TRAGEDI 13 AGUSTUS '98

TRAGEDI 13 AGUSTUS '98
BAGIAN 038


__ADS_3

“Wah, terimakasih, Pengawal Zaid.” Can menepuk-nepuk bahu Zaid.


Dia melihat potongan paha yang masih dipegangnya. Saat akan melahap, Zaid lebih dulu mengambil potongan ayam goreng, lalu menggeleng. Tidak! Can tak boleh memakan ayam goreng itu.


“Astaga, ayolah. Hanya satu gigitan saja. Itu masih cukup hangat. Tak enak jika aku memakannya dalam keadaan dingin.” Can memohon.


Tidak! Zaid tetap menggeleng.


“Ah, sial!” brakk!!!!


Can tak sengaja menjatuhkan tumpukan barang yang membuat posisi mereka terlihat Anna yang saat itu melintas di depan gang, tempat mereka berada.


“Wah, wah, wah, wah.” Anna menggelengkan kepala. Menatap kedua pria dewasa itu. “Apa yang kalian lakukan disana dengan paha ayam itu?”


Anna berjalan mendekat dengan sedikit pincang.


Can memalingkan pandangan mencari alasan. “Ada apa dengan kakimu? Apa kau sakit?” Mengambil tatakan tinggi dari tumpukan barang. Menyuruh Anna duduk dahulu. Pintar sekali dia mencari kesempatan.


“Kemari dan duduklah.” Menyelonjorkan kaki Anna. Membuka sepatu kaki kiri, melihat bagian yang sakit. Berpura-pura memijiat. “Dimana bagian yang sakit?”


“Tidak. Aku tak apa. Kakiku baik-baik saja.” Wajah Anna kembali memerah merona karena salah tingkah melihat Can yang sangat peduli dengannya. Dia tak jadi memarahi Can hanya karena hal itu.

__ADS_1


“Berhentilah membual. Kau berjalan dengan pincang, karena kakimu terkilir saat mengejarku. Bagaimana kau bisa terluka? Seharusnya kau lebih berhati-hati.”


“Ah, ini semua karena salahku. Tubuhmu terlalu pendek dan kurus untuk terluka seperti ini.”


Wajah Anna semakin memerah lagi. Dia benar-benar dibuat tak berdaya dengan perlakuan Can yang langsung memijit pergelangan kakinya.


Sementara Zaid hanya berdiam diri menyandar di tembok. Melihat adegan dramatis bak seperti dalam cerita novel.


“Mari kita ke rumah sakit,” ucap Can. “Pengawal Zaid, segera hubungi ambulans. Kita akan pergi ke rumah sakit secepatnya.”


“Baik, Tuan.”


“Lihat ini? Aku baik-baik saja, kan?” Bergaya jalan ditempat dan berlari, tapi, Anna meringis menahan kesakitan di kakinya..


“Kau memang keras kepala. Kau bilang tak saki? Bahkan wajahmu saja mengatakan bahwa kau sedang kesakitan.” Can berdiri membungkuk di depan Anna. Bersiap untuk menggendongnya.


“Kemari, dan naiklah. Aku tak bisa membiarkanmu berjalan dengan kaki terkilir seperti itu.”


“Sungguh aku tak apa, Kak.”


“Tutup mulutmu, dan naik saja ke pundakku.”

__ADS_1


Akhirnya Anna pun merangkul pundak Can dari belakang.


“Baiklah. Mari kita pergi dari sini. Aku akan menggendongmu dan kekmbali ke rumah.” Can seperti seorang kakak yang menggendong adik perempuannya malam itu.


Dan lagi-lagi Zaid hanya mematung melihatnya. Sial! Dia sangat jenuh dan muak dengan semua hal tentang itu.


Baginya, lebih baik menjalani misi yang menantang, daripada harus bertele-tele dahulu seperti itu.


Menggigit potongan paha yang berada di tangannya, lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Karena gang itu tak jauh dari markas barunya, Zaid pun berjalan kaki. Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai.


Sesampainya di markas, dia bergegas mandi, mengganti pakaian yang sudah dipakainya sejak pagi.


Setengah jam dia membersihkan diri, dan kini waktunya untuk bersantai dari hari yang membosankan itu.


Satu monitor diambilnya, mendownload sebuah game online, lalu memainkannya sendirian. Hingga larut dalam permainan itu.


“Wah, bukankah itu Maze War? Astaga, tak kusangka kau juga pandai memainkannya.” Emir yang saat itu baru datang pun menghampiri Zaid. Berdiri di belakang, dan melihat keseruannya.


Zaid hanya diam berfokus menatap layar monitor.

__ADS_1


__ADS_2