TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 076


__ADS_3

“Aduhh!!!!” Si Sopir mengerang kesakitan karena Can menjambak rambut pendeknya.


Dan begitulah Can dengan sopirnya. Mereka tak pernah akur sekalipun. Si Sopir yang sudah muak dengan Can yang selalu menyombong. Sementara Can sendiri yang hobinya melebih-lebihkan sesuatu.


Saat semua kru sedang tertawa melihat Can, ternyata diam-diam Anna memperhatikan Zaid. Tatapan matanya tak berpindah sama sekali. Dan langsung memalingkan pandangan saat Zaid balik menatapnya.


***


Di markas Zaid dan Can. Terlihat mereka berdua yang sedang mengotak-atik Patung Budha dengan sebuah alat canggih. Untuk melihat apa isi sebenarnya Patung Budha dari layar monitor.


Dan kenapa para atasan Emir menyuruhnya untuk mencari keberadaan patung tersebut, bahkan Emir sendiri pun tak tahu, kenapa agensinya (BIT) menugaskannya untuk kasus itu.


Emir hanya diberitahu, bahwa Agen C telah menghilang, dan meninggalkan pesan untuk mencari patung itu.


Akan tetapi nihil, alat canggih itu tak bisa mendeteksi apapun dari Patung Budha. Emir pusing, menggigit jari jempolnya.  “Astaga, ini tak bisa diketahui sama sekali.”


Zaid mengambil patung dari alat itu. Memegang dan memperhatikan patung dengan seksama.


“Sepertinya aku tahu. Jika kau pernah melihat di beberapa film, maka patung itu bisa dibuka, dan menyimpan sesuatu di dalamnya yang memang tak bisa terdeteksi.”

__ADS_1


DUK DUK DUK!!!!! Zaid memukul-mukul Patung Budha itu ke meja, dan benar. Terbukalah bagian kiri dari patung itu.


Sisi kiri patung itu patah, dan mengeluarkan sebuah kunci dari dalamnya. Kunci kecil seperti kunci rumah. Berwarna emas, dengan ukuran 5 cm. Kunci itu terukir dengan rapi, tapi, ada sesuatu yang menjanggal.


Tampak ada yang berbeda dari kunci lainnya, karena beberapa sisi kecil dari ujung atas kunci terpotong.


“Wah, kau benar. Ternyata itu disana,” seru Emir.


“Ini tidak lengkap,” ucap Zaid memandangi kunci.


“Tidak lengkap? Apa maksudmu?”


“Ah, kau benar. Kita membutuhkan dua Patung Budha lagi untuk membentuk satu sebuah kunci yang utuh.”


“Potongan kunci tersebar, dibagi ke dalam tiga Patung Budha,” sahut Zaid.


“Kira-kira, apa yang bisa kau buka dengan kita mengumpulkan ketiga bagian kunci ini?”


“Yang pasti, itu adalah sesuatu yang sangat penting dan siapapun tak boleh membuka itu.” Zaid masih memegang dan melihat setiap detail kunci tersebut.

__ADS_1


“Wah, kita perlu kedua potongan kunci lainnya untuk mengetahui apa itu.” Baiklah, kau bisa mengamankan kunci itu. Simpan di tempat yang aman.”


Zaid mengangguk. “Lantas, bagaimana dengan lokasi Patung Budha kedua? Apa atasanmu sudah memberitahu lokasinya?”


“Tentu. Patung kedua berada di Indonesia, tepatnya di keluarga kerajaan. Terletak di sebuah pulau indah bernama Dewata, Bali di dalam sebuah pure,” jelas Emir.


“Wah!!!! Aku bahkan sudah bisa membayangkan, betapa indahnya negara tropis.” Zaid menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menarik nafas sedalam-dalamnya. Seolah dia dapat merasakan udara di Indonesia.


“Kami sedang membuat rencana, jadi, kau harus bersabar dulu.”


“Hmm, baiklah. Aku juga akan segera melepaskan identitasku sebagai pengawal.”


“Ya, terserah kau saja. Aku tahu kau juga sudah muak menjadi pengawal.”


“Letnan Kolonel Zaid. Pemimpin pasukan militer yang gagah dan memiliki jiwa pembunuh berdarah dingin yang menembak jidat kepala perompak di Sudan, kini harus menjadi seorang pengawal.”


“Hahahaha. Lihatlah dirimu. Kau bagaikan singa yang tak memiliki taring lagi.”


Emir terkekeh. Menertawakan Zaid.

__ADS_1


__ADS_2