuah kain gelap, lalu membawanya keluar ruangan. Berjalan mengendap-endap. Memeriksa luar ruangan.


Tak ada halangan apapun! Beberapa anak buah Victor masih terkapar tak berdaya di lantai. Zaid pun dengan mudah untuk keluar.

__ADS_1


Di teras balkon lantai dua. Terlihat Zaid yang sudah berdiri di sana. Menatap pemandangan luas rumah Victor dari sana.


__ADS_2