
“Apa saja yang kau lakukan sebagai Manajer artis? Saat Can masih bergabung dengan YB Entertainment, dibawah naungan Produser Nick. Dia memang sering terlambat, tapi, tidak separah ini.”
“Apa-apaan ini? Dia membatalkan syuting begitu saja. Apa kau tak bisa lebih tegas lagi padanya? Astaga, aku lupa jika kau hanya penggemarnya yang diangkat menjadi manajer. Kau sungguh tak profesional.”
“Akan tetapi tetap saja, Pak Sutradara. Itu sangat kelewatan. Kau tak boleh memarahinya seperti itu.”
“Artismu yang sudah kelewatan, bukan aku! Bisa-bisanya kau bilang jika aku kelewatan. Menurutmu, berapa kali aku membuang waktu hanya untuk ini, hah? Apa kau pikir aku tak bisa marah?”
Saat Pak Produser akan memukul Anna dengan gulungan teks naskah dialog, Zaid lebih dulu datang dan menahan tangannya, sebelum gulungan kertas mengenai tubuh Anna.
“Tenanglah, Tuan.”
“Siapa kau?”
“Namaku Zaid. Aku adalah pengawal pribadi Can Yaman, dan bertugas melindungi semua krunya.” Zaid tetap memegang tangan Pak Sutradara, dan mengambil gululungan kertas naskan yang ada di tangannya.
“Aduh!” Pak Sutradara kesakitan saat dia akan melepaskan tangannya dari tangan Zaid, karena Zaid sedikit memelintir tangannya ke belakang.
__ADS_1
Meski Pak Sutradara memiliki tubuh tinggi gempal. Tenaganya tak cukup mampu menandingi Zaid.
Semua orang yang ada di lokasi syuting pun menyaksikannya. Saling bergunjing dan berbincang dengan kawan disebelahnya.
“Baiklah, aku mengerti. Kau seorang pengawal, tapi, ini bukan urusanmu, jadi, jangan ikut campur, dan lepaskan tanganku.”
Zaid tetap tak melepasnya. Dia terus menahan tangan Pak Sutradara dengan sedikit memelintirnya ke belakang.
“Cukup, Pengawal Zaid. Lepaskan tangannya. Aku akan berbicara baik-baik dengannya.” Anna menengahi.
Zaid menatap Pak Sutradara tajam. “Kau tak boleh melakukan kekerasan lagi. Baik kekerasan verbal maupun fisik, apapun itu alasanmu.”
Akhirnya Zaid melepaskan tangannya. Pak Sutradara memegangi tangan kanannya, menggerak-gerakkannya. Raut wajahnya ketus karena merasa terintimidasi oleh Zaid.
“Ah, sial! Segera saja panggil majikanmu sana.”
“Tentu.” Zaid mengembalikan gulungan kertas naskah. “Aku akan memanggil Tuan Can kemari.” Dia membungkuk, lalu pergi menuju ruang rias. Sembari Anna berbicara dengan Pak Sutradara.
__ADS_1
Setelah sedikit pertikaian yang terjadi, akhirnya syuting pun dapat dilakukan dengan lancar.
Di sela-sela syuting berlangsung. Zaid kembali mencoba untuk mendekati Anna.
Pagi menjelang siang hari itu masih sangat dingin. Jika seseorang menghembuskan nafasnya lewat mulut saja, maka akan terbentuk asap yang keluar dari mulutnya.
Zaid membawa dua gelas plastik berisi kopi hangat. Berjalan menghampiri Anna yang sedang duduk menyendiri di stand artis.
Anna menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menghilangkan dingin yang cukup menusuk tulang.
Tanpa berbicara apapun, Zaid langsung menyodorkan satu gelas kopi padanya. Zaid pun duduk di kursi sebelah Anna, dan tetap menjaga jarak sejauh satu meter.
“Can telah kembali dan melakukan syuting seperti sedia kala. Kau tak perlu khawatir. Karena syuting hari ini cukup telat, mungkin syuting akan selesai pada sore hari.”
“Sepertinya kau sudah mulai nyaman bekerja menjadi pengawal.” Anna menyeruput kopi yang diberikan Zaid. “Wah, ini sungguh nikmat.”
“Aku membeli kopi ini dari Toko Kopi Mergan. Biji kopinya telah dipanggang tiga hari lalu. Persis seperti kesukaan Can,” jelas Zaid.
__ADS_1
“Wah, sungguh? Tak kusangka kau akan pergi ke sana hanya untuk membeli ini. Kurasa juga begitu, menurutku kopi dari Toko Kopi Mergan adalah kopi yang terbaik. Pahit dan manisnya sangat pas di lidahku.”