TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 114


__ADS_3

“Itadakimasu.” ucap seorang pelayan ramah.


Zaid membalasnya dengan bahasa Jepang juga yang Yohan pun tak tahu artinya itu.


“Astaga, rupanya kau juga dapat berbicara bahasa Jepang.”


“Tak begitu banyak. Hanya sedikit saja. Aku hanya ingat apa yang diucapkan orang Jepang saat para pelayan memberikan hidangan ke meja mereka.”


Setengah jam berlalu. Zaid dan Yohan menikmati sarapan pagi dengan lezatnya hidangan Jepang.


Para pengunjung pun juga semakin ramai berdatangan. Para pelayan juga sigap menulis dan mengantar pesanan, juga para koki yang sibuk memasak di dapurnya.


Hingga sarapan pagi yang indah itu harus berantakan, hanya karena Yohan mendapatkan kabar buruk.


Ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Anna.


“Apa? Perampok?” Yohan tercengang mendengar kabar dari Anna.


Anna memberi kabar bahwa apartemen tempat tinggalnya telah dibobol seseorang.


Yohan dan Zaid pun bergegas pergi ke apartemen tempat Anna. Meninggalkan sarapan pagi yang nikmat itu.


Sialnya, Ziad jugalah yang harus membayar semua menu pagi itu. Lagi-lagi Yohan beralasan karena dompetnya tertinggal di rumah.

__ADS_1


Zaid pun sudah emosi, tapi, dia harus tetap bersikap wajar untuk itu.


***


30 menit berlalu. Zaid dan Yohan pun sampai di depan apartemen Anna.


“Astaga, apa-apaan ini? Rampok di siang bolong seperti ini? Sulit dipercaya.”


Yohan langsung beranjak menuju apartemen Anna usai turun dari mobil.


Semeantara Zaid. Dia masih berdiri di depan apartemen, dan melihat sekelilingnya.


Di seberan jalan sana. Sebuah mobil suv berwarna hitam terparkir. Mata Zaid fokus melihat mobil itu. Firasatnya berkata bahwa mobil itu ada sangkut pautnya dengan perampokan di rumah Anna.


“Hei, Nak! Apa yang kau lakukan disana? Ayo cepat naik,” panggil Yohan yang sudah di lantai 2.”


Zaid pun segera menaiki tangga menuju apartemen Anna. Mengabaikan mobil suv hitam itu.


Keadaan apartemen Anna seperti kapal pecah saat itu. Pecahan kaca berserakan di lantai, beberapa perabot yang patah dan rusak, semua pakaian Anna yang kini telah keluar dari dalam lemarinya.


Benar-benar sangat kacau.


Tak salah lagi. Itu adalah ulah pria misterius yang juga mengincar gelang yang dimiliki oleh Yohan. Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan Zaid.

__ADS_1


“Astaga, kenapa bisa berantakan begini?”


“Entahlah, Ayah. Aku juga tak tahu. Sepertinya kita telah dirampok,” jawab Anna. “Omong-omong, kenapa kau bisa bersama Pengawal Zaid?”


Yohan celingukan, bingung menjawab.


“Saat di jalan, aku bertemu dengan ayahmu, dan dia memberitahuku bahwa apartemenmu sedang dirampok, jadi, aku memberinya tumpangan kemari,” jelas Zaid.


“Ah, begitu rupanya.” Anna menunduk lesu. Seluruh rumahnya berantakan dan hancur, padahal, hanya ditinggalkannya sebentar saja.


“Apa kau melihat ada yang mencurigakan saat kau kembali kemari?” tanya Zaid


Anna menggeleng. “Aku tak tahu. Aku datang sudah seperti ini.”


“Anna, dengarkan Ayah, Nak. Dimana gelang itu? Periksalah gelang itu. Pastikan cincin itu tidak hilang.” Yohan menggebu-gebu malah bertanya soal cincin pada Anna yang sedang sedih.


“Gelang katamu? Jangan-jangan, apa ayah yang melakukan semua ini hanya karena mencari gelang itu?”


“Astaga, kenapa kau balik menuduh ayah. Bagaimana mungkin ayah melakukannya, sementara ayah bertemu dengan Pengawal Zaid saat di jalan tadi.”


Anna mendengus kesal.


“Pokoknya, kau harus mencari gelang itu sekarang juga, Nak.”

__ADS_1


“Ayah!!! Berhentilah membual tentang gelang itu!” bentak Anna. “Gelang itu tak ada disini. Aku menyimpannya di tempat lain.”


__ADS_2