
Dia harus segera kembali dari rumah Anna, dan juga tak berhasil membujuk Anna untuk berkencan dengannya malam itu.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau tak suka dengan makanan ini? Apa kau ingin makan malam dengan lilin romantis, dan ditemani oleh seorang wanita?”
“Wanita seperti apa yang kau inginkan Pengawal Zaid? Apa Manajer Anna adalah wanita tipemu?”
Suasana lengang sejenak. Zaid tak menyangka jika Can mulai menyadari apa yang telah dilakukannya diam-diam. “Sial! Ternyata dia mengajakku kemari hanya untuk menanyakan hal itu,” gumamnya.
“Wah, itu Death Devil, Dewa Kematian. Yang terjahat di muka bumi ini.”
Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri meja tempat Can dan Zaid. Bocah itu berseru dan menirukan gaya Can saat syuting di salah satu film yang mendapatkan rating tinggi.
Persis sama seperti Victor yang menirukan gaya Can saat mereka berdua bertemu.
Bocah laki-laki setinggi 100 cm. Sepertinya bocah berusia 5 atau 6 tahunan.
Bocah itu membawa sebuah mainan pedang-pedangan. Mengacung-ngacungkannya pada Can dan Zaid. “Paman, kau Death Devil itu, bukan?”
Can tersenyum. Bangkit dari tempat duduknya. Menghampiri bocah itu, lalu melakukan aktingnya seperti saat syuting. “Itu benar, Nak. Akulah Death Devil, Sang Dewa Kematian. Yang terjahat di muka bumi ini.”
“Wah, itu benar dirimu ternyata. Kau sungguh hebat, Paman. Aku selalu menonton aksimu di film.” Bocah itu berseru gembira. Ternyata penggemar Can tak hanya dari kalangan wanita saja.
__ADS_1
“Hmm, benarkah?” Can mentoel pipi chubby bocah itu. “Pengawal Zaid, ambilkan aku kertas dan pulpen.”
Zadi segera memberikan kertas dan pulpen pada Can.
‘Baiklah, Nak. Aku akan memberikan tanda tangan untukmu. Siapa namamu?”
“William.”
“William? Astaga, nama yang bagus.” Can menulis nama bocah, lalu memberikan tanda tangan di atasnya.
“Omong-omong, apa aku juga boleh berfoto denganmu, Paman? Aku ingin menunjukkan foto kita pada temanku di sekolah. Dia juga sangat menyukaimu.”
“Rupanya kau ingin pamer kepada temanmu. Tentu saja boleh. Kau bisa pamer besok saat kau masuk ke sekolah.”
“Mendekatlah kemari, Nak. Dan tersenyumlah yang lebar.” Can merangkul bocah itu.
Ckrek ckrek ckrek ckrek!!!i Zaid mengambil foto sebanyak 3 kali.
“Sudahkah, Pengawal Zaid?”
Zaid mengangguk. Memberikan kembali kamera kecil itu.
__ADS_1
“Terimakasih, Paman.”
“Sama-sama, Nak.” Can mengelus rambutnya. “Dimana ibumu? Apa kau sendirian?”
“Ah, itu dia! Ibu, aku bertemu Death Devil, Dewa Kematian.” Bocah itu berlari pada ibunya yang tengah menghampirinya.
Dan bertapa dibuat terkejutnya Can, saat mengetahui bahwa Rose lah ibu dari bocah laki-laki itu.
“Sudah ibu bilang padamu. Jangan berkeliaran di restoran ini sendirian, Nak.” Rose menggandeng tangan anaknya.
“Maafkan anakku, Tuan-tuan,” ucap Rose. Sedikit menunduk pada Can juga Zaid.
“Tak apa. Memang seperti itulah anak-anak. Dunia mereka masih berlari dan juga bermain.,” timpal Can. “Sepertinya, anakmu tumbuh dengan baik.”
“Tentu, terimakasih atas pujiannya.”
Suasana semakin canggung dan awkward. Can harus bertemu mantan kekasihnya yang rupanya telah memiliki anak itu.
“Ayo kita pergi, Nak.” Rose merangkul anaknya, lalu pergi dari restoran.
Diam-diam William menoleh pada Can, tersenyum dan melambaikan tangannya. Can membalasnya dengan mengacungkan jempol pada bocah itu.
__ADS_1
Suasana kembali lengang. Can masih meratapi kepergian Rose dan anak itu. Masa lalunya kembali datang, lalu menghajarnya habis-habisan.