TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 087


__ADS_3

“Biar ku pertegas sekali lagi dan kuharap ini untuk yang terakhir kalinya. Kau tenang saja, dan tak perlu khawatir, karena aku tak akan menyukai wanita seperti itu, seperti yang telah kusebutkan semuanya tadi.”


“Sudah cukup, Pengawal Zaid. Hentikan itu!” Akhirnya Anna bersuara. Meski harus menahan air mata yang hampir jatuh dari mata.


“Kau tak memahami apa itu kebaikan, maka itulah sebabnya kau berada disini saat ini. Padahal, aku sudah mencoba untuk bersikap baik padamu, tapi, kau malah mengabaikannya, dan membuat asumsimu sendiri.”


“Aku lupa bahwa kau adalah seorang wanita yang begitu mudahnya mendapat bantuan dari seorang pria.”


“Tutup mulutmu ……”


“Itulah sebabnya aku tetap berakting, berpura-pura, dan bilang aku akan membiarkan dan melupakannya! Kau masih tak mengerti hal itu?”


Zaid mulai menggebu-gebu. Awalnya dia berbicara dengan santai nada datar dan tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Karena terbawa suasana, Zaid pun mulai menggebu-gebu. Membuat Anna ketakutan, meremas jari, dan menggertakkan giginya.


Zaid tak memberikannya kesempatan sama sekali untuk berbicara. Sepertinya Zaid berbicara terlalu kasar dan lantang saat itu.


Dia menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali. Menata agar emosinya tak meluap-luap. “Sekarang, apa kau sudah mengerti? Aku tidak berhenti bekerja karenamu.”


“Jangan pernah kembali menemuiku, dan jangan pernah memikirkanku sekalipun itu. Hapus saja aku dari ingatanmu. Aku mohon padamu.”

__ADS_1


Zaid menghabiskan sisa kopinya yang sudah mendingan, lalu beranjak pergi dari kedai itu.


Sementara Anna hanya diam menunduk. Masih meremas jari tangannya sendiri, dan menahan air matanya yang akan jatuh. “Dasar, Brengsek!” umpatnya lirih.


“Astaga, apa aku terlalu kasar padanya? Kasihan sekali gadis itu,” gumam Zaid. Terus berjalan keluar dari kedai.


Baru beberapa langkah dia keluar dari kedai, masuklah panggilan dari Emir yang menelponnya saat itu.


“Ya, halo. Ada apa?”


“Apa kau sudah berhenti menjadi pengawal?”


“Wah, kenapa tergesa-gesa sekali. Tidak, tidak. Kau harus kembali pada mereka. Misimu kali ini tetap menjadi pengawal pribadi Can.”


Sial! Zaid tercengang mendengar ucapan Emir. Langkahnya terhenti mematung, masih tak jauh dari kafe itu.


“Hei, Brengsek! Apa maksudmu?”


“Patung kedua itu telah ditemukan, dan tempatnya pun juga sudah berpindah. Aku akan menjelaskan padamu detailnya nanti. Yang terpenting adalah, kau harus mempertahankan identitasmu sebagai pengawal.”

__ADS_1


“Wah, kau memang brengsek! Kenapa kau baru bilang saat sekarang, saat aku sudah meninggalkan kesan yang buruk pada mereka? Kau memang gila!”


“Astaga, akupun juga baru saja mendapat kabar dari atasanku, dan langsung menghubungimu setelahnya. Kabar ini memang sangat mendadak.”


“Pokoknya, kau harus tetap mempertahankan identitasmu sebagai pengawal Can.”


Tuttt!!!!!


Emir langsung mematikan teleponnya.


“Sialan! Aku akan benar-benar membunuhmu nanti, Mir!” umpat Zaid.


Zaid berbalik. Melihat Anna yang akan keluar dari kedai. Terlihat matanya yang sangat sembab karena menangis. Zaid berpikir sejenak. Dia harus bertindak secepatnya saat itu juga.


“Baiklah, aku akan menjadikan Anna sebagai target berikutnya. Aku akan membuatnya Alice yang kedua. Meski, dia hanyalah satu dari banyak tugas lainnya,” batin Zaid.


Zaid melangkah mendekati Anna yang baru beberapa langkah keluar dari kedai.


“Apa lagi? Apa masih ada hal yang ingin kau …..”

__ADS_1


Belum sempat Anna menyelesaikan perkataannya, Zaid lebih dulu membungkam mulutnya. Dengan menarik leher Anna dari belakang, lalu mencium bibirnya di depan kedai kopi, tepat di atas gerimis salju yang mulai turun.


__ADS_2