TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 050


__ADS_3

Zaid menggeleng. “Tidak. Itu adalah kecelakaan yang disengaja.”


Emir memeriksa keadaan di luar. Mengunci pintu, lalu kembali duduk di sebelah Zaid. Mendengarkan penjelasannya.


“Aku melihat seorang pria yang aneh dan mencurigakan di lokasi syuting. Dia mengenakan seragam montir, lalu memeriksa mobil yang akan dikendarai Can, tepat sebelum syuting dimulai.”


“Dari cara dia berjalan, aku yakin dia bukan orang sembarangan. Bisa saja dia mantan tentara bayaran sepertiku. Dugaanku juga mengatakan bahwa dia pernah mengikuti pelatihan khusus di medan perang.”


“Aku yakin sekali itu. Akan tetapi, para kru lapangan berkata bahwa kecelakaan seperti ini memang sering sekali terjadi. Dan Can sendiri sudah mengalami untuk yang kedua kalinya.”


Emir menghela nafas. “Jika instingmu berkata demikian, aku pun juga yakin bahwa ada sesuatu di balik semua ini. Baiklah, tenang saja. Aku akan mencari informasi itu.”


“Omong-omong, apa kau sudah terbiasa dan nyaman menjadi pengawal Can Yaman? Kau terlihat sangat cemas sekali saat ini.”


Zaid mendengus. “Aku bahkan tak peduli jika dia mati, tapi, bukankah aku perlu dia hidup-hidup untuk mencari patung Budha itu? Semua usahaku akan sia-sia jika dia mati sekarang.”


“Wah, lihat ini. Kau kembali ke sifat aslimu. Seorang tentara bayaran dengan jiwa pembunuh berdarah dingin. Itulah jati dirimu sebenarnya.”


“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Aku harus kembali secepatnya. Pakaian perawat ini sangat tidak nyaman di tubuhku. Aku akan segera memberi kabar, jika sudah kutemukan pria misterius itu.”

__ADS_1


Emir pun keluar dari ruangan meninggalkan Zaid.


***


Tujuh hari lamanya Can mengalami koma. Tubuhnya terbaring lemas di ranjang di dalam sebuah kamar VIP. Selama satu minggu juga Zaid tak punya kegiatan lain selain menunggu Can di kamarnya.


Hanya makan, tidur, membaca buku, dan keluar dari rumah sakit jika ingin merokok saja. Sungguh membosankan.


Begitupun dengan Anna. Hanya datang pagi-pagi. Menemani Can hingga larut, lalu kembali ke rumahnya.


Kadang bergantian menjaga dengan Can, jika Zaid sudah sangat bosan.


Tepat di hari ke delapan, dia sempat membuka matanya, lalu kembali tertidur, karena pengaruh obat bius yang diberikan dokter.


“Benarkah dia sudah sadar? Dokter bilang, Kak Can membuka matanya tadi pagi.”


Malam hari di hari kedelapan itu, Anna baru datang ke kamar VIP untuk melihat keadaan, setelah mendengar kabar dari dokter bahwa Can telah membuka mata.


Bertanya pada Zaid yang telah menunggunya sejak pagi.

__ADS_1


“Ya, dia sudah sadarkan diri, tapi, karena dokter memberinya obat penenang, dia pun terlelap kembali,” jelas Zaid.


“Kau yakin, dia sudah sadar?”


Zaid pun kesal karena Ann terus bertanya. Dia bangkit dari sofa. Mendekati kasur Can. “Apa aku perlu membangunkannya?”


“Tidak, tidak. Tidak usah. Biarkan saja dia beristirahat.” Anna melipat dahi.


Krek!!! Sopir pribadi Can membuka pintu kamar. “Permisi, Nona Anna. Sepertinya kau harus keluar sebentar.”  Si Sopir datang dengan wajah gugup.


“Ada apa?”


“Itu … Di luar sana.”


Anna pun segera beranjak keluar, disusul dengan Zaid.


Di depan kamar sudah ramai berkumpulah para kru Can juga seorang wanita yang ternyata Agnes.


Agnes menggunakan pakaian serba nyentrik malam itu. Dengan bingkisan bunga yang cukup besar di tangannya. Juga menggunakan masker hitam, kacamata hitam dan topi hitam, agar tak ada satupun orang yang mengenalinya.

__ADS_1


__ADS_2